Festival Ngemar Kawa Jadi Panggung Kopi Tepal Menuju Pasar Dunia
Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus menggencarkan berbagai inisiatif strategis untuk melejitkan potensi komoditas unggulan daerah. Kali ini, perhatian tertuju pada Kopi Tepal, hasil bumi khas dari Keca...
Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus menggencarkan berbagai inisiatif strategis untuk melejitkan potensi komoditas unggulan daerah. Kali ini, perhatian tertuju pada Kopi Tepal, hasil bumi khas dari Kecamatan Batulanteh yang memiliki cita rasa unik dan mulai dilirik para penikmat kopi nusantara. Melalui perhelatan tahunan Festival Ngemar Kawa, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menegaskan target ambisiusnya: membawa kopi asal lereng Gunung Tambora ini agar bisa bersaing di kancah global.
Keistimewaan Kopi Tepal dari Batulanteh
Kecamatan Batulanteh terletak di dataran tinggi dengan iklim yang sangat mendukung pertumbuhan tanaman kopi arabika berkualitas premium. Tanah vulkanik yang subur, suhu sejuk, serta ketinggian di atas 1.200 meter dari permukaan laut memberi karakter tersendiri pada biji kopi yang dihasilkan. Kopi Tepal dikenal memiliki tingkat keasaman yang seimbang, body yang tebal, serta aroma rempah dan floral yang khas. Petani setempat mayoritas masih menerapkan metode budidaya tradisional yang dikombinasikan dengan pendekatan organik, sehingga menghasilkan produk dengan citarasa autentik yang sulit ditiru daerah lain.
Meskipun kualitasnya tidak kalah dengan kopi-kopi ternama dari Toraja atau Gayo, keterbatasan akses pasar dan branding selama bertahun-tahun membuat Kopi Tepal kurang dikenal di luar Pulau Sumbawa. Produksi tahunannya sendiri terbilang cukup menjanjikan. Data dari Dinas Pertanian setempat menyebutkan, luas lahan kopi di Batulanteh mencapai ratusan hektare dengan potensi panen mencapai puluhan ton per musim. Namun, baru sebagian kecil yang berhasil menembus pasar modern dan kedai kopi spesialti di perkotaan. Di sinilah pemerintah daerah melihat celah untuk memperkuat skema promosi yang lebih agresif.
Festival Ngemar Kawa sebagai Ajang Promosi
Untuk menjawab tantangan tersebut, Festival Ngemar Kawa dirancang bukan sekadar perayaan budaya, melainkan menjadi etalase utama produk kopi lokal. Istilah “Ngemar Kawa” sendiri berasal dari bahasa Sumbawa yang bermakna menikmati kopi, sehingga inti acara ini memang diarahkan sebagai wadah interaksi langsung antara petani, pelaku bisnis kopi, penikmat, dan calon investor. Dalam sambutannya, Bupati Syarafuddin Jarot menyampaikan bahwa festival ini harus menjadi momentum untuk membuka jejaring lebih luas, termasuk mengundang pembeli dari luar negeri dan komunitas kopi internasional.
Rangkaian kegiatan dalam festival ini cukup beragam. Selain sesi pameran dan pasar bebas, diadakan pula pelatihan teknik roasting kekinian, kompetisi seduh manual, hingga diskusi panel yang menghadirkan pakar kopi nasional. Semua ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani dan pelaku UMKM lokal agar produk mereka memenuhi standar ekspor. Jarot juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan asosiasi kopi spesialti serta dukungan dari Kementerian Perdagangan untuk memperlancar jalur distribusi ke mancanegara. “Kami tidak mau Kopi Tepal hanya menjadi legenda di kampung sendiri. Harus ada lompatan besar agar nama Batulanteh dikenal di peta kopi dunia,” ujarnya di hadapan peserta festival, akhir pekan lalu.
Target dan Strategi Menuju Pasar Global
Langkah konkret yang disiapkan pemerintah daerah mencakup sertifikasi mutu dan indikasi geografis sebagai fondasi branding global. Sertifikasi tersebut akan menjadi tiket agar Kopi Tepal bisa menembus kedai-kedai spesialti di Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Selain itu, Bupati juga mendorong pembangunan pusat pengolahan kopi terpadu di Batulanteh yang akan dilengkapi mesin roasting modern dan laboratorium kontrol kualitas. Infrastruktur ini diyakini mampu menjaga konsistensi cita rasa dan memperpanjang masa simpan produk, dua aspek krusial dalam perdagangan internasional.
Festival Ngemar Kawa turut menjadi ajang penandatanganan nota kesepahaman antara kelompok tani dengan sejumlah eksportir. Ini menjadi sinyal positif bahwa minat pasar terhadap kopi asal Sumbawa semakin meningkat. Pemerintah juga tengah mengaktifkan program pendampingan intensif agar petani dapat mengadopsi teknik pertanian cerdas iklim, mengingat perubahan cuaca kerap menjadi ancaman bagi produktivitas tanaman kopi. Dengan perpaduan antara warisan kearifan lokal dan inovasi modern, optimisme untuk menjadikan Kopi Tepal sebagai primadona baru ekspor Indonesia kian membuncah.
Ke depan, Festival Ngemar Kawa dijadwalkan masuk dalam kalender tetap pariwisata Sumbawa agar bisa menarik wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat posisi kopi lokal di pasar domestik. Masyarakat setempat menyambut antusias, karena geliat ekonomi dari sektor kopi berpotensi menyerap tenaga kerja lebih besar, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pariwisata edukasi. Bupati Syarafuddin Jarot menutup acara dengan pesan agar seluruh pemangku kepentingan menjaga semangat gotong royong, karena perjalanan menuju pasar global memerlukan konsistensi dan kerja keras bersama. Ia yakin, dengan kekhasan rasa yang dimiliki, Kopi Tepal akan segera menempati posisi istimewa di hati para penikmat kopi dunia.
Comments (0)