Fondasi Ekonomi Kuat Jadi Kunci Capai Target Pertumbuhan 8%
Jakarta, Patokan – Target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintah membutuhkan langkah strategis yang matang. Pengamat ekonomi, Piter Abdullah, menegaskan b...
Jakarta, Patokan – Target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintah membutuhkan langkah strategis yang matang. Pengamat ekonomi, Piter Abdullah, menegaskan bahwa pencapaian angka tersebut tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dibangun dari fondasi yang kokoh sejak tahun ini. Menurutnya, tanpa persiapan yang serius, target tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Pertumbuhan Tahun Ini Jadi Prasyarat Utama
Piter Abdullah mengungkapkan bahwa untuk bisa melesat hingga 8 persen, Indonesia harus terlebih dahulu mampu menembus angka pertumbuhan di kisaran 6 persen pada tahun berjalan. Ia menilai angka 6 persen bukan sekadar target antara, melainkan sebuah fondasi yang akan menentukan arah kebijakan ekonomi ke depan. Jika pertumbuhan tahun ini hanya berkutat di angka 5 persen, maka sangat sulit untuk melompat jauh ke level 8 persen dalam waktu singkat.
“Kita tidak bisa berharap pertumbuhan ekonomi langsung melonjak tanpa adanya akselerasi yang konsisten. Tahun ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa kita bisa mendekati 6 persen. Itu menjadi prasyarat mutlak sebelum berbicara tentang 8 persen,” ujar Piter dalam sebuah diskusi ekonomi yang digelar secara virtual, Selasa (18/2/2025).
Ia menambahkan, pemerintah perlu melihat target 8 persen sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, bukan sekadar angka di atas kertas. Setiap kebijakan yang diambil harus diarahkan untuk menciptakan efek domino yang positif terhadap sektor riil, investasi, dan daya beli masyarakat.
Fondasi Kuat Bukan Sekadar Angka
Lebih lanjut, Piter menjelaskan bahwa fondasi yang kuat tidak hanya diukur dari sisi makroekonomi seperti inflasi yang terkendali atau nilai tukar rupiah yang stabil. Lebih dari itu, fondasi yang dimaksud mencakup perbaikan struktural di berbagai sektor, mulai dari birokrasi, infrastruktur, hingga kualitas sumber daya manusia. Tanpa perbaikan tersebut, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan bersifat semu dan tidak berkelanjutan.
“Fondasi yang kuat itu artinya kita harus memastikan bahwa setiap sektor ekonomi berjalan dengan efisien. Birokrasi yang lambat, regulasi yang tumpang tindih, dan infrastruktur yang belum merata akan menjadi penghambat utama. Ini yang harus dibenahi secara serius,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi industri yang tidak hanya berhenti pada sektor tambang, tetapi juga merambah ke sektor pertanian, kelautan, dan ekonomi digital. Dengan demikian, nilai tambah yang tercipta di dalam negeri akan semakin besar dan mampu mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif.
Peran Investasi dan Daya Beli Masyarakat
Menurut Piter, dua mesin penggerak utama yang harus dioptimalkan adalah investasi dan konsumsi rumah tangga. Investasi, baik dari dalam negeri maupun asing, harus terus digenjot dengan memberikan kemudahan perizinan dan kepastian hukum. Sementara itu, daya beli masyarakat harus dijaga melalui kebijakan yang pro-rakyat, seperti pengendalian harga kebutuhan pokok dan penciptaan lapangan kerja yang luas.
“Pemerintah harus hadir sebagai fasilitator yang mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif. Di sisi lain, masyarakat harus merasakan dampak langsung dari pertumbuhan ekonomi ini melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak pada kebijakan populis yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek. Kebijakan yang diambil haruslah berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang, meskipun terkadang tidak populer di mata publik.
Tantangan Eksternal dan Geopolitik
Di tengah upaya membangun fondasi, Indonesia juga harus menghadapi tantangan eksternal yang tidak mudah. Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, serta tensi geopolitik yang masih tinggi dapat menjadi penghambat. Piter menyarankan agar pemerintah lebih jeli dalam membaca situasi global dan mengambil peluang yang ada, misalnya melalui penguatan kerja sama dagang dengan negara-negara mitra non-tradisional.
“Kita harus pandai memanfaatkan situasi. Ketika negara lain sedang mengalami perlambatan, justru kita bisa mengambil momentum untuk memperkuat posisi kita. Diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan daya saing produk dalam negeri menjadi kunci,” pungkasnya.
Dengan segala tantangan yang ada, Piter tetap optimistis bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat tercapai, asalkan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama untuk membangun fondasi yang kuat, konsisten, dan berkelanjutan. Tahun ini adalah ujian pertama yang harus dilalui dengan baik.
Comments (0)