LEMBATA — Bandara Wunopito Masih Ditutup Akibat Abu Vulkanik Gunung Lewotolok
Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) mengumumkan perpanjangan masa penutupan sementara operasional Bandara Wun
Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) mengumumkan perpanjangan masa penutupan sementara operasional Bandara Wunopito yang berlokasi di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ketat ini diambil menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok yang terus menyemburkan abu vulkanik berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan di wilayah udara sekitarnya.
Penutupan operasional penerbangan ini didasarkan pada hasil evaluasi keselamatan penerbangan serta penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) resmi dari otoritas penerbangan sipil. Berdasarkan pengamatan visual dan uji sampel lapangan (*paper test*), sebaran abu vulkanik tipis hingga sedang terdeteksi menutupi area landasan pacu (*runway*), *apron*, serta ruang udara lintasan pesawat menuju dan dari Lewoleba. Ribuan calon penumpang terdampak akibat pembatalan serta penundaan jadwal penerbangan komersial maupun perintis di kawasan tersebut.
Kronologi Erupsi dan Keputusan Penutupan Bandara
Proses penutupan operasional penerbangan di Bandara Wunopito dilakukan melalui serangkaian mekanisme evaluasi keselamatan yang ketat. Berikut adalah urutan kronologis kejadian penutupan fasilitas penerbangan di Kabupaten Lembata:
- Peningkatan Aktivitas Vulkanik: Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok mencatat adanya serangkaian erupsi yang melontarkan kolom abu vulkanik membumbung tinggi ke udara dengan arah sebaran mengikuti pergerakan angin dominan.
- Pelaksanaan Uji Sampel (Paper Test): Petugas bandara bersama instansi terkait melakukan *paper test* berkala di area *runway* dan *taxiway*. Hasil tes mengonfirmasi keberadaan endapan partikel abu vulkanik yang berisiko mengurangi daya cengkeram ban pesawat saat mendarat.
- Penerbitan NOTAM Awal: AirNav Indonesia menerbitkan NOTAM penutupan darurat pertama untuk menghentikan seluruh aktivitas takeoff dan landing demi mencegah kecelakaan penerbangan.
- Evaluasi dan Perpanjangan Masa Penutupan: Mengingat kondisi erupsi Gunung Ili Lewotolok yang masih berfluktuasi serta sebaran abu yang meluas, otoritas penerbangan memperpanjang durasi penutupan hingga kondisi ruang udara dipastikan benar-benar aman.
Analisis Risiko Keselamatan dan Dampak Operasional
Dampak abu vulkanik terhadap moda transportasi udara sangat fatal jika dipaksakan melintas. "Abu vulkanik mengandung partikel silika keras dan tajam yang dapat meleleh di dalam ruang bakar mesin jet atau merusak bilah baling-baling, memicu kegagalan mesin secara mendadak serta merusak visibilitas kaca kokpit," ungkap analis keselamatan penerbangan dalam keterangannya.
Berikut adalah tabel perbandingan kondisi operasional Bandara Wunopito sebelum dan sesudah terdampak erupsi vulkanik Gunung Lewotolok:
| Parameter Operasional | Kondisi Normal | Kondisi Dampak Erupsi |
|---|---|---|
| Status Bandara | Beroperasi Normal (Open) | Ditutup Sementara (Closed via NOTAM) |
| Kondisi Landasan Pacu | Bebas Material Asing (FOD Clear) | Tercemar Abu Vulkanik (*Paper Test* Positif) |
| Tingkat Visibilitas Udara | Baik (> 5.000 meter) | Terbatas (Tergantung Kepadatan Kolom Abu) |
| Rute Penerbangan (Kupang-Lewoleba) | Lancar Sesuai Jadwal | Dibatalkan / *Re-route* |
| Tingkat Risiko Udara | Rendah (Green Zone) | Sangat Tinggi (Red/Orange VONA Zone) |
Upaya Mitigasi dan Penanganan Penumpang
Otoritas Bandara Wunopito bersama para maskapai yang beroperasi terus memberikan imbauan kepada para calon penumpang. Pengelola maskapai penerbangan menyediakan skema pengembalian dana (*refund*) secara penuh atau penjadwalan ulang (*reschedule*) penerbangan tanpa dikenakan biaya tambahan bagi penumpang terdampak penutupan ini.
Sementara itu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat yang membutuhkan transportasi mendesak keluar-masuk Pulau Lembata untuk memanfaatkan jalur laut sebagai opsi alternatif utama. Kapal cepat dan kapal feri milik PT Pelni serta ASDP disiapkan untuk mengantisipasi melonjaknya volume penumpang yang tidak dapat terbang lewat jalur udara.
Monitoring Gunung Ili Lewotolok oleh PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok serta para wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius bahaya yang telah ditetapkan. Pemantauan secara real-time terus dilakukan menggunakan alat seismik dan pemantauan visual dari Pos Pengamatan Gunung Api.
AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan berjanji akan terus memperbarui status operasional Bandara Wunopito secepat mungkin apabila pembacaan indikator meteorologi dan kondisi Gunung Lewotolok menunjukkan penurunan aktivitas abu vulkanik secara signifikan.




Comments (0)