Ilmuwan Peringatkan Cuaca Ekstrem Makin Parah
Seorang ilmuwan iklim terkemuka dunia memberikan peringatan keras terkait meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem di berbagai belahan
Seorang ilmuwan iklim terkemuka dunia memberikan peringatan keras terkait meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem di berbagai belahan bumi. Pernyataan ini muncul setelah serangkaian bencana alam melanda, termasuk gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa dan Amerika Utara, serta banjir besar yang melumpuhkan Nepal. Sang ilmuwan menegaskan bahwa peristiwa serupa akan semakin sering terjadi dan hampir tidak terhindarkan kecuali ada tindakan global yang drastis.
Dr. Diana Ürge-Vorsatz, profesor studi lingkungan di Central European University dan wakil ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB, dalam wawancara eksklusif dengan FRANCE 24, menguraikan korelasi langsung antara pemanasan global yang disebabkan ulah manusia dan serangkaian rekor cuaca ekstrem sepanjang musim panas 2024. “Apa yang kita saksikan bukan lagi sekadar anomali cuaca, melainkan tanda-tanda jelas dari sistem iklim yang kian tidak stabil. Musim panas yang lebih panas, lebih banyak kebakaran hutan, lebih banyak kekeringan, dan lebih banyak banjir. Itulah takdir kita jika emisi gas rumah kaca terus meningkat,” tegasnya.
Gelombang Panas Memecahkan Rekor di Belahan Utara
Sepanjang Juli hingga Agustus 2024, berbagai wilayah di Eropa selatan, Amerika Serikat bagian barat, dan Asia Timur mengalami suhu ekstrem yang belum pernah tercatat sebelumnya. Di Death Valley, California, termometer menyentuh 54,5 derajat Celcius, suhu tertinggi yang pernah tercatat secara andal di Bumi. Sementara itu, kota Roma dan Athena mencatat suhu melebihi 45 derajat Celcius, memicu peningkatan tajam jumlah kematian akibat sengatan panas. Data Badan Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa rata-rata suhu global pada Juli 2024 adalah 1,8 derajat Celcius di atas level pra-industri, mendekati batas ambang 1,5 derajat yang disepakati dalam Perjanjian Paris.
“Gelombang panas tahun ini bukan kebetulan. Ini adalah konsekuensi langsung dari konsentrasi karbon dioksida yang mencapai 427 ppm, level tertinggi dalam tiga juta tahun terakhir,” kata Dr. Ürge-Vorsatz. Ia menjelaskan bahwa atmosfer yang lebih hangat menyerap lebih banyak uap air, yang kemudian memicu siklus hidrologi yang ekstrem – musim kemarau yang lebih kering dan musim hujan yang lebih basah dalam waktu singkat.
Banjir Nepal: Bukti Kedahsyatan Iklim yang Berubah
Pada awal September 2024, Nepal mengalami banjir dan tanah longsor terburuk dalam beberapa dasawarsa. Hujan monsun yang jauh lebih intens dari biasanya menyebabkan sungai meluap, menyapu bersih pemukiman dan lahan pertanian. Menurut laporan resmi, lebih dari 230 orang tewas dan belumnya puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Ibu kota Kathmandu lumpuh total selama beberpa hari.
“Banjir di Nepal adala peringatan bahwa negara berkembang yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi karbon justru menjadi korban pertama dari krisis iklim. Ini ketidakdilan yang mencolok,” ujar Dr. Ürge-Vorsatz dengan nada prihatin.
Ia menjelaskan bahwa suhu yang lebih tinggi di atas Samudra Hindia meingkatkan penguapan, yang kemudian membawa kelembaban ekstra ke atmosfer dan memperkuat monsun. “Setiap kenaikan 1 derajat Celcius memungkinkan atmosfer menahan sekitar 7 persen lebih banyak uap air. Saat uap air itu dilepaskan sebagai hujan, intensitasnya menjadi jauh lebih dahsyat.”
Rantai Bencana yang Semakin Panjang
Musim panas 2024 menunjukan pola yang sama: kebakaran hutan di Kanada dan Siberia menghanguskan area seluas 4,5 juta hektar, kekeringan parah memicu krisis pangan di Afrika bagian selatan, dan hujan es sebesar bola golf melanda beberapa bagian Jerman. Ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai “ratanai dampak” – satu peristiwa memicu peristiwa lainnya. Misalnya, gelombang panas yang mematikan tanah longsor dang mengubang sisa-sisa tanaman kering, yang menjadi bbhan bakar kebakaran hutan.
Data dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan bahwa sembilan bulan pertama tahun 2024 adalah yang terpanas dalam pencatatan. “Kami memperkirakan tahun 2024 akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah, mengalahkan tahun 2023 yang juga memecahkan rekor,” kata Dr. Ürge-Vorsatz. Ia menambahkan bahwa jika trernd ini berlanjut, batas 1,5 derajat Celcius dalam Perjannjannj Paris bisa terlewati secara permanen dalam satu dekaade ke depan.
Indonesia Juga Terdampak: Perubaan Tuban Tropis
Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, tidak luput dari dampak perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa rata-rata suhu tahunan Indonesia sudah meningkat sekitar 0,8 derajat Celcius sejak 1900. Fenomena gelombang panas laut (marine heatwave) di perairan Indonesia dan Samudra Pasifik timur menyebabkan pemutihan massal terumbu karang, mengancam ekoosistem laurt dan sektor perikanan. Di darat, musim kemarau yang lebih panjang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan.
“Indonesia menyumbang emisi yang signifikan dari deforestasi dan pembakaran gambut. Tapi juga termasuk yang paling rentan terkena dampak. Banjir rob di Jakarta menjadi semakin sering, sementara petani padi harus beradaptasi dengan pola hujan yang makin tidak menentu,” jelas Dr. Ürge-Vorsatz. Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk mempercepat transisi energi terbarukan dan menghentikan konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit dan tambang.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Meski peringatannya suram, Dr. Ürge-Vorsatz menekankan bahwa masih ada jendela kesempatan. “Kita memiliki solusi yang secara teknis layak dan secara ekonomi menguntungkan. Energi surya dan angin sudah menjadi sumber listrik termurah di sebagian besar dunia. Kendaraan listrik, pompa panas, dan diet nabati bisa memotong emisi hingga 70 persen. Yang kurang adalah kemauan politik dan disiplin dalam implementasi,” tegasnya.
IPCC dalam laporan sintesisnya yang dirilis Maret 2023 menekankan bahwa setiap kenaikan suhu sekecil apapun akan menambah risiko bencana. “Setiap setengah derajat berarti. Tujuan 1,5 derajat bukan angka ajaib, tapi ambang di mana kita tahu bahwa banyak ekosistem dan komunitas akan kehilangan kemampuan beradaptasi,” ujarnya. Ia menyeru negara-negara kaya untuk memenuhi janji pendanaan iklim sebesar 100 miliar dolar AS per tahun untuk membantu negara berkembang melakukan mitigasi dan adaptasi.
Kesimpulan: Waktu Belum Terlambat, Tapi Sedikit Sekali
Peringatan dari ilmuwan seperti Dr. Ürge-Vorsatz tidak bisa diabaikan. Data-data yang ada menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem akan terus meningkat dalam skala dan frekuensi, kecuali terjadi pengurangan drastis emisi gas rumah kaca dalam waktu dekat. Musim panas yang terik, kebakaran hutan yang meluas, dan banjir dahsyat bukan lagi skenario film bencana—ini adalah realitas yang sudah di depan mata.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, adaptasi menjadi prioritas. Pembangunan infrastruktur tahan iklim, sistem peringatan dini yang lebih baik, dan pertanian cerdas iklim menjadi kebutuhan mendesak. Namun, tanpa upaya bersama secara global untuk menghentikan pemanasan, langkah-langkah adaptasi itu hanya akan seperti menambal lubang di kapal yang terus bocor.