Megawati Resmikan Monumen Kudatuli, Prananda Turut Mendampingi

Jakarta, 27 Juli 2026 – Siluet pagi di Jalan Diponegoro nomor 58, Jakarta Pusat, seketika berubah sakral. Di halaman depan kantor pusat PDI Perjuangan, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri meresmikan s...

Jul 28, 2026 - 10:34
0 0
Megawati Resmikan Monumen Kudatuli, Prananda Turut Mendampingi

Jakarta, 27 Juli 2026 – Siluet pagi di Jalan Diponegoro nomor 58, Jakarta Pusat, seketika berubah sakral. Di halaman depan kantor pusat PDI Perjuangan, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri meresmikan sebuah monumen yang diam-diam dirancang selama lebih dari setahun terakhir. Tidak sendiri, ia menggandeng putranya, Prananda Prabowo, yang berdiri tenang di sisi kanannya saat tirai putih panjang jatuh dan memperlihatkan wujud tugu peringatan yang kelak akan menjadi saksi bisu perjalanan partai. Tepat di bawah langit yang sama yang pernah menyaksikan salah satu luka terdalam perjalanan demokrasi Indonesia, monumen Kudatuli itu akhirnya berdiri.

Tangga peringkat acara itu tidak bisa dilepaskan dari angka keramat: 30 tahun. Tiga dekade silam, pada 27 Juli 1996, kantor yang dulu masih bernama PDI Pusat itu diserbu massa bayaran yang didukung aparat. Hari itu dikenang sebagai Sabtu Kelabu, sebuah episode represi yang tidak hanya merenggut kemanusiaan, tetapi juga mencoba membungkam suara kritis Megawati yang waktu itu tengah dijegal lewat kongres ilegal di Medan. Penyerangan brutal itu meninggalkan jejak asam di ingatan para kader, dengan korban luka berat, penghilangan paksa, dan trauma yang merambat ke generasi selanjutnya.

Simbol Abadi dari Luka Sejarah

Monumen yang diresmikan hari ini bukan sekadar estetika taman partai. Terbuat dari perunggu dan granit hitam pekat, strukturnya menjulang sekitar delapan meter dengan lekukan abstrak yang menggambarkan kepalan tangan mengepal obor. Api imajiner yang tak pernah padam. Di kaki monumen, lempeng marmer mengukir nama-nama para aktivis yang menjadi korban, baik yang gugur maupun yang hilang tanpa jejak. Sebuah aliran air tenang melingkari dasarnya, metafora bagi ingatan yang terus mengalir meski waktu berganti.

Prananda, yang jarang muncul di panggung publik partai, tampak khidmat sepanjang prosesi. Ia tidak banyak bicara, tetapi gesturnya berbicara banyak: sesekali memegang lengan ibunya, membantu saat Megawati merapikan selendang merah khas, dan berlama-lama menatap detail ukiran di monumen. Bagi banyak pengamat, kehadiran Prananda bukan sekadar pendampingan keluarga, melainkan kode simbolik bahwa estafet memori perjuangan sedang diserahkan perlahan ke generasi penerus partai.

“Bukan Batu, Melainkan Darah dan Air Mata”

Di mimbar sederhana beratap kain merah, Megawati menyampaikan pidato yang sesekali terputus oleh suaranya yang berat. “Monumen ini bukanlah batu dingin. Ia adalah endapan darah dan air mata para pejuang kita. Siapa pun yang melupakannya, mereka sedang melucuti jati diri partai ini,” ucapnya, disambut keheningan ribuan kader yang memadati halaman. Dengan nada yang lebih lirih, ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit—direbut di jalan dan di ruang-ruang pengap penuh intimidasi. Ia juga menyerukan kepada seluruh kader muda agar tidak hanya membaca sejarah, tetapi merasakannya sebagai denyut nadi perjuangan.

Ahmad Basarah, salah satu pimpinan pusat partai yang turut hadir, menambahkan bahwa monumen tersebut akan menjadi titik wajib ziarah bagi setiap kader baru. “Dari tempat ini, kami belajar bahwa kekuasaan tanpa nurani akan melahirkan tragedi. Setiap kader yang datang ke sini harus keluar dengan satu tekad: menjaga demokrasi ini hidup, meski harus melawan arus,” tegasnya saat ditemui selepas acara.

Ingatan yang Menolak Menua

Di antara kerumunan, beberapa penyintas tampak tak kuasa menahan air mata. Seorang pria paruh baya yang enggan disebut namanya menceritakan kembali malam mengerikan itu, ketika ia melompat dari lantai dua kantor untuk menyelamatkan diri. “Saya masih dengar suara kaca pecah dan teriakan. Dengan monumen ini, kami yang masih bernapas berjanji tidak akan membiarkan yang hilang itu hilang dua kali—hilang jasad dan hilang dari ingatan,” katanya lirih. Bagi mereka, tugu ini adalah rumah bagi memori yang tertolak oleh narasi masa lalu yang mencoba menghapusnya.

Monumen Kudatuli sekaligus menjadi penanda fisik di tengah kota yang berdenyut. Setiap pejalan kaki yang melewati Jalan Diponegoro kini akan berhadapan dengan seonggok struktur yang seolah berbisik: di sini, waktu pernah berhenti oleh kekejaman, tetapi juga di sini, kebenaran menolak untuk menyungkur. Partai memilih untuk tidak menyimpan monumen itu di sudut sunyi, melainkan di bagian paling depan, agar setiap orang yang masuk ke “rumah kebangsaan” itu langsung disambut oleh kebenaran yang menyakitkan sekaligus membanggakan.

Pesan untuk Masa Depan

Menjelang sore, Megawati dan Prananda menuntaskan prosesi dengan menaburkan bunga di sekeliling monumen. Ratusan kader mengikuti, menciptakan lahan kecil penuh warna yang semerbak dalam senja. Tidak ada gegap gempita. Yang tersisa hanyalah sunyi khusyuk dan janji yang membatu: bahwa pengalaman pahit Kudatuli akan terus diajarkan ke setiap sudut partai, melewati akar rumput hingga ke anak-anak muda yang lahir jauh setelah tahun 1996.

Dengan berdirinya monumen ini, peringatan 30 tahun Kudatuli tidak hanya berhenti pada seremoni, melainkan bertransformasi menjadi prasasti hidup. Ia menanti para pemimpin masa depan untuk datang, membaca, dan bertanya pada diri sendiri: akankah demokrasi ini tetap dijaga, atau justru digerogoti dari dalam? Sebuah pertanyaan yang, seperti monumen itu sendiri, akan bertahan melewati zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User