Harga Sembako di Bekasi Melonjak Jelang Lebaran Akibat Banjir
Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, masyarakat di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, dihadapkan pada lonjakan harga sejumlah kebutuhan poko
Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, masyarakat di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, dihadapkan pada lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok. Kenaikan harga sembako ini dipicu oleh kombinasi antara tingginya permintaan konsumen serta terganggunya rantai pasok pangan akibat bencana banjir yang melanda sejumlah daerah sentra produksi pertanian.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Baru Bekasi dan Pasar Kranji, menunjukkan pergerakan harga komoditas pangan utama merangkak naik secara signifikan dalam sepekan terakhir. Kondisi ini membuat para pedagang dan pembeli sama-sama mengeluhkan daya beli yang kian tertekan di tengah momentum hari raya.
Daftar Komoditas Pangan yang Mengalami Kenaikan
Kenaikan harga tercatat terjadi secara merata pada berbagai komoditas dapur, mulai dari bumbu-bumbuan hingga sumber protein hewani. Pasokan yang menipis dari tingkat petani membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual eceran ke masyarakat.
Berikut adalah sejumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga paling mencolok di Kota Bekasi:
- Cabai Rawit Merah: Menembus angka Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram, naik drastis dari harga normal kisaran Rp45.000 per kilogram.
- Bawang Merah: Naik menjadi Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp32.000 per kilogram.
- Daging Sapi Segar: Merangkak naik ke kisaran Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram menjelang puncak tradisi memasak rendang dan semur.
- Daging Ayam Broiler: Mengalami kenaikan menjadi Rp42.000 per ekor dari kisaran normal Rp35.000 per ekor.
- Minyak Goreng dan Beras: Masih bertahan pada level tinggi dengan kenaikan berkisar antara 5 hingga 10 persen dari harga eceran tertinggi (HET).
Banjir Hambat Logistik dan Rusak Hasil Panen
Terganggunya pasokan pangan ke wilayah penyangga ibu kota ini tidak lepas dari faktor cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi yang memicu banjir di berbagai wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian wilayah Banten mengakibatkan gagal panen di lahan-lahan pertanian hortikultura.
Selain kerusakan hasil panen, jalur logistik darat juga terhambat genangan air dan kerusakan infrastruktur jalan, sehingga memperpanjang waktu pengiriman dan mendongkrak biaya transportasi pengangkutan bahan pangan.
"Pasokan dari Pasar Induk Kramat Jati dan daerah sentra seperti Brebes dan Garut memang berkurang drastis karena banyak lahan terendam banjir. Barang yang masuk sedikit, sementara yang beli untuk kebutuhan Lebaran justru melonjak dua kali lipat," ujar Sutrisno (48), salah seorang pedagang sayur-mayur di Pasar Baru Bekasi.
Konsumen Terpaksa Mengurangi Porsi Belanja
Bagi konsumen rumah tangga, lonjakan harga sembako menjelang Idul Fitri menjadi beban tersendiri di tengah kebutuhan belanja hari raya lainnya. Sejumlah warga mengaku harus menyiasati menu hidangan Lebaran dengan mengurangi volume belanjaan.
"Biasanya beli daging sapi dua sampai tiga kilogram untuk hidangan keluarga besar, sekarang terpaksa dikurangi jadi satu setengah kilo saja. Sayuran dan bumbu juga belinya dijatah, yang penting ada untuk syarat tradisi Lebaran," tutur Nurhasanah (42), warga Medansatria, Bekasi.
Upaya Pengendalian Melalui Operasi Pasar Murah
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Bekasi bersama instansi terkait didorong untuk segera memperkuat langkah stabilisasi harga. Salah satu langkah konkret yang dinantikan masyarakat adalah penggelaran Operasi Pasar Murah di tingkat kecamatan dan kelurahan guna menyediakan komoditas pangan pokok dengan harga terjangkau.
Pengawasan distribusi di tingkat distributor juga terus ditingkatkan guna mencegah adanya spekulan atau praktik penimbunan barang yang memanfaatkan situasi lonjakan permintaan jelang Idul Fitri 1446 H.




Comments (0)