Komunitas Pajero One Jatim Minta Maaf Usai Konvoi Dikeluhkan Kuasai Lajur Kanan
Aksi konvoi puluhan mobil sport utility vehicle (SUV) Mitsubishi Pajero yang berlangsung di ruas Jalan Tol Surabaya–Mojokerto pada Minggu, 26 Juli 2026, menuai gelombang protes dari pengguna jalan l...
Aksi konvoi puluhan mobil sport utility vehicle (SUV) Mitsubishi Pajero yang berlangsung di ruas Jalan Tol Surabaya–Mojokerto pada Minggu, 26 Juli 2026, menuai gelombang protes dari pengguna jalan lain. Rombongan kendaraan dari komunitas Pajero One Jatim tersebut terekam kamera warga dan viral di media sosial setelah diduga menguasai lajur kanan secara terus-menerus dan melakukan manuver yang dinilai membahayakan. Menanggapi kecaman publik yang meluas, pihak komunitas akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Kronologi dan Gelombang Keluhan
Berdasarkan sejumlah unggahan di platform X, Instagram, dan grup WhatsApp, rombongan Pajero dengan stiker identitas komunitas melaju dalam formasi beriringan di lajur kanan tol yang notabene diperuntukkan bagi kendaraan yang mendahului. Rekaman memperlihatkan sedikitnya 25 unit kendaraan mengisi lajur paling kanan, sehingga kendaraan di belakangnya yang berniat menyalip terpaksa mengantre atau mengambil lajur tengah secara mendadak. Beberapa pengendara lain mengaku sempat membunyikan klakson dan memberikan isyarat lampu, namun tidak mendapat respons. Situasi semakin runyam ketika sebagian anggota konvoi terekam melakukan perpindahan lajur tanpa menyalakan lampu sein dan memotong jalur kendaraan lain dalam jarak yang terlalu dekat. Keluhan publik bukan hanya soal etika berkendara, tetapi juga menyangkut keselamatan bersama. Seorang pengguna Twitter yang videonya telah ditonton lebih dari 800 ribu kali menyebut bahwa aksi konvoi itu "sudah kelewat batas dan sangat egois". Ia juga menulis bahwa dirinya nyaris terlibat tabrakan beruntun saat mencoba menjaga jarak aman. Komunitas Pajero One Jatim, yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan touring, mendadak menjadi sasaran kritik tajam warganet yang menuntut klarifikasi dan sanksi tegas.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi Komunitas
Tak butuh waktu lama bagi komunitas untuk merespons. Pada Senin pagi, 27 Juli 2026, akun Instagram resmi Pajero One Jatim mengunggah pernyataan permintaan maaf yang ditandatangani oleh Ketua Umum komunitas, Aris Setiawan. Dalam pernyataan itu, Aris mengakui bahwa tindakan anggota yang mengabaikan aturan lalu lintas saat konvoi telah mencoreng nama baik komunitas dan mengganggu kenyamanan pengguna tol lainnya. "Kami sepenuhnya menyadari kesalahan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pengendara yang merasa dirugikan, khususnya yang berada di ruas tol Surabaya–Mojokerto pada Minggu kemarin," demikian bunyi pernyataan itu. Aris menjelaskan bahwa konvoi tersebut merupakan bagian dari agenda tahunan "Pajero One Charity Tour 2026" yang semula hendak menuju lokasi bakti sosial di kawasan Kabupaten Mojokerto. Ia mengklaim sebagian besar peserta adalah anggota baru yang belum terbiasa dengan tata cara konvoi yang aman, sehingga pengawalan dari pengurus tidak berjalan maksimal. Komunitas pun berjanji akan mengadakan pembinaan internal dan memberlakukan sanksi tegas terhadap anggota yang melanggar. "Kami tidak akan segan-segan mencoret keanggotaan jika pelanggaran serupa terulang. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami semua," tegas Aris. Pihak komunitas juga menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan pengelola tol guna mempertanggungjawabkan kejadian tersebut.
Respons Pihak Berwenang dan Operator Tol
Secara terpisah, Direktur Operasi PT Jasamarga Transjawa Tol, Rudi Hermawan, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima banyak laporan dari pengguna jalan terkait insiden tersebut. Ia mengatakan bahwa berdasarkan rekaman CCTV dan laporan petugas di lapangan, konvoi Pajero tersebut memang menunjukkan indikasi pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya Pasal 106 ayat (1) yang mewajibkan pengemudi mengutamakan keselamatan dan ketertiban. "Kami sudah menyerahkan rekaman dan data kendaraan kepada Ditlantas Polda Jatim untuk ditindaklanjuti. Kami imbau kepada seluruh pengguna tol untuk selalu mematuhi rambu dan aturan, termasuk tidak menggunakan lajur kanan jika tidak sedang mendahului," ujar Rudi. Sementara itu, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jatim, AKBP Budi Santoso, menyampaikan bahwa pihaknya tengah memeriksa sejumlah identitas pemilik kendaraan yang terlibat dan akan memanggil mereka untuk dimintai keterangan. Ia menegaskan bahwa konvoi bukanlah alasan untuk mengabaikan hak pengguna jalan lain. "Setiap pengguna jalan memiliki hak yang sama. Lajur kanan adalah lajur overtaking, bukan untuk cruising atau pawai. Jika terbukti melanggar, kami tidak akan pandang bulu, akan kami proses sesuai aturan," tegasnya. Budi menambahkan, selain penilangan administratif, pelaku pelanggaran juga bisa dijerat dengan Pasal 287 tentang pelanggaran marka dan Pasal 311 tentang kelalaian berkendara yang membahayakan, dengan ancaman pidana penjara dan denda.
Pelajaran Berharga bagi Komunitas Otomotif
Insiden ini kembali menyoroti persoalan etika berkendara di tengah maraknya kegiatan touring dan konvoi yang digelar sejumlah komunitas otomotif. Sosiolog transportasi dari Universitas Brawijaya, Dr. Malik Ibrahim, menilai bahwa kejadian semacam ini mencerminkan lemahnya road citizenship atau kewarganegaraan jalan di kalangan sebagian penggemar otomotif. "Konvoi tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menguasai ruang publik. Ini soal kedewasaan kolektif dan empati terhadap pengguna jalan lain," katanya. Ia mengapresiasi langkah cepat komunitas Pajero One Jatim dalam meminta maaf, tetapi menekankan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku yang konsisten. Komunitas otomotif di berbagai daerah pun ikut bereaksi. Beberapa klub mobil di Surabaya dan Malang menyatakan akan memperketat prosedur pengawalan dan memberikan pengarahan wajib sebelum setiap kegiatan touring dimulai. Mereka berharap insiden ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya disiplin berlalu lintas. Sementara itu, publik menanti langkah konkret dari kepolisian dalam menindak para pelaku agar memberikan efek jera dan menjadi contoh bagi komunitas lain. Yang pasti, hiruk-pikuk di ruas tol Jawa Timur akhir pekan lalu telah meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus, sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa jalan adalah milik bersama, bukan arena pamer arogansi.
Comments (0)