Kisah Eli Cohen: Mata-Mata Israel yang Nyaris Jadi Wakil Menteri Suriah
Dalam sejarah dinas rahasia dunia, hanya sedikit nama yang mampu menembus tembok pertahanan sebuah negara sebegitu dalamnya seperti Eli Cohen. Agen intelijen Israel ini bukan sekadar mata-mata biasa. ...
Dalam sejarah dinas rahasia dunia, hanya sedikit nama yang mampu menembus tembok pertahanan sebuah negara sebegitu dalamnya seperti Eli Cohen. Agen intelijen Israel ini bukan sekadar mata-mata biasa. Ia berhasil menyamar sebagai pengusaha kaya asal Suriah, bergaul dengan para petinggi militer dan politik Damaskus, bahkan nyaris diangkat menjadi wakil menteri pertahanan—sebelum identitas aslinya akhirnya terbongkar dengan cara yang tragis.
Awal Kehidupan di Alexandria
Cohen lahir di Alexandria, Mesir, pada tahun 1924, dari keluarga Yahudi yang taat. Semasa muda ia aktif dalam gerakan bawah tanah yang saat itu dilarang oleh pemerintah Mesir. Ketegangan politik di kawasan itu membuat keluarganya memutuskan pindah ke Israel pada pertengahan 1950-an, menyusul gejolak yang melanda Mesir kala itu.
Di tanah air barunya, Cohen bekerja sebagai penerjemah dan sempat menjalani karier biasa seperti warga pada umumnya. Namun kecerdasan dan bakat bahasanya tidak luput dari perhatian dinas intelijen. Ia direkrut oleh Mossad, badan rahasia Israel, yang melihat potensi besar dalam diri pemuda yang fasih berbahasa Arab dan mampu berbaur dengan mudah di lingkungan Timur Tengah.
Identitas Baru: Kamel Amin Tsabet
Misi yang diberikan kepadanya tergolong berisiko tinggi: menyusup ke Suriah, negara yang kala itu menjadi lawan bebuyutan Israel. Untuk itu, Mossad membekalinya dengan identitas baru. Ia diperkenalkan sebagai Kamel Amin Tsabet, seorang pengusaha Suriah yang disebut-sebut baru kembali dari Argentina setelah bertahun-tahun merantau dan mengumpulkan kekayaan.
Cerita penutup itu dirancang sedemikian rupa agar sulit dilacak. Sebelum masuk ke Suriah, Cohen dikirim lebih dulu ke Buenos Aires untuk membangun reputasi sebagai pebisnis sukses. Di sana ia menjalin pergaulan dengan komunitas Arab dan membangun jaringan sosial yang kelak menjadi tiket masuknya ke kalangan elite Damaskus.
Pada awal 1962, ia tiba di Suriah dengan membawa modal besar dan cerita masa lalu yang rapi. Pesonanya bekerja cepat. Dalam waktu singkat, Tsabet—begitu ia dikenal—diterima di kalangan pejabat militer dan politikus yang sedang naik daun, termasuk kelompok perwira yang kelak merebut kekuasaan.
Pesta Mewah dan Informasi Berharga
Rumahnya di Damaskus menjadi pusat pertemuan sosial para petinggi. Tsabet dikenal sebagai tuan rumah yang murah hati, kerap menggelar pesta mewah yang dihadiri para perwira militer dan pejabat pemerintah. Di balik obrolan santai dan jamuan makan, Cohen dengan cermat mendengarkan dan mencatat setiap informasi yang bocor dari pembicaraan mereka.
Kepercayaan yang ia bangun sangat luar biasa. Beberapa perwira bahkan menganggapnya sebagai teman dekat dan tak segan membicarakan hal-hal sensitif di hadapannya. Cohen pun mendapat akses ke kawasan militer, termasuk Dataran Tinggi Golan yang menjadi titik rawan perbatasan. Ia rutin melaporkan hasil pengamatannya melalui pemancar radio yang ia sembunyikan di rumahnya.
Nyaris Menjadi Wakil Menteri
Puncak kesuksesan penyamarannya terjadi ketika namanya diusulkan untuk menduduki jabatan wakil menteri pertahanan Suriah. Seandainya pengangkatan itu terealisasi, Cohen akan berada di posisi paling strategis yang pernah dicapai seorang mata-mata dalam sejarah modern. Namun sebelum proses itu tuntas, kecurigaan mulai muncul di kalangan kontra intelijen Suriah yang dibantu penasihat dari Uni Soviet.
Terbongkar dan Dieksekusi
Peningkatan aktivitas transmisi radio dari wilayah Damaskus menarik perhatian aparat keamanan. Dengan peralatan pelacak yang disuplai penasihat Soviet, pihak Suriah akhirnya mempersempit lokasi pemancar misterius itu hingga ke rumah tempat tinggal Tsabet. Pada Januari 1965, Cohen ditangkap di depan rumahnya sendiri saat tengah mengirimkan sandi ke Israel.
Penangkapannya mengguncang pemerintahan Suriah. Sebuah pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati atas dirinya. Berbagai upaya internasional untuk menyelamatkannya, termasuk dari Vatikan dan sejumlah negara Eropa, gagal mengubah keputusan. Pada Mei 1965, Cohen dieksekusi dengan cara digantung di depan umum di Alun-Alun Marjeh, Damaskus, di hadapan ribuan orang.
Warisan Seorang Mata-Mata
Meski hidupnya berakhir tragis, kontribusi Cohen bagi Israel dinilai sangat besar. Informasi yang ia kumpulkan, termasuk peta pertahanan dan posisi pasukan di Golan, disebut-sebut menjadi salah satu faktor kunci yang membantu pasukan Israel saat Perang Enam Hari pada 1967. Pohon-pohon yang ia tanam di sekitar posisi militer Suriah bahkan diyakini dijadikan penanda sasaran artileri.
Hingga kini, nama Eli Cohen tetap dikenang sebagai simbol pengabdian dan pengorbanan bagi negaranya, sekaligus peringatan bagi dunia tentang betapa rapuhnya batas antara persahabatan dan pengkhianatan. Kisahnya terus dipelajari di sekolah-sekolah intelijen dan diangkat dalam berbagai buku serta film. Sosok yang hampir menjadi wakil menteri pertahanan musuh itu kini abadi sebagai salah satu legenda mata-mata paling terkenal sepanjang masa.




Comments (0)