IIFTIHAR Gelar Leaders Forum, Merayakan 90 Tahun Warisan Teknologi BJ Habibie
Dalam sebuah perhelatan yang memadukan kenangan, inspirasi, dan harapan masa depan, Ikatan Ilmuwan Teknologi Islam se-Indonesia (IIFTIHAR) bersama detik.com mengadakan Leaders Forum untuk menandai dua...
Dalam sebuah perhelatan yang memadukan kenangan, inspirasi, dan harapan masa depan, Ikatan Ilmuwan Teknologi Islam se-Indonesia (IIFTIHAR) bersama detik.com mengadakan Leaders Forum untuk menandai dua tonggak penting: tiga dasawarsa perjalanan organisasi serta sembilan dekade usia salah satu tokoh teknologi terbesar bangsa, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Forum yang diselenggarakan di Jakarta ini menjadi ajang perenungan kembali terhadap pemikiran visioner Habibie serta upaya mengontekstualisasikannya dalam lanskap teknologi dan inovasi dunia Islam kontemporer.
Dua Perayaan dalam Satu Panggung
IIFTIHAR, yang berdiri sejak tahun 1996, mengusung misi untuk menjadi wadah kolaborasi para ilmuwan dan profesional muslim di bidang teknologi. Perayaan ulang tahun ke-30 menjadi momen refleksi atas peran strategisnya dalam menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai keislaman dan kemajuan sains terapan. Sementara itu, peringatan 90 tahun B.J. Habibie meneguhkan kembali sosok yang bukan hanya Bapak Teknologi Indonesia, melainkan juga ikon global yang menunjukkan bahwa keimanan dan kecanggihan iptek dapat berjalan seiring.
Ketua Umum IIFTIHAR, dalam sambutannya, menekankan bahwa Habibie adalah bukti nyata bahwa seorang muslim bisa menjadi pemimpin di bidang teknologi tinggi tanpa kehilangan jati diri spiritualnya. "Habibie mengajarkan bahwa teknologi adalah ibadah. Beliau tidak hanya membangun pesawat, tetapi juga membangun pola pikir bahwa kalkulasi dan doa bisa menyatu," ujarnya. Forum ini diharapkan menjadi katalis bagi generasi muda untuk meneladani etos kerja dan integritas Habibie.
Membedah Visi Teknologi Habibie
Mengusung tema besar "Inovasi dan Teknologi di Dunia Islam: Melampaui Cakrawala Habibie", Leaders Forum menghadirkan sejumlah panelis dari latar belakang yang beragam: akademisi, praktisi industri, perintis startup syariah, hingga pemimpin lembaga riset. Diskusi berfokus pada empat pilar utama warisan pemikiran Habibie: penguasaan sains dasar, hilirisasi teknologi, pembangunan sumber daya manusia, dan kemandirian industri strategis.
Salah satu sesi yang paling menyedot perhatian membahas konsep "Tekno-Spiritualitas" — sebuah terminologi yang diilhami oleh kebiasaan Habibie yang selalu menyelipkan nilai-nilai tauhid dalam setiap proses rekayasa yang ia jalani. Para pembicara mengaitkannya dengan tantangan era kecerdasan buatan, di mana pertanyaan etis dan moral menjadi semakin mendesak. Teknologi tidak boleh bebas nilai, dan di situlah perspektif Islam harus hadir sebagai kompas.
Peran Media Membangun Literasi Teknologi
Kolaborasi dengan detik.com sebagai media partner utama menambah bobot strategis acara. Kehadiran platform digital berskala nasional ini memperluas jangkauan pesan forum kepada masyarakat luas, terutama generasi milenial dan Gen Z yang akrab dengan konsumsi informasi cepat. Pimpinan Redaksi detik.com menuturkan bahwa media memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar memberitakan perkembangan teknologi, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis akan dampak sosialnya. "Kami ingin menjadi jembatan antara dunia laboratorium dan ruang publik. Forum seperti ini membantu kami menyusun narasi yang kontekstual," imbuhnya.
Pada forum tersebut, detik.com juga meluncurkan kanal khusus "Innovation & Faith" sebagai ruang dialog berkelanjutan mengenai topik-topik yang mempertemukan sains, teknologi, dan spiritualitas Islam. Inisiatif ini menuai apresiasi karena dianggap mampu mengisi kekosongan diskursus publik yang seringkali mendikotomikan agama dan modernitas.
Sorotan Inovasi: Dari Kawah Candradimuka Menuju Pasar Global
Selain sesi konseptual, Leaders Forum juga menampilkan pameran produk-produk inovasi karya anggota IIFTIHAR. Mulai dari sistem irigasi pintar bertenaga surya untuk pesantren, aplikasi pembelajaran Al-Qur'an berbasis realitas tertambah (augmented reality), hingga purwarupa sayap pesawat nirawak yang sepenuhnya dirancang oleh mahasiswa Indonesia. Semua temuan ini menggemakan semangat kawah candradimuka ala Habibie, yang percaya bahwa kemampuan teknologi bukan monopoli Barat, melainkan bisa dilahirkan dari negeri-negeri muslim melalui kerja keras dan ketekunan.
Salah satu inovator muda, Nurul Aini, mempresentasikan alat diagnostik malaria berbasis machine learning yang telah diuji di beberapa klinik di Afrika Barat. Ia mengaku terinspirasi oleh biografi Habibie yang menekankan pentingnya menyelesaikan masalah nyata, bukan sekadar publikasi akademis. "Habibie mengajarkan bahwa ilmu yang tak memberi manfaat bagi umat adalah kemandulan pikiran. Itu yang membuat saya terus berupaya mengonversi riset menjadi solusi," tuturnya di hadapan hadirin.
Refleksi Sejarah dan Dialog Antargenerasi
Salah satu momen paling emosional terjadi ketika diputar rekaman video wawancara Habibie yang jarang ditayangkan, di mana ia menceritakan masa-masa sulitnya sebagai mahasiswa di Jerman sambil tetap mempertahankan prinsip keislaman. Video tersebut menjadi pengantar bagi sesi bincang-bincang antara para senior yang pernah bekerja langsung dengan Habibie dan para mahasiswa penerima beasiswa IIFTIHAR. Perbincangan lintas generasi ini menegaskan bahwa nilai perjuangan dan ketekunan Habibie harus diwariskan secara lisan dan keteladanan, bukan hanya melalui buku-buku sejarah.
Di sisi lain, para mahasiswa menyuarakan aspirasi agar forum serupa tidak hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan diikuti dengan program pendampingan konkret seperti inkubasi bisnis teknologi, akses ke laboratorium riset, dan jejaring internasional. Pihak IIFTIHAR menyambut positif masukan tersebut dan berjanji akan memperkuat struktur kelembagaan untuk menjawab kebutuhan era digital.
Potret Islam dan Teknologi di Pentas Global
Leaders Forum juga menyoroti posisi negara-negara muslim dalam persaingan inovasi global. Data terbaru menunjukkan bahwa kontribusi riset dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) masih di bawah potensinya, hanya sekitar 2,5% dari total pengeluaran riset dunia. Para panelis sepakat bahwa hal ini bukan semata-mata soal finansial, melainkan tentang keberanian mengambil risiko dan membangun budaya saintifik yang inklusif. Habibie, dengan proyek ambisiusnya membangun industri pesawat terbang Indonesia, adalah contoh bahwa dengan visi politik yang kuat, keterbatasan dana bukanlah penghalang.
Diskusi berlanjut ke topik ekonomi digital syariah, teknologi keuangan, dan sertifikasi halal berbasis blockchain. Semua ini dilihat sebagai bidang-bidang yang dapat menjadi "ceruk keunggulan" bagi dunia Islam jika direkayasa dengan standar tinggi. Para peserta forum diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi pencipta sistem yang selaras dengan nilai-nilai etis Islam.
Penutup dan Harapan
Rangkaian Leaders Forum ditutup dengan pembacaan "Manifesto Jakarta untuk Teknologi dan Umat", sebuah dokumen yang berisi komitmen para peserta untuk mendorong ekosistem inovasi Islami yang inklusif, mengedepankan kolaborasi global, serta memastikan perkembangan kecerdasan buatan tetap manusiawi dan bermoral. Dokumen tersebut akan disebarluaskan ke berbagai lembaga pendidikan dan pemerintahan sebagai bahan advokasi.
Perhelatan yang berlangsung seharian penuh ini membuktikan bahwa obsesi Habibie terhadap teknologi bukanlah romantisme masa lalu, melainkan peta jalan yang tetap relevan. IIFTIHAR dan detik.com optimis bahwa forum ini akan menjadi langkah awal bagi gerakan lebih besar yang mampu mengintegrasikan ketakwaan, kecerdasan, dan daya cipta dalam satu tarikan napas pembangunan bangsa. Doa dan harapan pun terpancang: semoga dalam tiga puluh tahun mendatang, akan lahir Habibie-Habibie baru yang siap menerbangkan generasi ke arah peradaban gemilang.
Comments (0)