Konsistensi Jadi Kunci Transformasi BUMN Menurut Dony Oskaria
Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap digambarkan sebagai agenda besar yang menuntut perubahan menyeluruh, mulai dari tata kelola, struktur organisasi, hingga budaya kerja. Namun di balik...
Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap digambarkan sebagai agenda besar yang menuntut perubahan menyeluruh, mulai dari tata kelola, struktur organisasi, hingga budaya kerja. Namun di balik ambisi besar tersebut, terdapat satu elemen yang sering kali terabaikan dan justru menjadi penentu keberhasilan: konsistensi. Hal inilah yang ditekankan oleh Dony Oskaria, sosok yang kini menempati posisi penting dalam pengelolaan investasi negara melalui Danantara, lembaga yang dibentuk untuk mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset-aset BUMN.
Dalam berbagai kesempatan, Dony Oskaria menyampaikan pandangan bahwa transformasi tidak akan berjalan efektif apabila hanya mengandalkan instruksi dari pimpinan. Menurutnya, perintah yang turun dari atas tanpa diikuti eksekusi yang berkelanjutan hanya akan menjadi dokumen mati di atas meja. Transformasi yang sesungguhnya membutuhkan gerak yang terus-menerus, terukur, dan tidak berhenti di tengah jalan.
Transformasi Bukan Sekadar Perintah dari Atas
Salah satu persoalan klasik dalam tubuh perusahaan pelat merah adalah kecenderungan untuk menjadikan transformasi sebagai proyek sesaat. Ketika pimpinan baru datang, muncul arah kebijakan baru; ketika pimpinan berganti, arah itu kembali berubah. Pola semacam ini membuat organisasi sulit membangun fondasi yang kokoh, karena setiap pergantian rezim kepemimpinan kerap diikuti oleh guncangan arah strategis.
Dony Oskaria menegaskan bahwa pendekatan yang hanya bertumpu pada instruksi tidak akan mampu mengubah wajah BUMN secara fundamental. Instruksi memang penting sebagai titik awal, tetapi ia hanyalah pemicu. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan seluruh jajaran untuk menjaga ritme perubahan dalam jangka panjang, sehingga nilai-nilai baru yang ingin ditanamkan benar-benar melekat dalam keseharian organisasi.
Konsistensi sebagai Fondasi Perubahan Budaya
Perubahan budaya organisasi tidak bisa terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan pengulangan, pembiasaan, dan penguatan yang dilakukan secara disiplin dari waktu ke waktu. Dalam konteks inilah konsistensi memegang peranan sentral. Tanpa konsistensi, upaya membangun tata kelola yang bersih, profesional, dan berorientasi pada kinerja akan mudah luntur ketika menghadapi tekanan maupun godaan untuk kembali ke cara-cara lama.
Dony Oskaria menilai bahwa keberhasilan transformasi BUMN sangat bergantung pada komitmen semua pihak untuk terus berjalan pada rel yang sama. Ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan program, menyelaraskan indikator kinerja, serta memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil selaras dengan tujuan jangka panjang, bukan sekadar respons reaktif terhadap situasi sesaat.
Peran Danantara dalam Mendorong Tata Kelola Baru
Kehadiran Danantara membawa semangat baru dalam pengelolaan aset negara. Lembaga ini diharapkan mampu menjadi katalis yang mempercepat transformasi BUMN melalui konsolidasi, profesionalisasi, dan peningkatan nilai tambah. Dalam pandangan Dony Oskaria, peran strategis semacam itu hanya akan terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki kesamaan visi dan kemauan untuk menjalankannya secara berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa pengelolaan investasi yang baik menuntut disiplin eksekusi yang tinggi. Setiap keputusan harus diikuti dengan implementasi yang konsisten dan pengawasan yang ketat. Dengan demikian, harapan untuk menjadikan BUMN sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional bukan lagi sekadar retorika, melainkan kenyataan yang dapat diukur dari kinerja nyata.
Menjaga Arah di Tengah Dinamika yang Berubah
Tantangan terbesar dalam menjaga konsistensi adalah dinamika lingkungan yang terus bergerak. Perubahan regulasi, fluktuasi ekonomi global, hingga pergeseran prioritas politik kerap menjadi alasan untuk mengubah arah di tengah perjalanan. Namun justru di sinilah keteguhan visi diuji. Dony Oskaria meyakini bahwa organisasi yang berhasil adalah organisasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah utamanya.
Adaptasi bukan berarti mengubah haluan setiap kali muncul gangguan. Sebaliknya, adaptasi yang sehat adalah menyesuaikan cara kerja dan strategi operasional sambil tetap berpegang pada tujuan besar yang telah disepakati. Konsistensi, dalam pengertian ini, bukanlah kekakuan, melainkan kemampuan untuk tetap fokus pada hasil akhir di tengah berbagai godaan untuk berpindah-pindah arah.
Komitmen Bersama untuk Hasil yang Berkelanjutan
Transformasi BUMN pada akhirnya adalah pekerjaan kolektif. Tidak ada satu sosok pun yang mampu menggerakkan perubahan besar seorang diri. Dibutuhkan sinergi antara pemegang kebijakan, jajaran manajemen, hingga seluruh karyawan di lapangan. Setiap lini harus memahami arah yang dituju dan berkontribusi menjaga momentum perubahan agar tidak berhenti di tengah jalan.
Pesan yang disampaikan Dony Oskaria ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak instruksi yang dikeluarkan, melainkan oleh seberapa jauh instruksi itu dijalankan secara nyata dan berkesinambungan. Dengan menjadikan konsistensi sebagai prinsip kerja, BUMN diharapkan mampu bertransformasi menjadi institusi yang lebih sehat, kompetitif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Ke depan, publik menaruh harapan besar agar semangat konsistensi ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar tercermin dalam setiap keputusan dan langkah nyata. Sebab hanya dengan gerak yang terus-menerus dan arah yang tidak mudah goyah, cita-cita menjadikan BUMN sebagai pilar kekuatan ekonomi bangsa dapat terwujud secara utuh dan berkelanjutan.




Comments (0)