Evakuasi Darurat Enam Mahasiswa Unhas di Gunung Goa Kalibbong Berhasil
Maros — Sebuah operasi penyelamatan dramatis terjadi di kawasan pegunungan Maros, Sulawesi Selatan, setelah enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) mengalami kondisi darurat saat mendaki Gunun...
Maros — Sebuah operasi penyelamatan dramatis terjadi di kawasan pegunungan Maros, Sulawesi Selatan, setelah enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) mengalami kondisi darurat saat mendaki Gunung Goa Kalibbong Alloa. Seluruh korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat meskipun beberapa di antaranya tampak sangat kelelahan.
Kronologi Kejadian
Keenam mahasiswa tersebut sebelumnya memulai pendakian pada pagi hari dengan semangat untuk menjelajahi keindahan alam Karst Maros. Gunung Goa Kalibbong Alloa, yang dikenal dengan medan terjal dan jalur berliku, sebenarnya cukup populer di kalangan pencinta alam. Namun, perubahan cuaca yang tiba-tiba dan kondisi fisik yang tidak prima membuat situasi berubah genting. Sekitar pukul 14.00 WITA, beberapa anggota rombongan mulai mengeluhkan kram otot hebat di kaki dan tangan, disertai rasa lemas yang luar biasa. Dua orang bahkan tidak mampu melanjutkan langkah dan terpaksa berbaring di bebatuan karst yang tajam.
Salah seorang pendaki yang masih sadar penuh segera menghubungi pihak berwenang menggunakan perangkat komunikasi darurat. Mendapat laporan itu, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Maros langsung mengerahkan personelnya ke lokasi. Medan yang sulit dijangkau serta letak para korban yang berada di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut menuntut strategi evakuasi yang matang.
Proses Evakuasi Penuh Tantangan
Tim SAR tiba di titik pendakian dan segera membagi tugas. Sebagian personel mendaki lebih dulu membawa perlengkapan vertikal dan tandu khusus, sementara tim medis menyiapkan posko darurat di kaki gunung. Jalur pendakian yang licin dan sempit menjadi hambatan utama, terlebih karena guyuran hujan ringan membuat bebatuan semakin berbahaya. “Kami harus sangat hati-hati, karena selain korban yang lemah, relawan juga berisiko terpeleset di jalur karst yang tajam,” ujar koordinator lapangan kepada awak media.
Evakuasi dilakukan secara berturut-turut. Dua orang yang paling parah diangkut lebih dulu menggunakan tandu basket, dengan sistem pengamanan tali yang dikawal lima personel. Prosesi menuruni tebing setinggi hampir 30 meter memakan waktu sekitar dua jam untuk satu korban. Sisanya, yang masih mampu berjalan meskipun tertatih, dipandu perlahan dengan bantuan tali pengaman. Setiap korban didampingi satu relawan yang terus memantau tanda vital mereka.
Sekitar pukul 19.00 WITA, seluruh pendaki berhasil diturunkan. Di posko medis, mereka langsung mendapat penanganan berupa pemberian cairan infus, obat pereda kram, dan penghangat tubuh. Beberapa mahasiswa tampak menggigil dan pucat, menandakan hipotermia ringan akibat kedinginan di ketinggian. “Kondisi mereka sekarang stabil, sudah bisa berkomunikasi dengan baik. Hanya perlu istirahat dan pemulihan,” jelas seorang tenaga medis di lokasi.
Faktor Pemicu dan Keselamatan Pendakian
Dari hasil wawancara awal, diketahui bahwa rombongan tersebut kurang memperhitungkan cadangan energi. Mereka membawa bekal air yang terbatas, sementara sumber air alami di jalur pendakian sedang kering. Dehidrasi inilah yang kemudian memicu kram otot dan kelelahan ekstrem. Selain itu, mereka memulai pendakian tanpa pemandu lokal, sehingga kurang antisipasi terhadap cuaca buruk yang sering tiba-tiba muncul di kawasan karst.
Pihak SAR dan pecinta alam setempat mengingatkan bahwa Gunung Goa Kalibbong Alloa bukan sekadar gunung pendek biasa. Meski ketinggiannya hanya sekitar 800 meter di atas permukaan laut, struktur karstnya menyimpan risiko tinggi. “Pendaki harus siap fisik, membawa minimal tiga liter air, serta memakai alas kaki yang tidak licin. Cuaca hari itu memang cerah di pagi, tapi siang berubah drastis. Ini pelajaran penting bagi semua pendaki pemula,” ujar seorang aktivis lingkungan yang sering melakukan patroli di kawasan tersebut.
Kondisi Terkini dan Apresiasi
Hingga berita ini diturunkan, keenam mahasiswa Unhas itu telah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk observasi lebih lanjut. Pihak keluarga sudah dihubungi dan menyusul ke rumah sakit. Tidak ada luka serius atau korban jiwa dalam insiden ini, hanya kelelahan akut yang memerlukan pemulihan beberapa hari.
Keberhasilan evakuasi ini mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar. Bupati Maros dalam keterangan singkatnya menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim SAR, relawan, dan warga lokal yang turut membantu. “Ini menunjukkan kesiapsiagaan kita saat menghadapi situasi darurat di alam bebas. Semoga menjadi pengingat bagi seluruh pendaki untuk tidak meremehkan gunung,” ucapnya.
Operasi yang berlangsung hampir enam jam ini kembali menegaskan pentingnya persiapan matang sebelum melakukan aktivitas pendakian, sekaligus membuktikan kecepatan tanggap tim SAR dalam menyelamatkan nyawa di medan sulit sekalipun.
Comments (0)