Gelombang Pemecatan di BGN: Sudaryono Sikat 270 Pegawai
Langkah mengejutkan dilakukan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang secara resmi memberhentikan ratusan pegawai dalam satu waktu. Sebanyak 9 aparatur sipil negara (ASN) akan dipecat dan...
Langkah mengejutkan dilakukan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang secara resmi memberhentikan ratusan pegawai dalam satu waktu. Sebanyak 9 aparatur sipil negara (ASN) akan dipecat dan 261 tenaga non-ASN langsung diberhentikan, menjadikan total 270 orang kehilangan pekerjaan. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari reformasi kelembagaan yang dijalankan tanpa kompromi, menandai babak baru di tubuh lembaga yang bertanggung jawab atas program gizi nasional tersebut.
Langkah pembersihan besar-besaran ini bukan tanpa sebab. Sudaryono menegaskan bahwa evaluasi internal yang dilakukan selama beberapa bulan terakhir menemukan berbagai pelanggaran serius. Ketidakhadiran tanpa keterangan, penyalahgunaan anggaran operasional, dan rendahnya kinerja menjadi tiga poin utama yang mendasari pemecatan. "Kita tidak bisa main-main dengan urusan gizi anak bangsa. Kalau ada yang tidak serius bekerja, silakan keluar," ujar Sudaryono dalam konferensi pers yang digelar secara tertutup, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi lembaga.
Profil Pegawai yang Terdampak
Dari total 9 ASN yang akan dipecat, sebagian besar berasal dari jabatan pengawas dan pelaksana di kantor pusat. Dua di antaranya bahkan disebut-sebut menduduki posisi struktural strategis yang berkaitan langsung dengan distribusi bantuan pangan. Sementara itu, 261 tenaga non-ASN yang diberhentikan meliputi tenaga kontrak di berbagai lini, mulai dari administrasi, lapangan, hingga dukungan logistik. Mereka tersebar di kantor pusat maupun perwakilan daerah. Seluruh proses pemberhentian mengacu pada aturan kepegawaian yang berlaku dan dilengkapi dengan bukti dokumentasi pelanggaran.
Sudaryono memastikan bahwa keputusan ini tidak diambil secara gegabah. Tim audit internal telah bekerja sejak kuartal pertama 2026 untuk memetakan permasalahan sumber daya manusia di BGN. Hasilnya, ditemukan tingkat ketidakhadiran mencapai 40 persen di beberapa unit kerja, ditambah indikasi mark-up biaya perjalanan dinas dan manipulasi laporan lapangan. "BGN bukan tempat untuk cari aman atau sekadar numpang hidup. Kami butuh orang yang benar-benar mau bekerja dengan hati," tegasnya.
Reaksi dan Kekhawatiran
Kabar pemecatan massal ini memantik beragam reaksi. Sejumlah pegawai yang masih bertahan mengaku kaget, namun banyak pula yang mengakui bahwa atmosfer kerja di BGN memang memerlukan perombakan. Seorang staf yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Selama ini memang ada yang datang hanya untuk absen lalu pergi. Tapi jumlahnya tidak sebanyak itu." Sementara dari kalangan pengamat kebijakan publik, langkah ini dinilai berani tetapi berisiko. Dr. Andi Mulyana, analis reformasi birokrasi dari Universitas Padjadjaran, menyebutkan bahwa pemecatan besar-besaran harus diikuti dengan strategi penggantian pegawai yang mumpuni, jika tidak maka justru akan melumpuhkan operasional lembaga.
Di sisi lain, publik melalui media sosial merespons positif. Tagar #BGNBersih mulai muncul, diramaikan oleh warganet yang berharap agar program pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah tidak terganggu. "Daripada banyak pegawai tapi tidak berfungsi, lebih baik ramping tapi bekerja," tulis seorang pengguna di platform X. Sebagian lagi mengingatkan agar proses pemecatan tetap menghormati hak-hak hukum para pegawai.
Dampak pada Program Nasional
Pemecatan 270 orang tentu berdampak pada kapasitas operasional BGN. Lembaga ini sendiri tengah berada di bawah sorotan karena program makan siang gratis dan penanganan stunting yang menjadi andalan pemerintah. Dengan berkurangnya jumlah personel, sejumlah proyek lapangan berpotensi terhambat. Namun Sudaryono telah menyiapkan skenario transisi. "Kami akan segera membuka rekrutmen terbuka untuk mengisi pos-pos yang kosong. Prosesnya akan lebih ketat dan berbasis kompetensi," ujarnya. Ia juga berencana melibatkan perguruan tinggi dan lembaga sertifikasi profesi untuk memastikan kualitas calon pegawai baru.
Langkah ini juga dilihat sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak mentoleransi penyelewengan di badan yang menangani kebutuhan dasar rakyat. Sejak menjabat, Sudaryono memang dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan cepat. Ia pernah menyatakan bahwa BGN harus menjadi contoh lembaga yang bersih dan profesional. "Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Seluruh jajaran akan terus dievaluasi secara berkala," tandasnya.
Transformasi Menyeluruh
Pemberhentian ratusan pegawai ini hanyalah satu dari serangkaian perubahan yang sedang dilakukan. BGN juga tengah merancang sistem pengawasan digital untuk memantau kehadiran dan kinerja secara real-time, serta memperketat mekanisme pelaporan keuangan. Sudaryono menargetkan seluruh proses transformasi kelembagaan rampung pada akhir 2027. "Kita harus menjadi institusi yang kredibel, karena yang kita urus adalah masa depan anak-anak Indonesia," pungkasnya.
Dengan terjadinya pembersihan ini, publik menanti apakah BGN mampu membuktikan diri sebagai motor penggerak perbaikan gizi nasional atau justru terpuruk di tengah kekosongan personel. Satu hal yang pasti, Sudaryono dan jajarannya telah memilih jalan yang tidak populer namun diyakini sebagai fondasi untuk membangun lembaga yang lebih baik. Perhatian kini tertuju pada langkah rekrutmen selanjutnya dan bagaimana sisa pegawai menjaga ritme kerja di tengah tekanan.
Comments (0)