Lukisan Pendiri NU Jadi Daya Tarik Muktamar ke-35 di Jombang
Suasana religius dan artistik menyatu di kawasan Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, selama berlangsungnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah rangkaian agenda keagamaan yang padat, panitia ...
Suasana religius dan artistik menyatu di kawasan Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, selama berlangsungnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah rangkaian agenda keagamaan yang padat, panitia menghadirkan pameran lukisan yang menampilkan wajah para pendiri dan tokoh besar organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Keberadaan galeri rakyat ini menjadi salah satu titik yang paling banyak dikunjungi selain aula utama penyelenggaraan muktamar.
Pameran tersebut menampilkan belasan karya seni rupa yang mengabadikan sosok-sosok penting dalam sejarah NU, mulai dari para pendiri generasi awal hingga tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pengayom organisasi. Setiap kanvas digarap dengan gaya realis yang detail, menampilkan ekspresi wajah, busana khas santri, hingga latar belakang pesantren yang menjadi jejak perjalanan para tokoh tersebut.
Ruang Kenangan dalam Bentuk Kanvas
Panitia menyebut pameran ini dirancang sebagai ruang perenungan, bukan sekadar pelengkap acara. Melalui goresan cat dan komposisi warna, pengunjung diajak menelusuri kembali perjuangan para pendiri NU yang mendirikan organisasi itu pada tahun 1926. Nilai-nilai perjuangan yang mereka tinggalkan dipandang tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi santri masa kini.
Salah satu pengelola pameran menjelaskan bahwa keputusan menghadirkan seni lukis dalam muktamar merupakan bentuk penyegaran cara berdakwah. Menurutnya, pesan keagamaan tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah atau kitab, tetapi dapat pula merambat lewat medium visual yang lebih dekat dengan selera anak muda.
Seni sebagai Jembatan Dakwah
Kehadiran pameran lukisan dalam ajang tertinggi NU ini menandai pergeseran cara organisasi berkomunikasi dengan publik. Seni rupa diposisikan sebagai jembatan yang menghubungkan pesan-pesan keagamaan dengan masyarakat luas, termasuk kalangan yang tidak terbiasa mengikuti forum keagamaan formal.
Pendekatan semacam ini dinilai mampu menyentuh sisi emosional pengunjung. Wajah para tokoh yang tampil tenang dan penuh wibawa pada lukisan-lukisan itu kerap memancing kesan dekat, seolah para pendiri hadir kembali di tengah warga nahdliyin yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Di sisi lain, pameran juga menjadi sarana pendidikan sejarah. Banyak pengunjung muda mengaku baru mengetahui urutan kepemimpinan dan peran para tokoh NU setelah melihat rangkaian lukisan tersebut. Keterangan yang menyertai setiap karya membantu mereka memahami konteks perjuangan organisasi dari masa ke masa. Beberapa guru pesantren yang berkunjung bahkan berencana membawa rombongan muridnya di hari-hari berikutnya agar pelajaran sejarah keagamaan bisa dirasakan secara langsung.
Sentuhan Pelukis di Balik Kanvas
Sejumlah pelukis yang terlibat datang dari latar belakang beragam, mulai dari seniman profesional hingga santri yang menekuni seni rupa secara otodidak. Mereka mengaku membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu karya, dimulai dari penelusuran foto arsip, pembuatan sketsa awal, hingga proses pewarnaan akhir. Ketelitian itu penting agar wajah para tokoh benar-benar dikenali pengunjung, baik yang pernah bertemu langsung maupun yang hanya mengenal lewat cerita.
Suasana ruang pamer sengaja diatur sedemikian rupa agar terasa tenang. Pencahayaan diarahkan lembut ke setiap kanvas supaya detail lukisan tampak jelas, sementara musik instrumental bernuansa religius mengalun pelan di latar belakang. Kombinasi tersebut menciptakan pengalaman berbeda dibandingkan keramaian stan lain di area muktamar, sehingga pengunjung merasa seperti berada di museum kecil yang intim dan personal.
Jombang, Panggung Peradaban Santri
Pemilihan Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 tidak lepas dari posisi kota ini sebagai salah satu sentra pesantren di Indonesia. Kawasan Tambak Beras sendiri dikenal luas sebagai tempat peristirahatan terakhir pendiri NU, sehingga lokasi pameran tersebut memiliki makna simbolis yang kuat bagi para pengunjung.
Selama masa muktamar berlangsung, kawasan itu dipenuhi rombongan santri, ulama, dan masyarakat umum yang ingin menyaksikan langsung rangkaian acara. Pameran lukisan menjadi salah satu destinasi yang membuat kunjungan mereka terasa lebih lengkap, karena selain mengikuti agenda keagamaan, mereka juga dapat menikmati sajian seni yang sarat nilai sejarah.
Warisan yang Terus Hidup
Bagi penyelenggara, pameran ini diharapkan tidak berhenti sebagai acara seremonial semata. Karya-karya yang dipamerkan dipandang dapat terus dimanfaatkan sebagai media edukasi di pesantren-pesantren maupun sekolah setelah muktamar usai, sehingga pesan tentang keteladanan para pendiri tetap hidup di tengah masyarakat.
Keberhasilan menggabungkan nuansa keagamaan dengan apresiasi seni dalam Muktamar ke-35 NU menunjukkan bahwa tradisi dan kreativitas dapat berjalan beriringan. Di tengah gemuruh agenda besar organisasi umat Islam terbesar di Indonesia itu, deretan lukisan di Tambak Beras hadir sebagai pengingat bahwa jasa para pendiri tidak boleh dilupakan, dan bahwa cara mengenangnya pun dapat terus diperbarui agar menyentuh generasi-generasi berikutnya.
}



Comments (0)