Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Meluas, 334 Hektare Lahan Hangus
PASURUAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang meluas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan terbaru, area terdampak kini mencapai 334,94 hektare d...
PASURUAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang meluas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan terbaru, area terdampak kini mencapai 334,94 hektare dan sebagian besar vegetasi di lokasi tersebut telah hangus terbakar.
Luasan Terus Bertambah
Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Petugas di lapangan mengungkapkan bahwa api bergerak cepat menyusuri lereng, didorong oleh kondisi cuaca yang panas serta tiupan angin kencang. Titik api muncul di sejumlah blok hutan secara bersamaan, sehingga upaya pemadaman harus dilakukan dari berbagai arah.
Kawasan Gunung Arjuno-Welirang dikenal sebagai salah satu wilayah hutan lindung yang penting di Jawa Timur. Wilayah ini juga menjadi salah satu destinasi pendakian populer, sehingga perhatian publik terhadap musibah ini cukup besar. Para pendaki dan warga sekitar diimbau untuk tidak mendekati area terdampak demi keselamatan.
Relawan Berjibaku Hingga Malam
Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan oleh petugas dari instansi terkait. Relawan dari sejumlah desa di Kabupaten Pasuruan turun langsung ke lereng gunung untuk membantu memadamkan api. Mereka terlihat berjibaku hingga larut malam, membawa peralatan seadanya seperti alat pemukul api dan pompa air portabel.
Keterlibatan warga ini menjadi kekuatan utama dalam mengendalikan laju api, terutama di titik-titik yang sulit dijangkau kendaraan. Tanpa dukungan warga, kata salah satu koordinator di lokasi, api kemungkinan besar akan semakin meluas ke area permukiman maupun kawasan hutan yang masih hijau.
Pemadaman Manual Jadi Andalan
Kondisi medan yang terjal dan berbukit menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua titik api dapat dijangkau dengan peralatan berat maupun kendaraan pemadam. Karena itu, sebagian besar proses pemadaman dilakukan secara manual oleh tim gabungan yang berjalan kaki menembus semak belukar dan tebing.
Metode ini memang lebih lambat, tetapi dinilai efektif untuk memutus rantai api di area yang sempit. Selain itu, tim juga melakukan pembuatan sekat bakar guna mencegah api merambat lebih jauh. Upaya ini terus dilakukan secara bergantian agar tidak terjadi kelelahan di antara personel yang bertugas.
Dampak Ekologi dan Ancaman Asap
Kebakaran seluas ini tentu membawa dampak besar bagi ekosistem. Berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut terancam, baik karena kehilangan habitat maupun terdampak langsung oleh api. Regenerasi hutan pun diprediksi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Tak hanya itu, asap pekat yang ditimbulkan kebakaran juga mengganggu warga di kaki gunung. Sebagian warga mengeluhkan iritasi mata dan gangguan pernapasan akibat kabut asap yang terbawa angin ke permukiman. Warga pun diimbau memakai masker dan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
Pemicu dan Imbauan
Musim kemarau panjang menjadi faktor utama yang memperbesar risiko kebakaran. Dedauanan kering dan tanah yang gersang membuat api mudah menyambar dan menyebar. Para pihak yang bertanggung jawab mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, termasuk membuang puntung rokok sembarangan saat berada di area hutan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi dari waktu ke waktu. Data luasan area terdampak juga diperbarui secara berkala agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat. Hingga berita ini ditulis, proses pemadaman masih terus berlangsung dan belum ada laporan mengenai korban jiwa.
Warga dan pendaki yang hendak melintasi kawasan Gunung Arjuno-Welirang diminta tetap waspada serta mematuhi seluruh imbauan petugas. Keselamatan menjadi prioritas utama di tengah upaya bersama mengendalikan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di pegunungan tersebut.




Comments (0)