Kampung Tenggelam Bendungan Karian Muncul Kembali Setelah Tiga Tahun
Peninggalan masa lalu yang terkubur di bawah permukaan air Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, akhirnya kembali menampakkan wujudnya. Untuk pertama kalinya sejak penggenangan waduk pada tahun 2...
Peninggalan masa lalu yang terkubur di bawah permukaan air Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, akhirnya kembali menampakkan wujudnya. Untuk pertama kalinya sejak penggenangan waduk pada tahun 2023, sisa-sisa perkampungan yang dahulu menjadi rumah bagi ratusan keluarga itu muncul ke permukaan akibat menyusutnya volume air secara drastis. Fenomena langka ini terjadi seiring kemarau panjang yang melanda sebagian besar Pulau Jawa, membuat fondasi bangunan, jalan desa, dan bahkan pepohonan kering terlihat jelas di tengah lanskap yang biasanya hanya berisi hamparan air.
Penampakan Kampung yang Sempat Hilang
Ketika air surut hingga level yang belum pernah tercatat sebelumnya, struktur beton bekas rumah, tiang listrik, dan jejak jalan kampung mulai terkuak satu per satu. Pantauan di lapangan menunjukkan area yang dulunya merupakan pusat permukiman warga kini tampak seperti kota hantu yang terbangun dari tidur panjang. Beberapa warga yang dahulu tinggal di lokasi tersebut rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menyaksikan kembali tanah kelahiran mereka yang telah tiga tahun terendam. "Saya tidak pernah membayangkan bisa melihat lagi bekas rumah saya. Meski hanya puing, kenangan langsung menyerbu," ungkap seorang mantan penghuni yang enggan menyebutkan namanya, terisak saat berdiri di antara sisa tembok rumahnya.
Kemarau Ekstrem Pemicu Surutnya Air
Bendungan Karian yang memiliki kapasitas tampung lebih dari 300 juta meter kubik dilaporkan mengalami penurunan debit air hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah operasionalnya. Data dari lembaga pengelola sumber daya air setempat menyebutkan level air kini berada di bawah ambang normal, bahkan mendekati batas minimum untuk operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Niño menyebabkan daerah tangkapan air di hulu tidak mampu mengisi kembali waduk secara memadai. Kondisi ini bukan hanya mengungkap sisa-sisa perkampungan, tetapi juga menjadi alarm bagi ketersediaan air baku bagi jutaan warga di Banten dan sekitarnya.
Pihak Perum Jasa Tirta II selaku pengelola sebagian infrastruktur air di wilayah tersebut memastikan bahwa pasokan air untuk kebutuhan irigasi dan air minum masih dapat dijaga, meskipun dengan sejumlah penyesuaian. "Kami terus memantau setiap hari dan berkoordinasi dengan BBWS C3. Situasi ini memang mengkhawatirkan, tetapi layanan dasar tetap menjadi prioritas," ujar seorang pejabat yang enggan dikutip langsung.
Emosi Mantan Warga dan Pengunjung
Kehadiran kembali kampung tenggelam ini menjadi magnet bagi masyarakat sekitar. Selain mantan warga yang datang untuk bernostalgia, banyak pula pengunjung yang penasaran ingin melihat langsung pemandangan unik tersebut. Namun, rasa ingin tahu itu bercampur dengan keprihatinan. Seorang tetua adat setempat, Haji Ujang (71), mengisahkan bagaimana kehidupan dulunya berjalan di lembah yang kini menjadi dasar waduk. "Dulu di sini ada masjid, pasar kecil, dan sawah yang subur. Sekarang tinggal kenangan," katanya lirih. Ia berharap pemerintah tidak melupakan jasa warga yang telah merelakan tanahnya demi pembangunan nasional.
Di sisi lain, anak-anak muda yang lahir setelah penggusuran justru baru pertama kali melihat lokasi yang hanya mereka dengar dari cerita orang tua. Beberapa di antaranya merekam video untuk diunggah ke media sosial, menjadikan kampung tenggelam ini viral dalam hitungan jam.
Peringatan Keselamatan Dikeluarkan
Meski menyajikan pemandangan yang menyedot perhatian, pihak berwenang segera mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak memasuki area reruntuhan. Kondisi lumpur yang dalam, struktur bangunan lapuk, dan potensi adanya arus bawah tanah membuat kawasan tersebut berbahaya. Tim gabungan dari BPBD Lebak dan aparat desa telah memasang garis pembatas serta memasang rambu peringatan di titik-titik masuk. "Kami paham antusiasme warga, tapi keselamatan adalah yang utama. Area ini tidak untuk dijelajahi sembarangan," tegas Kepala Pelaksana BPBD Lebak dalam keterangan tertulisnya.
Pelajaran dari Masa Lalu dan Masa Depan
Terungkapnya kampung tenggelam ini tidak hanya menjadi fenomena visual semata, tetapi juga mengundang refleksi tentang perencanaan pembangunan bendungan dan hak-hak warga terdampak. Proyek Bendungan Karian yang dibangun untuk mengendalikan banjir sekaligus menyediakan air baku dan listrik, memang memaksa ribuan warga meninggalkan tanah leluhur mereka. Meskipun ganti rugi telah diberikan, rasa kehilangan terhadap komunitas dan ekosistem sosial yang terputus tak bisa dinilai dengan uang.
Fenomena ini juga menyoroti dampak perubahan iklim terhadap infrastruktur air skala besar. Dengan pola cuaca yang semakin tidak menentu, kemampuan bendungan dalam menjalankan fungsinya akan terus diuji. Para ahli memprediksi bahwa kejadian serupa dapat terulang jika tidak ada adaptasi serius dalam manajemen sumber daya air, termasuk konservasi daerah resapan di hulu.
Kapan Kampung Ini Kembali Tenggelam?
Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, musim hujan diperkirakan akan mulai turun dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Ketika itu terjadi, air akan kembali naik perlahan dan menutupi lagi sisa-sisa kampung yang kini menjadi tontonan. Bagi sebagian mantan warga, itu adalah momen perpisahan kedua yang menyakitkan, namun bagi alam, itu hanyalah siklus yang terus berulang. Hingga saat itu tiba, kampung tenggelam di Bendungan Karian akan tetap menjadi saksi bisu dari sejarah, pengorbanan, dan dinamika antara manusia, air, dan bumi yang terus berubah.
Comments (0)