Enam Mahasiswa Unhas Dievakuasi Tim SAR dari Gunung Goa Kalibbong
Alloa — Sebuah operasi penyelamatan darurat berhasil mengevakuasi enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang terjebak di kawasan pendakian Gunung Goa Kalibbong, Kabupaten Alloa. Keenam penda...
Alloa — Sebuah operasi penyelamatan darurat berhasil mengevakuasi enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang terjebak di kawasan pendakian Gunung Goa Kalibbong, Kabupaten Alloa. Keenam pendaki muda itu mengalami kram otot hebat dan kelelahan ekstrem setelah menempuh jalur terjal dalam waktu lama. Beruntung, tim SAR gabungan bergerak cepat dan seluruh korban dapat dibawa turun dalam kondisi selamat pada Sabtu malam.
Kronologi: Ekspedisi yang Berubah Menjadi Bencana
Insiden bermula ketika sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam komunitas pencinta alam Unhas memulai pendakian pada pagi hari. Rute yang mereka pilih adalah jalur timur Gunung Goa Kalibbong yang dikenal memiliki kemiringan curam dan medan berbatu tajam. Meski cuaca cerah saat keberangkatan, perubahan suhu mendadak dan tingginya kelembapan khas pegunungan kars di wilayah itu mempercepat dehidrasi para pendaki.
Sekitar pukul 14.00 WITA, tiga orang pertama melaporkan kram parah di bagian betis dan paha. Mereka mencoba beristirahat sambil menunggu tiga rekannya yang masih berada di belakang. Namun, kondisi tidak membaik; dua di antaranya mulai mengalami mual dan kepala pusing. Usaha memberi asupan gula dari bekal yang tersisa tidak banyak membantu karena persediaan air mereka sudah menipis. Satu peserta lain yang mencoba melanjutkan turun justru terjatuh dan meringis menahan nyeri sendi lutut. Melihat situasi kian memburuk, salah satu anggota kelompok yang masih sadar penuh mengirimkan sinyal darurat melalui ponsel satelit kepada rekan-rekan di basecamp.
Respons Cepat Basarnas dan Relawan Lokal
Tak lama setelah laporan diterima, Kantor SAR Makassar mengerahkan satu regu penyelamat yang terdiri atas delapan personel. Mereka diterjunkan bersama dua anggota TNI dan tiga relawan dari komunitas pendaki lokal yang mengenal medan. Sebuah helikopter kecil diterbangkan untuk memantau posisi para mahasiswa dari udara, sementara tim darat masuk lewat jalur alternatif yang lebih pendek. Pencarian visual langsung menemukan rombongan di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, tepat di jalur punggungan sempit yang diapit dua jurang.
Evakuasi berlangsung dramatis. Karena kondisi medan yang tak memungkinkan pendaratan helikopter, seluruh proses harus dilakukan secara manual. Tandu darurat dirakit dari bahan webbing dan bambu lokal. Para penyelamat menggendong korban bergantian menuruni tebing batu kapur licin dengan teknik rope access. Beberapa korban yang masih bisa berjalan dituntun perlahan menggunakan sabuk khusus. Hujan gerimis yang turun menjelang senja menambah risiko longsoran batu kecil, tetapi koordinasi antar anggota tim tetap solid.
“Kami harus bergerak cepat karena prediksi cuaca menunjukkan angin kencang bisa datang beberapa jam lagi. Semua korban sudah sangat lemah, ada yang tidak bisa menopang tubuh sendiri,” ujar Koordinator Lapangan Basarnas yang memimpin operasi. Proses evakuasi memakan waktu empat jam hingga akhirnya seluruh mahasiswa tiba di posko kesehatan darurat di kaki gunung.
Kondisi Korban dan Tindak Lanjut Medis
Setibanya di posko, tim medis dari Puskesmas Alloa langsung memeriksa tanda vital setiap korban. Enam mahasiswa itu mengalami gangguan elektrolit cukup berat akibat kehilangan cairan dan tidak disertai asupan mineral yang memadai. Empat orang mendapat infus intravena, sementara dua lainnya cukup diobservasi dan diberi larutan oralit. Tidak ada luka fisik serius selain lecet, memar ringan, dan keram otot yang membaik dalam beberapa jam.
“Kami bersyukur tidak ada yang memerlukan rujukan ke rumah sakit besar. Semua bisa pulih setelah rehidrasi dan istirahat total,” kata salah satu perawat. Para mahasiswa sendiri mengaku bahwa sebelum mendaki, mereka hanya sarapan ringan dan kurang memperhatikan jumlah air minum yang dibawa. “Kami terlalu percaya diri karena sering latihan fisik di kampus, tetapi jalur ini ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan,” ujar salah satu korban sambil menunjukkan kaki yang masih dibalut perban elastis.
Setelah kondisi stabil, keenam mahasiswa itu diperbolehkan pulang ke kediaman masing-masing dengan pendampingan pihak kampus. Pihak Unhas menyatakan akan memberikan pembinaan lanjutan dan mengevaluasi prosedur kegiatan organisasi kemahasiswaan yang melibatkan aktivitas berisiko tinggi.
Pelajaran Berharga dan Imbauan Keselamatan
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa persiapan logistik dan pengetahuan medan adalah elemen yang tidak bisa ditawar dalam pendakian. Ketua Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) wilayah Sulawesi Selatan menegaskan bahwa pendaki pemula wajib mengikuti prosedur standar: membawa minimal tiga liter air per orang untuk trek menengah, mengonsumsi elektrolit tambahan, serta melakukan pengecekan cuaca dan jalur melalui pos registrasi resmi. “Jangan mengandalkan sinyal ponsel biasa karena di pegunungan kars seperti Goa Kalibbong, banyak titik blank spot,” imbuhnya.
Gubernur Sulawesi Selatan juga mengimbau agar para pecinta alam muda memperkuat budaya keselamatan, termasuk pelatihan navigasi darat dan penanganan cedera. Ia mengapresiasi kecepatan tim SAR dan relawan yang berhasil mencegah korban jiwa. Sementara itu, Kepala BKSDA setempat mengingatkan bahwa kawasan hutan lindung di sekitar Goa Kalibbong memiliki ekosistem rentan, sehingga pendakian idealnya tidak dilakukan secara massal tanpa pemantauan petugas.
Momen evakuasi ini membuktikan pentingnya solidaritas dan kesiapan multi-pihak dalam menghadapi situasi darurat di alam bebas. Keenam mahasiswa Unhas itu kini berjanji akan menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga, bukan sekadar cerita menakutkan. Mereka bertekad kembali mendaki dengan persiapan yang matang, sebagai wujud penghormatan terhadap alam dan tanggung jawab atas keselamatan diri.
Comments (0)