Application Name Application Name

Patokan

Hukum

Jakarta Bakal Punya Mal Bawah Tanah Terhubung Langsung Stasiun MRT

Jakarta bersiap menata ulang kawasan bawah tanahnya dengan konsep yang selama ini lebih sering ditemui di kota-kota metropolitan dunia, seperti Tokyo. MRT Jakarta akan mengembangkan ruang komersial ba...

Jakarta Bakal Punya Mal Bawah Tanah Terhubung Langsung Stasiun MRT

Jakarta bersiap menata ulang kawasan bawah tanahnya dengan konsep yang selama ini lebih sering ditemui di kota-kota metropolitan dunia, seperti Tokyo. MRT Jakarta akan mengembangkan ruang komersial bawah tanah yang terhubung langsung dengan stasiun, sehingga perjalanan penumpang dari kereta menuju kawasan bisnis bisa berlangsung tanpa harus keluar ke permukaan.

Konsep ini menjawab kebutuhan warga kota yang kian besar akan ruang yang aman, nyaman, dan efisien. Alih-alih hanya menjadi tempat transit, stasiun MRT perlahan bertransformasi menjadi tujuan itu sendiri: tempat orang berbelanja, bekerja, atau sekadar bersantai di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

Bundaran HI Jadi Proyek Perdana

Langkah pertama dari rencana besar ini akan diwujudkan di kawasan Bundaran HI. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2027, dan akan menjadi percontohan bagi pengembangan serupa di stasiun-stasiun lain. Bundaran HI dipilih bukan tanpa alasan: kawasan ini merupakan salah satu pusat bisnis dan komersial tersibuk di Jakarta, dengan arus pejalan kaki yang tinggi sepanjang hari.

Dengan hadirnya ruang komersial bawah tanah di titik ini, konektivitas antara stasiun, perkantoran, dan pusat perbelanjaan di sekitarnya diharapkan makin mulus. Penumpang yang turun dari kereta bisa langsung masuk ke lorong bawah tanah tanpa perlu berhadapan dengan panas, hujan, atau kemacetan kendaraan di jalan raya.

Meniru Keberhasilan Kota Bawah Tanah Tokyo

Tokyo memang menjadi inspirasi utama dalam pengembangan ini. Kota tersebut dikenal memiliki jaringan ruang bawah tanah yang luar biasa luas, mulai dari pusat perbelanjaan, restoran, hingga jalur pejalan kaki yang menghubungkan puluhan stasiun dan gedung perkantoran. Keberadaan ruang bawah tanah tersebut bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga strategi kota dalam memanfaatkan lahan yang semakin terbatas.

Jakarta menghadapi tantangan serupa: lahan di permukaan semakin sempit, sementara kebutuhan akan ruang komersial dan konektivitas terus meningkat. Menggali potensi bawah tanah menjadi salah satu solusi yang masuk akal. Dengan desain yang tepat, ruang bawah tanah bisa menjadi lapisan baru kota yang hidup dan produktif.

Konsep ini juga sejalan dengan arah pengembangan transportasi massal di Jakarta, yang ingin menjadikan stasiun bukan sekadar titik naik-turun penumpang, melainkan pusat kegiatan kota terpadu atau transit oriented development.

Manfaat bagi Warga dan Lingkungan

Kehadiran mal bawah tanah membawa sejumlah manfaat langsung bagi warga. Pertama, kenyamanan pejalan kaki. Dengan lorong bawah tanah yang teduh dan bebas kendaraan, perjalanan dari stasiun ke kantor menjadi lebih menyenangkan, terlebih di tengah cuaca Jakarta yang kerap panas dan hujan tiba-tiba.

Kedua, efisiensi waktu. Penumpang tidak perlu lagi berdesakan di zebra cross atau menunggu lampu lalu lintas untuk menyeberang. Ketiga, ruang ini membuka peluang ekonomi baru. Deretan gerai ritel, kafe, dan layanan jasa di dalam lorong bawah tanah bisa menciptakan lapangan kerja serta menghidupkan aktivitas komersial di sekitar stasiun.

Dari sisi lingkungan, pengembangan bawah tanah juga membantu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Ketika stasiun semakin nyaman dan terintegrasi dengan berbagai destinasi, semakin banyak orang yang terdorong beralih ke transportasi umum.

Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Meski menjanjikan, pengembangan ruang bawah tanah bukan perkara sederhana. Perencanaan yang matang diperlukan, mulai dari kajian struktur tanah, pengelolaan air, sistem keselamatan, hingga koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Ruang bawah tanah yang dirancang dengan buruk justru bisa menjadi gelap, lembap, dan terasa tidak aman.

Karena itu, pengalaman kota-kota seperti Tokyo dan Singapura kerap dijadikan rujukan. Desain yang terang, pencahayaan alami di titik-titik tertentu, penanda arah yang jelas, serta pengawasan keamanan menjadi faktor penting agar ruang bawah tanah terasa ramah dan diminati publik.

Setelah Bundaran HI, bukan tidak mungkin proyek serupa menyusul di stasiun-stasiun lain di sepanjang jalur MRT. Dengan target penyelesaian 2027, publik Jakarta tinggal menunggu beberapa tahun lagi untuk melihat langsung bagaimana wajah baru kawasan bawah tanah ibu kota terbentuk. Masyarakat pun menaruh harapan besar agar proyek ini berjalan tepat waktu dan benar-benar menghadirkan kenyamanan yang dijanjikan.

Jika berjalan sesuai rencana, Jakarta tidak hanya akan memiliki transportasi massal yang modern, tetapi juga ruang kota baru yang hidup di bawah permukaan — sebuah langkah berani yang menempatkan ibu kota sejajar dengan kota-kota besar dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer2
TENTANG PENULIS writer2

Bacaan Terkait

Comments (0)

User