KOTAWARINGIN TIMUR — Karhutla Mengganas, Puluhan Titik Api Masih Berkobar
Ketinggian asap tebal kian intens menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyusul insiden Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla
Ketinggian asap tebal kian intens menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyusul insiden Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kian tak terkendali selama beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat serta pemetaan satelit titik panas, intensitas kebakaran mengalami peningkatan drastis dengan sedikitnya 54 titik api aktif yang masih menyebar di sejumlah lokasi kritis. Penanganan darurat terus dipacu oleh tim gabungan mengingat ancaman krisis kualitas udara yang mulai berdampak langsung pada kesehatan dan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat lokal.
Karakteristik tanah gambut yang mendominasi sebagian besar kawasan Kotawaringin Timur menjadi faktor utama yang menyulitkan upaya pemadaman darat. Kebakaran tidak hanya melalap vegetasi permukaan, tetapi juga menembus lapisan dalam gambut hingga kedalaman beberapa meter di bawah tanah. Kondisi ini diperparah oleh hembusan angin kencang serta minimnya curah hujan dalam kurun waktu satu bulan terakhir, yang menempatkan wilayah ini dalam status siaga darurat bencana karhutla.
Kronologi Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan
Eskalasi bencana karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur terjadi secara bertahap namun masif. Berikut adalah rincian perkembangan situasi di lapangan dalam kurun waktu sepekan terakhir:
- Fase Awal (Hari 1–2): Terdeteksi kemunculan awal 12 titik api di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang yang dipicu oleh pembukaan lahan serta kondisi semak belukar yang mengering akibat cuaca terik.
- Fase Penyebaran (Hari 3–5): Api merambat cepat ke kawasan lahan gambut dalam akibat terpaan angin kencang. Jumlah titik api melonjak tajam menjadi 35 titik, meluas hingga ke Kecamatan Kota Besi dan Teluk Sampit.
- Fase Kritis (Hari 6–7): Asap pekat mulai mengganggu jarak pandang di jalan lintas kabupaten dan kawasan permukiman. BPBD mencatat peningkatan total area terbakar mencapai lebih dari 420 hektar lahan vegetasi dan gambut.
Analisis Kerentanan Wilayah dan Distribusi Titik Panas
Secara analitis, tingginya frekuensi kebakaran di Kotawaringin Timur tidak lepas dari kondisi geografis wilayah yang kaya akan ekosistem gambut dalam. Ketika kadar air dalam tanah gambut menurun drastis saat puncak musim kemarau, material organik di dalamnya berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan total.
| Kecamatan Terdampak | Estimasi Luas Terbakar (Ha) | Jumlah Titik Api | Tingkat Kerentanan Lahan |
|---|---|---|---|
| Mentawa Baru Ketapang | 145 Ha | 18 Titik | Sangat Tinggi (Gambut Dalam) |
| Baamang | 110 Ha | 14 Titik | Tinggi (Gambut/Semak) |
| Kota Besi | 95 Ha | 12 Titik | Tinggi (Gambut/Perkebunan) |
| Teluk Sampit | 70 Ha | 10 Titik | Sedang (Semak Belukar) |
Dampak Lingkungan dan Ancaman Kesehatan Masyarakat
Eskalasi Karhutla ini berpotensi memicu kembali krisis kabut asap lintas daerah jika tidak segera ditanggulangi secara komprehensif. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik pemantauan telah menunjukkan kategori TIDAK SEHAT, dengan konsentrasi partikulat PM2.5 yang meningkat signifikan.
"Karakteristik kebakaran pada lahan gambut membutuhkan metode pemadaman basah berkelanjutan (wetting process). Jika hanya mengandalkan penyiraman permukaan, bara api di dalam lapisan bawah tanah akan tetap menyala dan memicu kebakaran ulang yang lebih besar saat angin berhembus kencang," ujar Dr. Bambang Herdiyanto, Peneliti Ekologi Lahan Gambut dari Universitas Palangka Raya.
Selain merusak keanekaragaman hayati dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, bencana ini mengancam kesehatan puluhan ribu warga. Dinas Kesehatan setempat telah mengonfirmasi kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebesar 35 persen dalam dua pekan terakhir, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Langkah Strategis Pemadaman dan Kendala Lapangan
Upaya penanggulangan kini mengandalkan operasi manunggal yang melibatkan Satgas Karhutla, Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Strategi pemadaman dilakukan melalui dua jalur utama:
- Operasi Darat: Pengerahan personel ke titik-titik yang terjangkau akses darat dengan membuat sekat bakar (firebreak) dan melakukan penyemprotan air bertekanan tinggi menggunakan pompa portabel.
- Operasi Udara: Pengajuan penambahan unit helikopter water bombing serta pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk membasahi area gambut yang terisolasi.
Kendati demikian, petugas di lapangan menghadapi hambatan berat berupa keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran karena kanal-kanal warga telah mengering, serta kendala mobilitas menuju titik api yang berada jauh di dalam hutan sekunder.




Comments (0)