Ibu Syok Anak Kabur Saat Open Trip ke Korea
Seorang pemuda asal Kota Madiun, Jawa Timur, bernama Femas (22) mendadak menjadi perbincangan hangat setelah diduga meninggalkan rombongan tur wisata yang membawanya ke Korea Selatan. Insiden ini baru...
Seorang pemuda asal Kota Madiun, Jawa Timur, bernama Femas (22) mendadak menjadi perbincangan hangat setelah diduga meninggalkan rombongan tur wisata yang membawanya ke Korea Selatan. Insiden ini baru terungkap ketika agen perjalanan yang menyelenggarakan open trip tersebut mendatangi rumah keluarganya untuk meminta klarifikasi. Sang ibu, MT (56), mengaku tidak pernah mengetahui jika anaknya berangkat ke luar negeri hingga petugas travel datang mengetuk pintu rumahnya pada Selasa sore.
Kronologi Keberangkatan yang Misterius
Menurut informasi yang dihimpun, Femas bergabung dalam program open trip ke Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung selama delapan hari. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya, pada pekan lalu dengan tujuan Seoul. Selama perjalanan, Femas terlihat aktif mengikuti agenda wisata bersama peserta lain. Namun, pada hari keempat, ia dilaporkan tidak hadir saat rombongan berkumpul di hotel. Pemandu wisata sempat mencarinya di sekitar lokasi, tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga hari terakhir, Femas tidak kembali ke hotel sehingga pihak travel memutuskan untuk menghubungi keluarganya.
Pihak travel mengaku telah melakukan berbagai upaya, termasuk menghubungi nomor telepon yang terdaftar, namun ponsel Femas tidak aktif. Mereka juga melaporkan kejadian ini ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul. Berdasarkan data paspor, Femas tercatat masih memiliki visa berlaku untuk tinggal di Korea Selatan selama beberapa bulan ke depan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa ia sengaja meninggalkan rombongan untuk bekerja atau menetap di negara tersebut.
Pengakuan Ibu yang Terkejut
MT, ibu Femas, mengaku sangat terkejut saat didatangi perwakilan travel. Ia tidak pernah membicarakan rencana bepergian ke Korea Selatan dengan putranya. “Saya kira dia hanya pergi ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Tidak ada pamit sama sekali. Saya baru tahu pas pihak travel datang bilang anak saya tidak pulang,” ujar MT dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya. Ia menambahkan bahwa Femas adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan dikenal pendiam. Sehari-hari, Femas bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan di Madiun dan jarang bepergian jauh.
MT mengaku sempat curiga karena Femas tidak pulang ke rumah selama tiga hari berturut-turut, namun ia mengira anaknya sedang lembur di kantor. Ia baru menyadari ada yang salah saat melihat pakaian dan perlengkapan mandi di kamar Femas berkurang. “Biasanya kalau pergi dekat, dia bawa tas kecil. Tapi kali ini tas ransel besar dan beberapa jaket tebal tidak ada,” ujarnya. Ia pun segera menghubungi nomor Femas, tetapi tidak diangkat. Kekhawatirannya semakin memuncak setelah mendapat telepon dari pihak travel.
Upaya Travel dan Pencarian
Manajer operasional travel yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa pihaknya sudah menjalankan prosedur standar saat peserta tidak kembali. Mereka melaporkan kejadian ke Imigrasi Korea Selatan, polisi setempat, dan KBRI Seoul. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan keluarga untuk memastikan data dan memberikan bantuan hukum jika diperlukan,” katanya. Travel tersebut mengaku telah menarik biaya tambahan dari peserta untuk asuransi perjalanan, namun tidak spesifik menanggung kasus kaburnya peserta. Mereka mengimbau agar peserta open trip selalu mematuhi aturan rombongan dan tidak bertindak di luar koordinasi.
Sementara itu, netizen ramai memperbincangkan kasus ini di media sosial. Banyak yang menyayangkan tindakan Femas yang dianggap tidak bertanggung jawab terhadap keluarga dan peserta lain. Beberapa pihak mengaitkan dengan fenomena ‘lari’ dari open trip yang kerap terjadi di Indonesia, di mana peserta memanfaatkan visa turis untuk bekerja ilegal di luar negeri. Pihak Imigrasi pun mengingatkan bahwa tindakan tersebut dapat berakibat denda, deportasi, dan larangan masuk ke Korea Selatan di masa mendatang.
Pihak Berwenang Turun Tangan
Kepolisian Resor Kota Madiun menyatakan telah menerima laporan dari keluarga Femas. Kasus ini saat ini dalam penanganan unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) karena melibatkan warga yang diduga hilang. Polisi berkoordinasi dengan imigrasi dan Kementerian Luar Negeri untuk melacak keberadaan Femas. “Kami mengimbau masyarakat agar waspada terhadap tawaran open trip murah yang tidak jelas prosedurnya. Pastikan perjalanan Anda tercatat dan ada asuransi,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Madiun.
Di sisi lain, KBRI Seoul melalui pernyataan resmi menyatakan siap membantu pencarian dan pemulangan Femas jika ditemukan. Mereka mengimbau agar WNI di Korea Selatan yang mengalami kesulitan segera menghubungi perwakilan RI. Kasus ini menjadi pengingat bagi calon peserta open trip untuk selalu memberikan informasi lengkap kepada keluarga dan melaporkan rencana perjalanan secara transparan.
Hingga berita ini diturunkan, Femas masih dalam pencarian otoritas Korea Selatan dan Indonesia. Ibu Femas hanya bisa berharap putranya segera pulang dalam keadaan selamat. “Saya minta dia pulang. Apa pun masalahnya, kami bisa selesaikan bersama. Saya hanya ingin dia selamat,” ucap MT lirih. Kejadian ini juga menjadi bahan evaluasi bagi industri travel di Indonesia untuk memperketat pengawasan peserta agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Comments (0)