Application Name Application Name

Patokan

Hukum & Kriminal

Jakarta — MRT Jakarta Dorong Placemaking Guna Bangkitkan Ekonomi TOD

PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mematangkan strategi pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (Transit-Oriented Development/TOD) di sekitar koridor stasi

Jakarta — MRT Jakarta Dorong Placemaking Guna Bangkitkan Ekonomi TOD

PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mematangkan strategi pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (Transit-Oriented Development/TOD) di sekitar koridor stasiun kereta moda raya terpadu. Langkah ini tidak lagi sekadar menempatkan stasiun sebagai titik naik dan turun penumpang, melainkan mengarah pada transformasi kawasan menjadi 'ruang ketiga' publik yang dinamis. Melalui pendekatan placemaking, perusahaan milik daerah ini berupaya menyuntikkan karakter dan daya tarik pada ruang publik guna memicu perputaran ekonomi daerah hingga mencapai miliaran rupiah.

Konsep pengembangan ruang publik berbasis transit ini dinilai menjadi kunci utama dalam memulihkan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Ketika sebuah stasiun dikelilingi oleh fasilitas pendukung yang inklusif dan menarik, mobilisasi warga tidak hanya berujung pada perjalanan rutin, tetapi juga menciptakan interaksi sosial yang bernilai ekonomis tinggi. Efek berganda (multiplier effect) inilah yang menjadi target utama MRT Jakarta dalam mengeksplorasi potensi bisnis non-tiket (non-farebox revenue) serta pemberdayaan usaha lokal.

Konsep Placemaking dan Transformasi Ruang Ketiga

Pendekatan placemaking pada dasarnya merupakan seni tata kota yang memprioritaskan pemanfaatan ruang publik berdasarkan kebutuhan dan karakteristik komunitas lokal. Ruang publik di sekitar stasiun dirancang sedemikian rupa agar memiliki identitas visual dan fungsi emosional yang kuat bagi para pengunjungnya.

Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta (Perseroda), Samuel Ryan Pradipta Pranowo, menegaskan pentingnya pembentukan ruang alternatif bagi warga ibu kota di luar rumah dan tempat kerja. "Ruang ketiga ini sebetulnya tempat kita sehari-hari setelah rumah dan tempat tujuan kita. Jadi setelah kita dari rumah ke kantor, apa nih ruang ketiga supaya kita bisa mengekspresikan diri," ungkapnya dalam forum MRTJ Fellowship Program pada Rabu, 9 September.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pembentukan ruang ketiga sangat bergantung pada kemampuan kawasan dalam memberikan kenyamanan serta ciri khas yang membedakannya dari tempat lain. Keterikatan emosional masyarakat terhadap suatu lokasi akan mendorong mereka untuk bertahan lebih lama, berkegiatan, dan pada akhirnya melakukan aktivitas konsumsi yang menggerakkan roda perekonomian lokal.

Dampak Ekonomi dan Perbandingan Model Kawasan

Penerapan placemaking terbukti mampu mengubah lanskap perekonomian di sekitar stasiun MRT. Keberadaan ruang terbuka publik yang tertata rapi, seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, menjadi contoh nyata bagaimana ruang hijau dan fasilitas literasi mampu menarik ribuan pengunjung harian serta menghidupkan UMKM di sekitarnya.

Berikut adalah perbandingan antara kawasan transit konvensional dengan kawasan berbasis placemaking TOD:

Indikator Kawasan Transit Konvensional TOD Berbasis Placemaking
Fungsi Utama Titik berpindah moda transportasi Ruang interaksi sosial, budaya, dan ekonomi
Lama Kunjungan Singkat (hanya melintas) Panjang (berkumpul, bekerja, rekreasi)
Dampak Ekonomi Terbatas pada tiket perjalanan Miliaran rupiah transaksi bisnis & UMKM
Keterikatan Publik Rendah (transaksional) Tinggi (emotif dan identitas perkotaan)

Tahapan Strategis Pengembangan Kawasan TOD MRT Jakarta

Dalam mewujudkan ekosistem perkotaan yang berkelanjutan, MRT Jakarta menerapkan serangkaian tahapan sistematis untuk mentransformasi titik-titik transit utama:

  1. Pemetaan Karakteristik Wilayah: Mengidentifikasi keunikan lokal dan kebutuhan masyarakat di sekitar koridor stasiun sebelum melakukan penataan fisik.
  2. Pembangunan Infrastruktur Inklusif: Membangun trotoar ramah disabilitas, jalur sepeda, dan area pejalan kaki yang terhubung langsung dengan pintu masuk stasiun.
  3. Aktivasi Ruang Publik (Placemaking): Menghadirkan taman publik, komersial area kreatif, serta panggung seni guna menarik perhatian warga kota.
  4. Kemitraan Ekonomi Lokal: Membuka ruang bagi pelaku UMKM dan bisnis kreatif untuk beroperasi di area strategis kawasan transit.

Dengan integrasi tata ruang yang matang, MRT Jakarta membuktikan bahwa pengelolaan transportasi publik tidak hanya berfokus pada kelancaran lalu lintas, melainkan juga berperan sebagai motor penggerak transformasi sosial dan ekonomi perkotaan di era modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer2
TENTANG PENULIS writer2

Bacaan Terkait

Comments (0)

User