Hippindo Nilai Tren Belanja Pakai Paylater Masih dalam Batas Wajar

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai maraknya penggunaan layanan belanja sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) oleh masyarakat Indonesia masih bera...

Aug 07, 2026 - 01:42
0 0
Hippindo Nilai Tren Belanja Pakai Paylater Masih dalam Batas Wajar

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai maraknya penggunaan layanan belanja sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) oleh masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat yang wajar. Kalangan peritel belum melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan bagi perekonomian maupun kesehatan keuangan konsumen secara umum.

Menurut asosiasi, kehadiran paylater sejatinya hanya menambah ragam pilihan pembayaran bagi konsumen. Sama halnya dengan kartu kredit yang sudah lebih dulu populer, skema cicilan tanpa kartu ini memberikan fleksibilitas bagi pembeli untuk mengatur arus kas mereka. Sepanjang digunakan secara bijak dan sesuai kemampuan finansial, layanan semacam ini justru bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya tanpa harus menunda pembelian barang yang memang diperlukan.

Perubahan Pola Belanja Masyarakat

Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat Indonesia bertransaksi memang mengalami pergeseran signifikan. Pembayaran digital semakin mendominasi, mulai dari dompet elektronik, transfer bank instan, hingga QRIS. Paylater menjadi pelengkap ekosistem pembayaran nontunai yang tumbuh pesat seiring dengan berkembangnya perdagangan elektronik alias e-commerce di Tanah Air.

Awalnya, fitur bayar nanti banyak dimanfaatkan untuk transaksi di platform belanja daring. Namun kini, penggunaannya sudah meluas ke berbagai kanal, termasuk gerai fisik di pusat perbelanjaan. Konsumen tinggal memindai kode atau memilih opsi cicilan saat membayar, lalu melunasinya dalam tenor yang dipilih, mulai dari satu bulan hingga dua belas bulan.

Kemudahan inilah yang membuat paylater digemari, terutama oleh kalangan muda yang belum memiliki akses kartu kredit. Proses pengajuan yang cepat, cukup bermodal identitas diri, dan tanpa syarat rumit menjadi daya tarik tersendiri dibandingkan produk pembiayaan konvensional yang cenderung berbelit.

Dampak Positif bagi Peritel

Dari sisi pelaku usaha, keberadaan paylater membawa angin segar. Metode pembayaran ini terbukti mampu mendorong nilai transaksi karena konsumen merasa lebih leluasa membeli produk yang harganya relatif tinggi. Barang elektronik, fesyen, hingga perabot rumah tangga menjadi kategori yang paling sering dibeli dengan skema cicilan.

Peritel juga tidak perlu menanggung risiko gagal bayar karena pihak penyedia paylater yang menalangi pembayaran di muka. Merchant menerima dana penjualan secara penuh sesuai jadwal yang disepakati, sementara kewajiban cicilan menjadi urusan konsumen dengan perusahaan pembiayaan. Mekanisme ini membuat arus kas toko tetap aman meski konsumen membayar secara mengangsur.

Tidak heran bila semakin banyak merchant yang bekerja sama dengan penyedia layanan BNPL, baik di ranah daring maupun gerai luring. Bagi peritel, menyediakan beragam opsi pembayaran kini menjadi bagian dari strategi meningkatkan pengalaman berbelanja sekaligus menjaring lebih banyak pelanggan baru.

Tetap dalam Koridor Regulasi

Meski trennya positif, asosiasi mengingatkan pentingnya pengawasan agar pertumbuhan paylater tetap sehat. Di Indonesia, layanan BNPL berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk perusahaan pembiayaan, serta Bank Indonesia untuk penyedia jasa pembayaran. Sejumlah aturan telah diterbitkan guna melindungi konsumen, termasuk pembatasan usia pengguna dan plafon pinjaman.

Regulator sebelumnya telah menetapkan bahwa pengguna paylater harus berusia minimal 18 tahun atau sudah menikah, serta memiliki penghasilan. Batas maksimal pembiayaan juga diatur agar masyarakat tidak terjerat utang melebihi kemampuan. Langkah-langkah ini dinilai efektif menjaga rasio kredit bermasalah tetap rendah di tengah pertumbuhan transaksi yang pesat.

Data industri memang menunjukkan penyaluran pembiayaan lewat BNPL terus meningkat dari tahun ke tahun. Meski demikian, tingkat pembiayaan bermasalah atau non-performing financing tercatat masih terkendali. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa kalangan peritel tidak risau dengan meluasnya penggunaan paylater di masyarakat.

Edukasi Konsumen Jadi Kunci

Kendati dinilai wajar, asosiasi tetap mengimbau masyarakat menggunakan paylater secara bertanggung jawab. Konsumen sebaiknya menghitung kemampuan membayar cicilan sebelum bertransaksi dan tidak menjadikan paylater sebagai alat memenuhi gaya hidup konsumtif. Membaca syarat dan ketentuan, termasuk bunga serta denda keterlambatan, juga wajib dilakukan sebelum menyetujui transaksi.

Edukasi literasi keuangan perlu terus digaungkan oleh semua pihak, mulai dari regulator, penyedia layanan, hingga peritel. Dengan pemahaman yang baik, paylater bisa menjadi instrumen yang bermanfaat, bukan jebakan utang. Masyarakat yang cerdas finansial pada akhirnya akan menguntungkan seluruh ekosistem, termasuk industri ritel yang mengandalkan daya beli berkelanjutan.

Ke depan, Hippindo memproyeksikan tren pembayaran digital, termasuk paylater, masih akan terus berkembang seiring transformasi ritel dan meningkatnya penetrasi internet. Asalkan pertumbuhan ini diimbangi pengawasan memadai dan perilaku konsumen yang bijak, paylater dipandang sebagai inovasi positif yang melengkapi dinamika industri ritel Tanah Air.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User