Kemarau Singkap Jejak Kampung yang Hilang di Bendungan Karian
Rentetan hari tanpa hujan di wilayah Lebak, Banten, telah memunculkan pemandangan langka dari dasar Waduk Karian. Susutnya volume air secara drastis menyingkap serpihan masa lalu yang selama bertahun-...
Rentetan hari tanpa hujan di wilayah Lebak, Banten, telah memunculkan pemandangan langka dari dasar Waduk Karian. Susutnya volume air secara drastis menyingkap serpihan masa lalu yang selama bertahun-tahun terkubur di kedalaman: sisa-sisa perkampungan yang dahulu ramai dihuni. Fondasi rumah, puing tembok, dan bekas jalan setapak seolah menjadi hantu yang bangkit dari kubur air, mengundang penduduk sekitar untuk bernostalgia.
Waduk Karian sendiri merupakan infrastruktur vital yang diresmikan pada awal 2010-an untuk memenuhi kebutuhan irigasi, air baku, dan pengendali banjir. Namun, pembangunannya mengharuskan pengosongan dan relokasi beberapa desa yang kini berada di area genangan. Ribuan jiwa harus meninggalkan tanah leluhur demi kemaslahatan yang lebih luas. Kini, saat kemarau panjang memangkas elevasi air hingga titik terendah, jejak peradaban itu kembali menyembul ke permukaan seakan meminta dikenang.
Bekas Rumah dan Bangunan yang Kembali Terlihat
Di antara hamparan tanah retak, tampak jelas tapak-tapak rumah panggung beratap ijuk yang dulu menjadi tempat bernaung. Sebuah struktur masjid yang setengah roboh masih bisa dikenali dari lantai keramiknya yang kusam. Bahkan, tiang listrik dan sumur tua ikut muncul, menjadi penanda bahwa daerah itu pernah berdenyut dengan kehidupan. “Dulu itu rumah Pak Asep,” ujar Wawan (52), mantan penduduk yang kini tinggal di desa penampungan, sambil menunjuk tumpukan batu bata di kejauhan.
Nostalgia yang Mengaduk Emosi
Bagi banyak mantan penghuni, kemunculan kampung tenggelam ini adalah undangan untuk menengok kembali masa kecil mereka. Beberapa di antaranya terlihat duduk di atas batu, bercerita tentang hari-hari ketika mereka masih berlari di halaman, memancing di sungai yang kini menjadi bagian waduk, atau merayakan panen di musim hujan. Air mata dan senyum bercampur. “Setiap kali kemarau begini, rasanya seperti pulang ke rumah masa lalu,” tutur Siti Marwati (65), yang lahir dan besar di kampung itu sebelum akhirnya direlokasi 16 tahun silam.
Menurut pantauan petugas Bendungan Karian, ketinggian air saat ini menyusut hingga 30 persen dari kapasitas normal akibat musim kering berkepanjangan. Fenomena ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali terjadi, namun tahun ini luasan area yang terekspos jauh lebih luas, sehingga lebih banyak bangunan yang terungkap. Balai Besar Wilayah Sungai setempat memastikan bahwa operasional bendungan tetap berjalan normal dan fenomena ini tak mempengaruhi fungsi utama waduk.
Kendati menjadi tontonan menarik, kondisi ini turut memunculkan kecemasan tentang ketahanan air di musim kemarau. Pemerintah daerah mengimbau warga tetap bijak menggunakan air dan berharap hujan segera turun agar elevasi waduk kembali. Sementara itu, para mantan penghuni justru memanfaatkan momen langka ini untuk mengajarkan anak cucu mereka tentang sejarah keluarga. “Saya tunjukkan ke cucu, ini dulu tempat nenek moyangnya tinggal,” kata Siti lagi.
Tak hanya warga, para sejarawan dan arkeolog amatir juga tertarik melihat artefak-artefak sederhana yang muncul dari lumpur kering. Beberapa menemukan peralatan dapur dari tembikar dan kayu yang meski telah lapuk, masih menyimpan bentuk. Ini menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan budaya lokal yang hilang tergerus modernisasi. Bahkan, video drone yang diambil oleh warga memperlihatkan bentangan fondasi rumah yang membentuk pola perkampungan teratur dari udara.
Fenomena ini menjadi viral di media sosial setelah warga mengunggah foto-foto kampung yang muncul. Banyak netizen yang turut berkomentar, “seperti kota yang hilang”. Gambar-gambar tersebut dengan cepat menyebar dan menarik perhatian publik dari berbagai daerah. Sebagian warganet mengaitkan pemandangan itu dengan kisah-kisah legenda tentang desa yang hilang di perairan.
Pihak pengelola waduk, melalui juru bicaranya, menyampaikan bahwa kehadiran warga di area genangan sebaiknya tetap dibatasi demi keselamatan karena lumpur kering bisa berbahaya. Beberapa bagian tanah bisa ambles. Mereka menyarankan agar kunjungan dilakukan dengan pengawasan dan tidak meninggalkan sampah. “Kami memahami nilai emosionalnya, tapi keselamatan tetap prioritas,” ujarnya.
Ketika musim hujan tiba, semua ini akan kembali ditelan air. Namun setiap kemarau, siklus kemunculan dan penenggelaman itu akan terus berulang, seakan mengingatkan bahwa di bawah permukaan waduk yang tenang, tersimpan sebuah cerita panjang tentang pengorbanan dan kenangan yang tak akan pernah benar-benar hilang.
Comments (0)