Application Name Application Name

Patokan

Kategori 9

NEW DELHI — Prabowo Tegaskan Indonesia Menolak Didikte di KTT BRICS 2026

NEW DELHI — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan ketegasan sikap politik luar negeri Indonesia saat menghadiri Konferensi Tingkat Ti

NEW DELHI — Prabowo Tegaskan Indonesia Menolak Didikte di KTT BRICS 2026

NEW DELHI — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan ketegasan sikap politik luar negeri Indonesia saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, Sabtu (12/9/2026). Dalam forum bernilai strategis tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah bersedia didikte atau ditekan oleh kekuatan global mana pun dalam menentukan arah kebijakan nasional maupun diplomasi internasionalnya.

Kehadiran Kepala Negara pada forum multilateral ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terdepan yang konsisten mengusung prinsip independensi dan kesetaraan antar-bangsa. Presiden Prabowo hadir secara langsung memimpin delegasi Indonesia pada Sesi Terbatas bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism", di mana para pemimpin dunia berkumpul untuk merumuskan tata kelola global yang lebih adil, responsif, dan inklusif.

Kronologi Pertemuan Presiden Prabowo di Bharat Mandapam

Pelaksanaan KTT BRICS 2026 di New Delhi menjadi panggung diplomasi krusial bagi Indonesia. Seluruh alur agenda diplomasi Presiden Prabowo Subianto selama menghadiri forum tinggi ini berlangsung padat dan terstruktur:

  1. Pukul 08.30 IST: Presiden Prabowo Subianto tiba di lokasi utama Bharat Mandapam, New Delhi, dan disambut secara resmi oleh Perdana Menteri India selaku tuan rumah penyelenggara KTT BRICS 2026.
  2. Pukul 09.15 IST: Sesi pembukaan resmi KTT BRICS 2026 dimulai, dilanjutkan dengan sesi foto bersama seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan anggota serta negara mitra.
  3. Pukul 10.30 IST: Presiden Prabowo menghadiri Sesi Terbatas bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism" dan menyampaikan pidato kunci mengenai kedaulatan bangsa serta desakan reformasi arsitektur keuangan dunia.
  4. Pukul 14.00 IST: Presiden mengelar serangkaian pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara BRICS untuk mendiskusikan kerja sama ekonomi, hilirisasi industri, serta ketahanan pangan dan energi nasional.

Tegasan Politik Bebas-Aktif dan Penolakan Hegemoni Asing

Di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS dan negara mitra, Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya menghormati kedaulatan setiap bangsa. Indonesia, tegas Presiden, senantiasa berpegang teguh pada doktrin politik luar negeri bebas dan aktif yang telah dirintis para pendiri bangsa sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.

"Indonesia memilih jalur independen. Kami bersahabat dengan semua negara dan menghormati seluruh kekuatan dunia, namun kami tidak akan pernah membiarkan masa depan bangsa ini didikte oleh kepentingan kekuatan luar. Multilateralisme sejati hanya dapat terwujud jika ada rasa saling menghormati dan kedaulatan yang setara," tegas Presiden Prabowo Subianto di forum tersebut.

Penekanan ini dinilai para pengamat internasional sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia menolak terjerat dalam polarisasi geopolitik antara blok-blok kekuatan besar. Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan (win-win solution), terutama dalam konteks investasi hilirisasi sumber daya alam, ketahanan pangan, dan perbaikan rantai pasok global tanpa intervensi yang merugikan kepentingan nasional.

Reformasi Tata Kelola Global dan Urutan Kerja Sama Strategis

Selain menyoroti kedaulatan politik, Presiden Prabowo menyampaikan sejumlah rekomendasi konkret untuk merombak tata kelola global yang dinilai sudah tidak relevan dengan dinamika abad ke-21. Lembaga-lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), dan World Bank didesak untuk memberikan porsi representasi yang lebih adil bagi negara-negara berkembang (Global South).

Indonesia mengajukan tiga pilar utama reformasi multilateral yang harus diperjuangkan secara kolektif oleh forum BRICS:

  • Kesetaraan Hak Ekonomi: Menghapus praktik proteksionisme terselubung dari negara-negara maju yang menghambat program hilirisasi dan industrialisasi di negara berkembang.
  • Demokratisasi Lembaga Keuangan Global: Mendorong arsitektur keuangan dunia yang lebih ramah terhadap negara berkembang tanpa jebakan utang maupun restriksi politik yang memberatkan.
  • Penguatan Tanggap Krisis Global: Menyusun mekanisme kolaborasi yang tangguh dalam menghadapi ancaman krisis pangan, perubahan iklim, serta transisi energi bersih yang berkeadilan.

Kehadiran Indonesia dalam KTT BRICS 2026 ini kian menegaskan peran kepemimpinan Indonesia di panggung internasional. Langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto di New Delhi diharapkan mampu membawa dampak positif nyata bagi perekonomian nasional sekaligus memperkuat bargaining position negara-negara berkembang di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer6
TENTANG PENULIS writer6

Bacaan Terkait

Comments (0)

User