IKAMADA Hadirkan Pesona Adat Manggarai di TMII Awal Agustus

Jakarta akan menjadi saksi semaraknya warisan leluhur dari ujung barat Pulau Flores ketika warga Manggarai yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Daerah (IKAMADA) menghelat sebuah ...

Jul 28, 2026 - 03:51
0 0
IKAMADA Hadirkan Pesona Adat Manggarai di TMII Awal Agustus

Jakarta akan menjadi saksi semaraknya warisan leluhur dari ujung barat Pulau Flores ketika warga Manggarai yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Daerah (IKAMADA) menghelat sebuah perhelatan budaya berskala besar di Anjungan Nusa Tenggara Timur, Taman Mini Indonesia Indah, pada 2 Agustus mendatang. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai panggung hiburan, melainkan juga sebagai ruang edukasi dan pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi muda yang tumbuh jauh dari kampung halaman.

Rangkaian acara akan dimulai sejak pagi hari dengan prosesi pembukaan yang kental akan nuansa sakral masyarakat Manggarai. Para tetua adat yang khusus didatangkan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur akan memimpin ritual tente teno, sebuah bentuk syukur dan permohonan restu kepada leluhur serta Sang Pencipta agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Prosesi ini menjadi pembeda utama festival ini dengan pertunjukan seni pada umumnya karena mengandung dimensi spiritual yang dalam.

Panggung Kolosal Caci dan Tarian Perang

Salah satu magnet utama yang dinantikan pengunjung adalah pertarungan caci, seni bela diri tradisional khas Manggarai yang memadukan ketangkasan fisik, ketahanan tubuh, dan keindahan gerak. Dua kelompok pemain akan saling berhadapan di lapangan terbuka. Seorang penyerang membawa larik atau cambuk yang terbuat dari anyaman rotan dan kulit kerbau yang telah dikeringkan, sementara pihak lawan menangkis menggunakan nggiling, perisai bundar dari anyaman bambu yang dilapisi kulit sapi. Irama pukulan gong dan gendang yang menghentak akan menjadi pengiring sekaligus pemacu semangat para peserta. Setiap sabetan cambuk yang mengenai tubuh lawan bukanlah tanda permusuhan, melainkan simbol penghormatan dan keberanian.

Selain caci, pengunjung juga akan disuguhkan tari sanda dan tari rangku alu. Tari sanda merupakan tarian perang yang dahulu dipentaskan sebelum para prajurit berangkat ke medan laga. Gerakannya tegas, penuh kewaspadaan, dan diiringi teriakan penyemangat dalam bahasa Manggarai. Sementara itu, tari rangku alu dimainkan dengan menggunakan batang-batang bambu yang disusun dan digerakkan berirama oleh sekelompok pemain. Para penari harus melompat di celah-celah bambu yang terus bergerak, menciptakan permainan ketangkasan yang atraktif dan menggembirakan.

Pameran Tenun Motif Rangga dan Arsitektur Mbaru Niang

Di area pameran, panitia telah menyiapkan beberapa sudut edukatif yang memungkinkan para pengunjung menyelami lebih dalam kekayaan material budaya Manggarai. Salah satunya adalah demonstrasi langsung proses menenun kain songke, yaitu kain tenun khas Manggarai yang memiliki corak dan warna khas. Para penenun perempuan dari kelompok usaha bersama akan memperlihatkan bagaimana benang-benang katun diolah pada alat tenun tradisional menjadi lembaran kain bernilai seni tinggi. Motif rangga atau laba-laba, motif wela kaweng atau rebung bambu, serta motif su'i berupa garis-garis geometris akan hadir dalam beragam produk, mulai dari selendang, syal, hingga pakaian siap pakai.

Pengunjung juga berkesempatan mempelajari struktur rumah adat Mbaru Niang yang telah diakui dunia melalui penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Replika miniatur dan panel informasi akan menjelaskan filosofi lima tingkat rumah kerucut tersebut. Tingkat pertama disebut lutur sebagai tempat tinggal keluarga. Tingkat kedua lobo berfungsi sebagai lumbung pangan. Tingkat ketiga lentang untuk menyimpan benih-benih tanaman. Tingkat keempat lempa rae sebagai cadangan pangan saat musim paceklik, dan tingkat kelima yang paling sakral disebut hekang kode, tempat menyimpan sesajian untuk leluhur. Arsitektur ini mencerminkan kearifan lokal dalam manajemen pangan dan penghormatan terhadap alam.

Kuliner dan Musik sebagai Jembatan Silaturahmi

Festival budaya tidak akan lengkap tanpa kehadiran cita rasa autentik. Stan kuliner akan menyajikan hidangan-hidangan tradisional yang jarang ditemukan di Jakarta. Nasi bambu atau kolo, yaitu beras yang dimasak bersama santan di dalam seruas bambu muda di atas bara api, akan menjadi menu primadona. Aroma harum bambu yang terbakar berpadu dengan gurihnya santan menciptakan pengalaman bersantap yang unik. Tersedia pula daging se'i khas Manggarai, daging sapi atau babi yang diasap berjam-jam dengan kayu aromatik hingga menghasilkan cita rasa yang dalam dan tekstur yang empuk. Kopi Manggarai yang sudah mendunia pun akan diseduh langsung oleh para barista lokal, menyuguhkan kenikmatan arabika dan robusta dari lereng-lereng pegunungan Manggarai.

Di panggung utama, selain pertunjukan tari dan caci, akan tampil pula grup musik etnik yang membawakan lagu-lagu daerah dalam aransemen kontemporer. Alunan dere, nyanyian rakyat yang biasa dilantunkan saat bekerja di ladang atau saat menjaga kampung, akan dikemas dengan sentuhan gitar akustik dan perkusi modern tanpa menghilangkan roh aslinya. Ini adalah upaya IKAMADA untuk membuktikan bahwa tradisi lisan masyarakat Manggarai sangat adaptif dan relevan dengan zaman sekarang.

Merawat Akar di Tanah Rantau

Ketua panitia penyelenggara menjelaskan bahwa festival ini lahir dari keprihatinan sekaligus kebanggaan. Banyak pemuda Manggarai yang lahir dan besar di Jabodetabek tidak lagi mengenal bahasa ibu mereka sendiri, apalagi memahami makna di balik setiap ritual dan kesenian leluhur. Melalui festival yang terbuka untuk umum ini, IKAMADA ingin membangun jembatan antara generasi tua pemegang kunci adat dengan generasi muda pewaris tradisi. Lebih dari itu, festival ini juga menjadi ajang diplomasi budaya untuk memperkenalkan wajah Flores yang lebih luas kepada publik ibukota dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TMII.

Dukungan mengalir dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah NTT, para sesepuh komunitas Manggarai se-Jabodetabek, serta sejumlah sponsor yang peduli terhadap pelestarian kebudayaan. Para diaspora Manggarai yang telah sukses di perantauan turut menyumbang tidak hanya dana, tetapi juga ide dan jaringan agar penyelenggaraan festival berjalan profesional dan berkesan. Tiket masuk ke Anjungan NTT TMII pada hari itu akan diberlakukan dengan harga sangat terjangkau, sehingga diharapkan ribuan pengunjung dapat hadir dan turut merayakan keragaman Indonesia melalui lensa kebudayaan Manggarai.

Festival Budaya Manggarai ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu. Panitia telah menyusun dokumentasi yang rapi agar seluruh prosesi, pertunjukan, dan pameran terekam dengan baik. Rekaman ini akan disebarluaskan melalui kanal-kanal digital IKAMADA sebagai arsip budaya sekaligus materi promosi pariwisata Manggarai. Dengan berakhirnya festival pada malam hari, diharapkan setiap orang yang hadir pulang membawa sepotong kecil keindahan Manggarai di dalam hati mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User