Megawati Soekarnoputri Resmikan Monumen Kudatuli di Menteng

JAKARTA – Sabtu pagi yang cerah menjadi saksi bisu peresmian sebuah monumen bersejarah di jantung ibu kota. Di halaman Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, ratusan kader berpakaian merah berkumpul. Me...

Jul 28, 2026 - 00:03
0 0
Megawati Soekarnoputri Resmikan Monumen Kudatuli di Menteng

JAKARTA – Sabtu pagi yang cerah menjadi saksi bisu peresmian sebuah monumen bersejarah di jantung ibu kota. Di halaman Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, ratusan kader berpakaian merah berkumpul. Mereka menanti momen penting: Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan meresmikan monumen peringatan peristiwa Kudatuli, tragedi yang mengukir jalan panjang perjuangan partai.

Detik-detik Peresmian

Acara dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Megawati tiba dengan didampingi sejumlah petinggi partai. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, ia bersama jajaran pengurus menuju lokasi monumen yang masih tertutup kain merah. Ketukan palu yang mengiringi penarikan kain menjadi simbol dibukanya lembaran baru. Sorak sorai dan tepuk tangan membahana begitu monumen itu terlihat jelas. Megawati kemudian meletakkan karangan bunga dan menundukkan kepala sejenak, mengheningkan cipta untuk para korban.

Dalam sambutannya, Megawati menyampaikan bahwa monumen ini bukan sekadar tugu peringatan biasa. Ia merupakan lambang dari tekad perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Suaranya bergetar saat menyinggung peristiwa 27 Juli 1996, yang menurutnya adalah hari di mana demokrasi di negeri ini benar-benar diuji. "Kita tidak boleh melupakan apa yang terjadi di sini," tegasnya, seraya menunjuk bangunan di belakangnya yang menjadi saksi bisu penyerangan brutal puluhan tahun silam.

Kilas Balik Kelam Kudatuli

Peristiwa Kudatuli merujuk pada kerusuhan yang meletus pada 27 Juli 1996 di markas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang saat itu dipimpin Megawati. Saat itu, rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mendukung faksi saingan yang ingin menjatuhkan Megawati. Massa yang diduga dibayar menyerbu kantor PDI di Jalan Diponegoro 58, memicu bentrokan yang menelan korban jiwa dan luka-luka. Ribuan pendukung Megawati yang bertahan di dalam gedung dianiaya, dan sejumlah aktivis hilang hingga kini. Peristiwa itu menjadi titik balik yang melahirkan solidaritas luas dan kemudian memperkuat kelahiran PDI Perjuangan.

Bagi kader PDIP, Kudatuli bukanlah sekadar catatan kelam, melainkan api suci yang terus menyala. Monumen ini, yang didirikan setelah hampir tiga dekade, menjadi penanda bahwa partai tidak akan pernah membiarkan sejarah itu pudar. Di sekeliling monumen tertera nama-nama para pejuang yang gugur, termasuk nama-nama seperti Koeswandi dan kawan-kawan yang menjadi martir reformasi.

Arsitektur yang Bercerita

Monumen ini memiliki desain unik yang memadukan unsur modern dan tradisional. Terbuat dari perunggu dan granit, bentuknya menjulang sekitar lima meter. Di bagian puncak terdapat patung sepasang tangan yang mengangkat obor menyala—melambangkan semangat yang tidak kunjung padam. Di bagian tengah, relief menggambarkan adegan pertahanan gedung, di mana para kader bergandengan tangan menghadang laju kekerasan. Pada pelataran bawah, diukir teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai penegasan bahwa perjuangan itu berada dalam koridor konstitusi.

Sang perancang, yang merupakan seniman nasional, mengatakan bahwa monumen ini dirancang untuk menjadi 'jejak abadi' yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap garis dan lekukan memiliki makna filosofis: batu granit hitam melambangkan kedukaan yang mendalam, sedangkan obor emas di puncak merepresentasikan harapan yang terus menyala.

Kehadiran Tokoh dan Saksi Sejarah

Peresmian ini dihadiri oleh hampir seluruh elite PDIP. Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Puan Maharani, serta para menteri dari PDIP seperti Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menteri Sosial Tri Rismaharini turut hadir. Tampak pula sejumlah saksi hidup peristiwa Kudatuli, yang kini telah berusia lanjut. Beberapa di antaranya tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kembali detik-detik mengerikan itu.

Hasto dalam orasinya menyebut monumen ini sebagai 'imaji of struggle' (simbol perjuangan) yang akan menjadi pengingat bagi generasi muda tentang mahalnya harga demokrasi. Ia juga menegaskan bahwa PDIP tidak akan pernah berkompromi dengan segala bentuk otoritarianisme.

Pesan untuk Masa Depan

Megawati, yang kerap tampil tegas, berbicara panjang lebar tentang pentingnya mewariskan nilai-nilai Kudatuli kepada generasi penerus. Ia meminta agar seluruh kader, terutama yang muda, memahami sejarah partai secara utuh. "Jangan sampai adik-adik hanya tahu PDIP dari media sosial tanpa mengerti pahit getirnya perjalanan kami," ujarnya. Monumen ini diharapkan menjadi pusat edukasi politik yang membuka mata tentang risiko perpecahan dan pentingnya persatuan.

Di akhir acara, para hadirin diajak menyanyikan lagu 'Halo-Halo Bandung' yang diubah liriknya menjadi 'Halo-Halo Kudatuli', sebuah tradisi dalam setiap peringatan Kudatuli. Suasana berubah menjadi penuh semangat, seolah monumen itu tidak hanya menghadirkan kenangan duka, tetapi juga gelora untuk terus maju.

Dengan berdirinya monumen ini, PDIP seakan menegaskan bahwa sejarah tidak bisa dibeli apalagi dihapus. Bagi mereka, Kudatuli adalah sumber legitimasi moral yang tak tergantikan. Dan monumen itu kini berdiri kokoh di Menteng, siap menyapa setiap pejalan sebagai pengingat bahwa di tempat inilah detak jantung demokrasi Indonesia pernah bertarung hidup-mati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User