Longsor di Morowali Utara, 2.104 Jiwa Terisolasi di Dua Desa

Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, telah menyebabkan dua desa terputus total dari akses darat. Akibat peristiwa ini, sebanyak 2.104 jiwa masih terisol...

Jul 28, 2026 - 00:17
0 0
Longsor di Morowali Utara, 2.104 Jiwa Terisolasi di Dua Desa

Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, telah menyebabkan dua desa terputus total dari akses darat. Akibat peristiwa ini, sebanyak 2.104 jiwa masih terisolasi dan sangat membutuhkan pasokan kebutuhan dasar. Hingga saat ini, jalan penghubung utama antar desa dan ke pusat kecamatan belum bisa dilewati kendaraan jenis apa pun.

Kronologi dan Penyebab Longsor

Peristiwa bermula ketika hujan deras mengguyur wilayah Bungku Utara dan sekitarnya secara terus-menerus selama beberapa hari terakhir. Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan struktur tanah di sejumlah perbukitan menjadi labil dan akhirnya bergerak turun menerjang badan jalan. Material longsor berupa lumpur tebal, bebatuan besar, dan serpihan kayu menimbun ruas jalan trans di beberapa titik vital, terutama di tikungan dan lereng yang curam.

Berdasarkan pantauan di lapangan, longsor terjadi di setidaknya empat titik dengan ketebalan material mencapai dua hingga tiga meter. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengonfirmasi bahwa jalur yang tertimbun merupakan satu-satunya akses darat bagi warga di dua desa terdampak. Kedua desa ini berada di wilayah yang dikelilingi perbukitan terjal, sehingga ketika jalan utama rusak, warga benar-benar tidak bisa keluar masuk.

Faktor geografis yang rentan gerakan tanah membuat kawasan ini langganan longsor saat musim hujan ekstrem. Namun, skala kerusakan kali ini dinilai yang paling parah dalam lima tahun terakhir, mengingat jumlah titik longsor dan luas wilayah yang terimbas.

Kondisi Warga dan Dampak Isolasi

Sebanyak 2.104 jiwa yang terisolasi kini menghadapi situasi serba terbatas. Data dari posko darurat menyebutkan bahwa desa pertama dihuni sekitar 1.200 orang, sedangkan desa kedua dihuni sekitar 904 orang. Mereka mulai kekurangan bahan makanan pokok, air bersih, dan obat-obatan. Persediaan beras, mie instan, dan minyak goreng di warung-warung desa menipis drastis karena pasokan dari luar terhenti total.

Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan bayi. Beberapa warga melaporkan gejala penyakit kulit dan gangguan pernapasan akibat debu material longsor. Akses terhadap layanan kesehatan juga terputus karena Puskesmas terdekat berada di luar desa yang tertimbun longsor. Warga terpaksa mengandalkan pengobatan tradisional dan stok obat sisa yang terbatas.

Selain masalah kesehatan, aktivitas ekonomi warga lumpuh total. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani kakao, kelapa, dan penambang pasir tradisional. Hasil panen yang seharusnya diangkut ke pasar kini membusuk di kebun. Sebaliknya, harga barang kebutuhan di dalam desa melonjak tajam. Satu liter minyak goreng yang biasanya dijual Rp15.000 sekarang bisa mencapai Rp30.000, itupun bila masih ada stok.

Tantangan Penanganan Darurat

BPBD Morowali Utara bersama unsur TNI, Polri, dan relawan telah mendirikan posko darurat dan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor. Namun, cuaca yang belum stabil dan medan yang sulit menjadi kendala utama. Beberapa kali kerja alat berat terpaksa dihentikan karena hujan kembali turun dan dikhawatirkan terjadi longsor susulan.

Tim juga mencoba membuka jalur alternatif melalui sungai dan bukit di sekitar lokasi. Penggunaan perahu karet untuk menyeberangi sungai yang meluap menjadi salah satu opsi distribusi bantuan, tetapi kapasitas angkutnya sangat terbatas. Sementara itu, upaya pengiriman logistik melalui udara menggunakan helikopter juga dilakukan, namun terkendala terbatasnya armada dan tingginya biaya operasional.

Kepala Pelaksana BPBD setempat mengakui bahwa proses pembersihan material longsor membutuhkan waktu setidaknya empat hingga enam hari jika cuaca mendukung. 'Kami memprioritaskan keselamatan warga. Bantuan makanan langsung kami kirim menggunakan helikopter ke titik yang memungkinkan. Semoga cuaca bersahabat,' ujarnya dalam keterangan resmi.

Respons Pemerintah dan Rencana Jangka Pendek

Bupati Morowali Utara telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan. Pemerintah daerah mengalokasikan dana darurat untuk penanganan longsor serta pengadaan bantuan logistik. Koordinasi dengan provinsi dan pusat juga sedang dilakukan untuk mendatangkan tambahan alat berat dan helikopter.

Selain fokus pada pemulihan akses, BPBD juga mengimbau warga di sekitar titik longsor agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika terjadi hujan deras. Tenda-tenda pengungsian sementara telah didirikan di beberapa lokasi yang dinilai aman dari longsor susulan. Relawan dari organisasi kemanusiaan turut membantu menyediakan dapur umum dan layanan kesehatan keliling.

Di sisi lain, pemerintah desa setempat berinisiatif membentuk tim gotong royong untuk membantu evakuasi material secara manual di jalur-jalur setapak. Langkah ini diharapkan bisa membuka akses pejalan kaki sementara sehingga warga masih dapat keluar masuk secara terbatas untuk mendapatkan kebutuhan.

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berjibaku menyingkirkan material longsor. Fokus utama adalah membuka akses jalan darurat untuk kendaraan kecil dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan. Jika cuaca bersahabat dan tidak ada longsor susulan, distribusi bantuan secara masif diharapkan bisa segera dilakukan.

Masyarakat di daerah terisolasi diimbau tetap tenang dan terus memantau informasi resmi dari BPBD. Mereka juga diingatkan agar tidak memaksakan diri melintasi jalur yang masih berbahaya demi menghindari kecelakaan. Pemerintah berjanji akan terus mengupayakan penanganan terbaik dan memastikan semua warga terdampak mendapatkan bantuan yang memadai.

Bencana ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan longsor. Pemerintah daerah didorong untuk segera melakukan pemetaan ulang kawasan rawan dan menyiapkan jalur evakuasi permanen agar kejadian serupa tidak kembali memutus akses vital warga di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User