Mendikdasmen Imbau Siswa Lombok Stop Sleep Call Selama MPLS
Mataram — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti melakukan kunjungan kerja ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Rabu
Mataram — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti melakukan kunjungan kerja ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Rabu (26/11/2025). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memantau langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang serentak digelar di seluruh satuan pendidikan Indonesia. Dalam kesempatan itu, Abdul Mu'ti menyampaikan pesan penting kepada para siswa terkait pola tidur sehat, khususnya imbauan untuk menghentikan kebiasaan sleep call yang tengah marak di kalangan pelajar.
Kunjungan Pemantauan MPLS di Lombok
Abdul Mu'ti meninjau sejumlah sekolah menengah pertama dan menengah atas di Lombok untuk memastikan bahwa MPLS tahun ajaran baru berjalan sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah sendiri merupakan program orientasi bagi peserta didik baru yang bertujuan memperkenalkan ekosistem sekolah, nilai-nilai karakter, serta budaya belajar positif.
Dalam kunjungannya, Mendikdasmen tidak hanya berfokus pada aspek administratif dan kurikuler, melainkan juga menyoroti kesejahteraan psikologis peserta didik. Ia menekankan bahwa kualitas tidur merupakan fondasi penting bagi kesiapan belajar siswa.
"Tidur yang cukup dan berkualitas adalah investasi jangka panjang bagi prestasi akademik. Jangan sampai waktu istirahat kalian terganggu oleh kebiasaan yang sebenarnya bisa dihindari," ujar Abdul Mu'ti saat berdialog dengan para siswa di salah satu sekolah di Mataram.
Imbauan Stop Sleep Call Demi Kualitas Tidur
Fenomena sleep call, yaitu kebiasaan menelepon atau melakukan panggilan video dengan teman atau pasangan hingga terlelap tidur, menjadi perhatian serius Mendikdasmen. Ia menilai bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar Tren komunikasi modern, melainkan telah berkembang menjadi gangguan tidur yang sistematis di kalangan remaja. Berdasarkan berbagai studi kesehatan, kualitas tidur yang terganggu secara konsisten dapat menurunkan konsentrasi, melemahkan daya ingat, serta meningkatkan risiko gangguan mental.
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa durasi tidur ideal bagi pelajar usia sekolah menengah adalah antara delapan hingga sepuluh jam per hari. Ketika waktu tidur terpotong karena aktivitas panggilan hingga larut malam, maka proses recovery otak dan tubuh menjadi tidak optimal. "Kualitas tidur yang buruk akan berdampak langsung pada kemampuan berpikir, suasana hati, dan motivasi belajar di kelas," tegasnya.
Respons Sekolah dan Orang Tua
Sejumlah kepala sekolah yang mendampingi kunjungan Mendikdasmen menyambut baik imbauan tersebut. Mereka mengakui bahwa fenomena sleep call telah menjadi tantangan tersendiri dalam mendampingi siswa, terutama di era digital ketika akses terhadap perangkat komunikasi begitu mudah. Beberapa sekolah bahkan telah menyusun modul MPLS yang secara eksplisit memasukkan edukasi tentang literasi digital dan manajemen waktu layar sebagai bagian dari orientasi peserta didik baru.
Orang tua siswa yang hadir dalam kegiatan tersebut juga menyatakan dukungan terhadap pesan Mendikdasmen. Mereka berharap pihak sekolah dapat berkolaborasi lebih erat dengan keluarga untuk mengawasi pola penggunaan gadget oleh anak-anak, khususnya pada malam hari. Komunikasi terbuka antara orang tua, sekolah, dan siswa menjadi kunci dalam membangun ekosistem belajar yang sehat, demikian salah satu pernyataan yang mengemuka dalam dialog tersebut.
Konteks Lebih Luas: Kesehatan Mental dan Prestasi Belajar
Pesan Mendikdasmen tentang pentingnya tidur sehat bukan merupakan wacana baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Berbagai penelitian internasional telah menunjukkan korelasi erat antara kualitas tidur dengan capaian akademik. Siswa yang memiliki pola tidur teratur cenderung menunjukkan performa lebih baik dalam ujian, memiliki tingkat absensi lebih rendah, serta lebih resilien terhadap tekanan psikologis.
Di sisi lain, kebiasaan sleep call juga menyimpan risiko sosial, seperti keterikatan emosional berlebihan, kecanduan validasi digital, serta potensi paparan konten yang tidak sesuai usia. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif yang melibatkan aspek regulasi sekolah, edukasi keluarga, serta literasi digital siswa menjadi sangat relevan dalam menjawab tantangan ini.
Harapan untuk MPLS yang Berkualitas
Abdul Mu'ti menutup kunjungannya dengan harapan besar terhadap pelaksanaan MPLS di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah NTB. Ia menegaskan bahwa orientasi sekolah bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum strategis untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi penerus bangsa. "MPLS adalah gerbang awal perjalanan pendidikan anak-anak kita. Pastikan gerbang itu terbuka dengan cara yang sehat, aman, dan inspiratif," pungkasnya.
Dengan kunjungan langsung ke daerah, Mendikdasmen ingin menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan tidak terpusat di Jakarta semata, melainkan merata hingga ke pelosok nusantara. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia dimulai dari kebiasaan harian yang sederhana, termasuk bagaimana siswa mengelola waktu tidurnya.
[SOCIAL_TWEET]: Mendikdasmen Abdul Mu'ti imbau siswa Lombok hentikan kebiasaan sleep call demi kualitas tidur. Tidur cukup = prestasi optimal! #MPLS2025 #PendidikanIndonesia #SleepCall[SOCIAL_TG]: 🛌📵 Stop sleep call, Mendikdasmen bilang! Siswa Lombok diminta jaga kualitas tidur selama MPLS. Yuk, baca selengkapnya! 👇
Comments (0)