Krisis Air Melanda Cibarusah, Sungai Cipamingkis Kering Diterjang Kemarau
Kabupaten Bekasi tengah menghadapi tekanan serius akibat musim kemarau yang berlangsung cukup lama tahun ini. Aliran Sungai Cipamingkis yang biasa dimanfaatkan ribuan penduduk di wilayah Cibarusah dan...
Kabupaten Bekasi tengah menghadapi tekanan serius akibat musim kemarau yang berlangsung cukup lama tahun ini. Aliran Sungai Cipamingkis yang biasa dimanfaatkan ribuan penduduk di wilayah Cibarusah dan sekitarnya kini menyusut hingga batas kritis. Di sejumlah ruas, dasar sungai tampak terbuka luas, hanya menyisakan genangan kecil di antara bebatuan dan tanah yang mulai retak terpapar panas matahari.
Kondisi itu langsung dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipamingkis. Hampir seluruh aktivitas harian mereka bertumpu pada air sungai, mulai dari kebutuhan dapur, mandi, mencuci, memberi minum ternak, hingga mengairi sawah. Kini semua itu berubah menjadi perjuangan. Sebagian warga mengaku harus menempuh jarak cukup jauh atau antre berjam-jam demi mendapatkan satu-dua ember air keruh yang nantinya disaring dan direbus sebelum dikonsumsi.
Debit Surut, Genangan Tinggal Sisa
Pengamatan warga menunjukkan debit sungai turun signifikan dalam beberapa pekan terakhir seiring minimnya hujan. Kolam-kolam alami yang biasa menjadi titik pengambilan air kini tinggal beberapa saja. Yang memprihatinkan, genangan sisa itu kerap dipakai bersama oleh manusia dan hewan ternak, sehingga kualitas airnya semakin meragukan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bila dikonsumsi tanpa pengolahan matang.
Salah satu warga mengatakan kondisi tahun ini terasa jauh lebih berat dibanding kemarau-kemarau sebelumnya. Menurutnya, pada masa kering terdahulu air masih bisa didapat dengan menggali lubang sederhana di dekat tepian sungai. Namun kini, galian dangkal tidak lagi mengeluarkan air dalam jumlah memadai, sehingga warga harus mencari titik-titik tertentu yang masih menyimpan cadangan air tanah.
Peternak dan Petani Menanggung Kerugian
Sektor peternakan menjadi salah satu yang paling terpukul. Peternak sapi, kambing, dan unggas kesulitan menyediakan air minum bagi hewan peliharaan mereka setiap hari. Sebagian dari mereka terpaksa membeli air tangki dengan biaya tambahan yang memberatkan, apalagi harga pakan juga sedang berada di level tinggi. Bahkan ada peternak yang memilih mengurangi jumlah induk ternak demi menekan kebutuhan air harian.
Petani pun menghadapi nasib serupa. Sawah-sawah di sekitar DAS yang bergantung pada irigasi Sungai Cipamingkis mulai menunjukkan gejala kekeringan. Tanaman padi yang baru memasuki fase pembesaran bulir berisiko gagal panen bila pasokan air tidak segera pulih. Sebagian petani mengalihkan lahannya ke komoditas yang lebih tahan kering, sementara yang lain hanya bisa berharap hujan datang sebelum kerugian semakin meluas.
Rumah Tangga Berjibaku Demi Air Bersih
Di lingkup rumah tangga, para ibu dituntut lebih bijak mengatur pemakaian air. Mandi, mencuci, dan kebutuhan dapur dilakukan secara hemat dengan memanfaatkan air bekas untuk menyiram tanaman. Keluarga yang mampu memprioritaskan air beli kemasan untuk minum, sedangkan air sungai yang keruh hanya dipakai mencuci pakaian atau membersihkan halaman.
Harga jasa pengangkutan air dilaporkan ikut naik karena permintaan melonjak tajam. Warga yang memiliki sepeda motor harus bolak-balik mengangkut jerigen ke sumber air terdekat, sementara mereka yang tidak punya kendaraan bergantung pada bantuan tetangga atau menunggu penyaluran air dari pemerintah desa yang jadwalnya belum tentu rutin.
Kekhawatiran lain menyasar bidang kesehatan. Air keruh yang diminum tanpa proses pengolahan sempurna berpotensi memicu penyakit diare dan infeksi kulit, terutama pada anak-anak. Kader kesehatan setempat didorong lebih aktif mengedarkan imbauan tentang cara merebus dan menyimpan air dengan benar selama masa krisis berlangsung.
Harapan pada Penanganan Cepat
Masyarakat berharap pemerintah daerah beserta instansi terkait segera menyalurkan air bersih secara berkala, setidaknya hingga musim hujan tiba. Bantuan berupa mobil tangki, penempatan bak air, dan pembangunan sumur bor di titik-titik strategis dinilai sangat mendesak mengingat jumlah penduduk terdampak diperkirakan terus bertambah bila kemarau berlanjut lebih lama.
Selain bantuan darurat, warga juga mendorong adanya penataan pengambilan air di bagian hulu agar debit di hilir tetap terjaga. Upaya konservasi seperti penanaman kembali pepohonan di sekitar DAS serta pembuatan sumur resapan dipandang penting supaya krisis serupa tidak terulang pada musim kemarau berikutnya.
Di tengah kesulitan, solidaritas antarwarga justru tumbuh. Sejumlah kelompok pemuda berinisiatif mengangkut air dari sumber yang masih aktif menuju rumah-rumah lansia dan keluarga kurang mampu. Langkah kecil ini, bila diimbangi respons cepat pemerintah, diyakini dapat meringankan beban warga Cibarusah hingga curah hujan kembali normal dan Sungai Cipamingkis mengalir deras lagi.




Comments (0)