Jakarta — Pemerintah Kucurkan Rp 61 Triliun demi Listrik Pelosok Negeri
Langkah nyata untuk mengikis ketimpangan akses energi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) terus dipacu oleh pemerintah Republik Indonesia. Ke
Langkah nyata untuk mengikis ketimpangan akses energi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) terus dipacu oleh pemerintah Republik Indonesia. Kegelapan malam yang puluhan tahun menyelimuti kawasan pegunungan terisolasi hingga pulau-pulau kecil berpenghuni minim kini secara bertahap mulai tergantikan oleh pijar lampu penerangan. Melalui program elektrifikasi perdesaan yang masif, negara berkomitmen memastikan bahwa hak atas energi bukan lagi modal eksklusif masyarakat perkotaan, melainkan milik seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Dalam konferensi pers pembaruan Program Prioritas (PHTC) yang digelar di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Gambir, Jakarta Pusat, pemerintah mengonfirmasi kesiapan anggaran jumbo sebesar Rp 61,65 triliun. Pendanaan ini dirancang khusus untuk membawa jaringan listrik baru ke 10.068 lokasi yang tersebar di pelosok Nusantara. Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa pemerataan infrastruktur energi ini menjadi fokus utama pemerintah demi mewujudkan keadilan sosial.
Menerangi Pelosok Nusantara melalui Peta Jalan ESDM
Landasan hukum peluncuran proyek skala nasional ini bertumpu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 308.316 Tahun 2025 tentang Peta Jalan Program Listrik Perdesaan dan Bantuan Pasang Baru Listrik Tahun 2025–2029. Peta jalan tersebut menjadi koridor strategis pemerintah dalam meruntuhkan rintangan geografis yang selama ini menghambat masuknya infrastruktur ketenagalistrikan.
Hingga saat ini, penetrasi energi terus menunjukkan tren positif meski tantangan medan di lapangan sangat kompleks. Qodari membeberkan bahwa progres fisik di lapangan telah mencatatkan pencapaian signifikan pada tahap awal pelaksanaan program.
"Dari total target tersebut, elektrifikasi sejauh ini telah terealisasi di 1.516 lokasi, atau sekitar 15% dari target," ujar Qodari kepada wartawan dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat.
Pemerintah optimistis bahwa capaian 1.516 lokasi tersebut merupakan pijakan awal yang kokoh untuk mengejar sisa target hingga tahun 2029 mendatang. Setiap titik yang berhasil diterangi tidak sekadar menghidupkan lampu penerangan, tetapi juga menyalakan harapan baru bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal.
Sebaran Program dan Tantangan Geografis
Cakupan program elektrifikasi ini mencakup bentangan wilayah yang sangat luas dan memiliki tingkat kesulitan teknis yang bervariasi. Berdasarkan data Bakom RI, target lokasi tersebar secara proporsional di 36 provinsi, 375 kabupaten/kota, 2.295 kecamatan, hingga 8.561 desa. Daerah pedalaman berbukit curam serta kepulauan terpencil menjadi prioritas utama penanganan.
Untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai skala dan progres pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ini, berikut rincian target serta realisasi program:
| Indikator Program | Cakupan Target / Realisasi |
|---|---|
| Total Alokasi Anggaran | Rp 61,65 Triliun |
| Target Total Lokasi Elektrifikasi | 10.068 Lokasi |
| Realisasi Saat Ini | 1.516 Lokasi (15%) |
| Sebaran Wilayah Administratif | 36 Provinsi, 375 Kabupaten/Kota |
| Cakupan Kecamatan & Desa | 2.295 Kecamatan & 8.561 Desa |
Tahapan Eksekusi dan Prospek Kesejahteraan
Pelaksanaan program listrik perdesaan ini dijalankan secara sistematis melalui beberapa tahapan krusial. Proses diawali dengan verifikasi lokasi dan validasi data calon penerima manfaat di tingkat tapak. Selanjutnya, tim teknis menyusun perencanaan infrastruktur yang disesuaikan dengan karakteristik geografis setempat, baik menggunakan perluasan jaringan kabel utama PLN (grid) maupun pemanfaatan pembangkit energi terbarukan lokal (off-grid) untuk kawasan yang amat terisolasi.
Setelah penyusunan anggaran dan pemenuhan dokumen administratif rampung, tahap fisik yang meliputi pembangunan instalasi, pengadaan unit trafo, serta penarikan kabel transmisi segera dieksekusi. Tahapan komprehensif ini dijalankan demi memastikan keamanan jaringan dan keberlanjutan pasokan energi dalam jangka panjang.
Para pengamat ekonomi publik menilai keberadaan listrik perdesaan akan memicu multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian warga. Akses energi dipastikan mendorong kegiatan belajar anak-anak di malam hari, meningkatkan efektivitas pelayanan fasilitas kesehatan perdesaan, serta merangsang pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis pengolahan komoditas lokal. Dengan pasokan energi yang memadai, ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia diharapkan dapat terkikis secara bertahap menuju kemandirian energi nasional yang inklusif.
Pemerintah terus memacu elektrifikasi di 10.068 lokasi terpencil melalui Kepmen ESDM No. 308.316/2025. Hingga saat ini, sebanyak 1.516 lokasi telah berhasil dialiri listrik. Baca selengkapnya di Patokan.com!



Comments (0)