Jabatan Wamentan Kosong, Peternak Inginkan Sosok Kompeten
JAKARTA — Kursi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) yang ditinggalkan Sudaryono setelah dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional (BGN) kini menjadi perhatian serius kalangan peternak. Organisasi petern...
JAKARTA — Kursi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) yang ditinggalkan Sudaryono setelah dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional (BGN) kini menjadi perhatian serius kalangan peternak. Organisasi peternak mendesak pemerintah menempatkan figur profesional yang benar-benar memahami denyut sektor peternakan di posisi strategis itu, bukan sekadar balas jasa politik.
Perhimpunan Peternak dan Masyarakat Peternakan Indonesia (Permindo) secara terang-terangan menyuarakan aspirasi tersebut. Mereka menilai, tantangan di subsektor hulu-hilir peternakan membutuhkan sentuhan pemimpin yang mengerti akar masalah, bukan sekadar pejabat administratif.
Kebutuhan Mendesak akan Sosok Paham Lapangan
Ketua Umum Permindo, dalam keterangannya, menyampaikan bahwa pengganti Sudaryono mesti memiliki rekam jejak yang jelas di dunia peternakan. "Kami tidak ingin kursi Wamentan hanya diisi oleh siapa pun yang kebetulan dekat dengan lingkaran kekuasaan. Sektor ini butuh pemimpin yang pernah merasakan langsung sulitnya beternak, dari kandang hingga pasar," ujarnya.
Desakan ini muncul bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, peternak menghadapi persoalan klasik seperti fluktuasi harga pakan, terbatasnya akses modal, hingga ketidakpastian kebijakan impor daging dan sapi bakalan. Kehadiran Wamentan yang paham seluk-beluk peternakan diyakini bisa menjembatani suara peternak dengan kebijakan kementerian secara lebih tepat sasaran.
Sudaryono, yang sebelumnya menjabat Wamentan, kini mengemban tugas baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional—lembaga yang fokus pada pemenuhan gizi masyarakat, termasuk asupan protein hewani. Ironisnya, tugas besar di BGN justru menambah urgensinya untuk mengisi kekosongan di kementerian dengan figur yang mampu menjaga keberlanjutan pasokan pangan asal ternak.
Profil Ideal Menurut Permindo
Permindo tak sekadar menuntut, tetapi juga menawarkan gambaran mengenai kriteria kandidat impian. Menurut mereka, sosok ideal untuk menduduki posisi Wamentan adalah individu yang: pertama, memiliki pengalaman praktis dalam tata kelola peternakan, baik di level manajemen korporasi peternakan maupun organisasi peternak; kedua, memahami regulasi dan birokrasi tanpa tersandera oleh kepentingan importir semata; ketiga, punya visi yang jelas tentang kedaulatan pangan asal ternak; dan keempat, mampu menjadi penghubung antara aspirasi peternak kecil, pengusaha pakan, dan kebijakan pemerintah pusat.
"Kami butuh Wamentan yang berani turun ke lapangan, bukan hanya duduk manis di belakang meja. Yang paham betul mengapa harga jagung bisa melonjak dan dampaknya terhadap peternak ayam petelur di pelosok," tegas perwakilan Permindo. Hal ini mencuat seiring belum kunjung terlihatnya nama pengganti yang diumumkan, sementara isu strategis seperti pemberlakuan Standar Nasional Pakan dan pengelolaan stok daging nasional terus bergulir.
Beberapa kalangan menyebut pentingnya mengakomodasi latar belakang akademisi atau peneliti peternakan, sementara yang lain mendorong praktisi murni dari asosiasi. Namun benang merahnya sama: kompetensi teknis menjadi syarat mutlak, melampaui loyalitas partai.
Tantangan Sektor Menanti Pemimpin Baru
Sektor peternakan nasional tengah berada dalam masa transisi yang rumit. Di satu sisi, target swasembada daging terus digaungkan, di sisi lain ketergantungan pada bahan baku pakan impor masih tinggi. Seorang Wamentan yang mumpuni akan dihadapkan pada pekerjaan rumah besar seperti stabilisasi harga daging dan telur, peningkatan populasi sapi potong lokal, serta pendampingan peternak rakyat menghadapi era digitalisasi pertanian.
Selain itu, harmonisasi program antara Kementerian Pertanian dan BGN juga memerlukan koordinasi kuat. Pasalnya, BGN akan banyak bersinggungan dengan produk peternakan dalam memenuhi kebutuhan gizi nasional. Ketiadaan figur penghubung di level Wamentan bisa memperlambat sinergi ini.
Tidak kalah penting, peternak berharap Wamentan baru mampu memperkuat posisi tawar peternak di hadapan pasar global. Tekanan produk impor dan dinamika harga pakan internasional menuntut adanya kebijakan proteksi sekaligus peningkatan daya saing yang hanya mungkin dirancang oleh pemimpin yang memahami struktur industri.
Harapan pada Presiden
Permindo pun menaruh harapan besar kepada Presiden agar mempertimbangkan masukan dari kalangan peternak. Mereka menegaskan akan terus menyuarakan aspirasi ini hingga nama yang terpilih benar-benar merepresentasikan kebutuhan peternak Indonesia. "Kami percaya Presiden bisa menyeleksi kandidat terbaik, bukan hanya dari sisi politis tetapi juga kapasitas profesional," tandas pernyataan resmi Permindo.
Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai nama potensial mulai berembus di media—mulai dari mantan direktur perusahaan pembibitan sapi hingga akademisi yang mendalami nutrisi ternak. Namun sejauh ini belum ada sinyal resmi dari Istana. Publik dan para pelaku usaha peternakan pun menanti keputusan yang akan menentukan arah kebijakan peternakan nasional ke depan.
Kursi Wamentan yang kosong ini ibarat palang pintu yang masih terbuka lebar. Jika diisi oleh figur yang tepat, ia akan menjadi motor penggerak bagi kemajuan peternakan Indonesia. Sebaliknya, bila salah pilih, bukan tidak mungkin sektor ini terus bergerak dalam lingkaran masalah yang tak terselesaikan. Waktu akan menjawab, tetapi suara peternak sudah terang: mereka ingin pemimpin yang mengerti, bukan sekadar mengisi jabatan.
Comments (0)