Dua Kubu Keraton Solo Saling Klaim Gelar Sekaten, Pemerintah Kota Turun Tangan
Tradisi Sekaten yang setiap tahun mewarnai kalender budaya Kota Surakarta kembali digelar. Namun, tahun ini perhelatan itu terbelah dua, merefleksikan dualisme yang masih menggantung di tubuh Keraton ...
Tradisi Sekaten yang setiap tahun mewarnai kalender budaya Kota Surakarta kembali digelar. Namun, tahun ini perhelatan itu terbelah dua, merefleksikan dualisme yang masih menggantung di tubuh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dua pihak yang sama-sama menyandang gelar Pakubuwana XIII—Paku Buwana XIII Purbaya dan Paku Buwana XIII Mangkubumi—masing-masing menginisiasi perayaan di lokasi yang berbeda, meninggalkan Alun-Alun Kidul dan Alun-Alun Lor dalam semarak yang tak lagi tunggal.
Bagi masyarakat Solo, Sekaten bukan sekadar ritual pembacaan syahadat dan pameran kerajinan. Ia adalah napas penghubung antara keraton dengan rakyat, antara sultan agung dengan abdi dalem dan pedagang kecil. Namun, ketika calon raja tak lagi satu suara, napas itu pun terasa sumbang. Di alun‑alun selatan, kubu Purbaya mendirikan panggung megah dengan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu yang diboyong langsung dari dalam istana. Sementara di alun‑alun utara, kubu Mangkubumi menghadirkan perangkat Sekaten lengkap dengan arakan prajurit bregada dan pasar malam yang lebih luas. Keduanya mengklaim sebagai penerus sah tahta yang berhak menyelenggarakan upacara adat ini.
Latar Belakang Dualisme Keraton
Perpecahan di tubuh Keraton Solo bukanlah kisah baru. Sejak wafatnya Paku Buwana XII pada 2004, takhta tertinggi kerajaan Mataram Islam di Surakarta itu belum memiliki pemimpin tunggal yang diakui seluruh lapisan keluarga dan abdi dalem. Kubu Purbaya, yang bernaung di Sasana Mulya, merupakan putra almarhum raja dari permaisuri, sedangkan kubu Mangkubumi, yang berpusat di Kediaman Ngoyudo, adalah kakak tiri yang juga merupakan putra garwa ampeyan. Keduanya telah dinobatkan dalam seremoni terpisah oleh kelompok pendukung masing‑masing, dan hingga kini keduanya berusaha menunjukkan legitimasi simbolik melalui peran kebudayaan, termasuk penyelenggaraan Sekaten.
Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret, Dr. Purwanto, mencatat bahwa Sekaten memiliki bobot politik‑simbolik yang sangat tinggi. “Barang siapa mampu menggelar Garebeg dan Sekaten, ia sedang menegaskan diri sebagai penguasa temporal dan spiritual,” ujarnya. Oleh karena itu, persaingan dua kubu ini bukan hanya tentang siapa yang paling meriah, tetapi tentang pengakuan publik yang lebih luas terhadap eksistensi mereka.
Dua Gelaran, Dua Nuansa
Di Alun‑Alun Selatan, kubu Purbaya mengusung tema “Nglestarekake Budaya Ingkang Adiluhung”, dengan tata panggung yang cenderung lebih adat dan minimalis. Gamelan Sekaten yang dimainkan adalah Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu, yang selama ini diyakini hanya boleh dibunyikan oleh pihak yang sah sesuai tata cara warisan nenek moyang. Ribuan pasang telinga menyimak lantunan gending pusaka yang hanya dibuka selama tujuh hari berturut‑turut, menandai puncak peringatan Maulid Nabi. Di sekeliling area, puluhan pedagang kaki lima menggelar tikar menjual nasi liwet, satai kere, mainan tradisional, dan obat‑obatan jamu. Suasana terasa kental dengan romantisme pasar malam tempo dulu, dan penjaga stan bilik sederhana berjejer rapi tanpa lampu warna‑warni yang mencolok.
Sementara itu, di Alun‑Alun Utara, kubu Mangkubumi menghadirkan perpaduan antara tradisi dan sentuhan modern. Panggung utama dibangun dengan dekorasi mega dan didukung sistem tata suara profesional. Pada malam pembukaan, kirab prajurit Joko Songo, Dwarawati, dan Tamtama berjalan dari halaman Kepatihan menuju pelataran keraton bagian utara, mengarak Gunungan Kakung yang terbuat dari ketan, sayuran, dan hasil bumi. Gunungan itu kemudian diperebutkan oleh ribuan warga yang percaya bahwa cecerannya membawa berkah kesuburan dan rezeki. Selain pameran kerajinan, kubu ini juga menggandeng komunitas ekonomi kreatif yang menjajakan kopi kekinian, batik segar, hingga piringan hitam daur ulang. Salah seorang penjaga stand, Dini Rahmawati, mengaku bahwa ia diundang secara resmi oleh panitia dari kubu Mangkubumi dan tidak tahu menahu soal perpecahan internal keraton. “Saya cuma mau jualan, yang penting ramai dan halal,” katanya.
Pemerintah Kota Turun Tangan
Menyikapi dua perhelatan yang berlangsung serentak pada 12–18 Rabiul Awal ini, Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akhirnya buka suara. Kepala Dinas, Agus Sutrisno, menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa melarang kegiatan budaya yang bersifat spontan dan memiliki akar tradisi yang dalam. “Kami menghormati aspirasi kedua belah pihak. Yang terpenting adalah acara berjalan tertib, aman, dan tidak menimbulkan gesekan antarmassa,” ujar Agus dalam jumpa pers di Pendapi Gede, Rabu (11/6). Pihaknya telah mengerahkan Satpol PP dan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menjaga agar ribuan pengunjung di dua lokasi tidak saling bersinggungan.
Meski demikian, Agus mengakui bahwa situasi ini menyulitkan upaya menjadikan Sekaten sebagai destinasi wisata budaya nasional. “Dengan dua gelaran, branding menjadi tidak fokus. Kami berharap kedua kubu kelak bisa duduk bersama demi pelestarian warisan,” imbuhnya. Wakil Wali Kota yang juga hadir dalam kesempatan itu menambahkan bahwa Pemkot siap memfasilitasi mediasi kapan pun dibutuhkan, namun menolak untuk campur tangan langsung dalam urusan suksesi internal keraton.
Pengamat budaya dari Lembaga Studi Kebudayaan Jawa, R. Bambang Wicaksono, menilai sikap netral pemerintah kota adalah langkah realistis. “Memaksa salah satu kubu untuk mundur hanya akan memperkeruh suasana. Lebih baik memberi ruang yang setara sembari terus mendorong rekonsiliasi melalui jalur pendekatan adat,” katanya. Ia juga menyoroti antusiasme masyarakat yang tetap tinggi terhadap Sekaten, terlepas dari dualisme. “Rakyat butuh hiburan dan berkah, bukan konflik. Mereka datang untuk berdoa dan berdagang, jadi pemerintah cukup memastikan keamanan saja,” tambah Bambang.
Ritual Adat yang Terbelah
Sekaten sendiri merupakan rangkaian upacara yang sarat makna spiritual. Berasal dari kata syahadatain, tradisi ini merupakan warisan Kesultanan Demak yang bertujuan menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya. Di Keraton Surakarta, Sekaten menjadi penanda awal hajatan besar Grebeg Maulud, di mana raja memberi sedekah berupa gunungan hasil bumi kepada rakyat sebagai lambang kesejahteraan dan kesetaraan. Tak lengkap rasanya tanpa kehadiran gamelan pusaka yang hanya dimainkan dalam tujuh hari tersebut, serta pasar malam yang memberi nafas ekonomi bagi punggawa kecil.
Kini, ketika pusaka itu dimainkan di dua tempat berbeda oleh dua pihak yang saling klaim, makna spiritualitasnya seakan terbelah. Mbah Harjo, seorang abdi dalem sepuh berusia 87 tahun yang mengabdikan diri sejak zaman PB XII, mengaku bingung harus memenuhi panggilan yang mana. “Saya ini cuma pelayan. Tugas saya menjaga gamelan. Tapi gamelannya ada di selatan, kok yang utara juga bikin acara. Saya ikut yang biasa saja, ke selatan,” ucapnya lirih saat ditemui di teras rumah dinasnya di kompleks Magangan.
Di sisi lain, sebagian abdi dalem muda justru memilih netral dan tidak hadir di kedua hajatan. Mereka berharap ada titik terang dari sultan yang sebenarnya. “Kami jenuh dengan dualisme. Dulu zaman PB XII, semua padu. Sekarang malah berebut panggung,” kata Bayu Aji, seorang juru masak dapur istana yang turut merasakan dampak perpecahan terhadap kesejahteraan para pamong.
Harapan Persatuan
Di tengah perbedaan tajam, secercah harapan menyala dari peran para ibu. Para garwa kedua kubu dilaporkan diam‑diam menjalin komunikasi informal melalui arisan keluarga besar yang tetap berlangsung rutin. Pesan silaturahmi ini diharapkan bisa mencairkan kebekuan, sehingga suatu hari Keraton Surakarta kembali memiliki satu raja yang diakui semua pihak.
Sementara itu, Pekan Kebudayaan Nasional yang digelar akhir tahun mendatang di Solo disebut‑sebut sebagai momentum potensial bagi rekonsiliasi. Panitia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dikabarkan telah melirik Sekaten sebagai ikon, namun dengan syarat acara tersebut dipayungi oleh satu komando. Tekanan dari luar semacam ini bisa saja menjadi pemicu bagi kedua kubu untuk segera menyelesaikan selisih mereka.
Untuk saat ini, warga Solo tetap bersukacita. Dua pasar malam memberi mereka lebih banyak pilihan kudapan dan lokasi wisata keluarga. Namun di hati mereka, kerinduan akan Keraton yang satu dan utuh tetap membara. “Saya rindu lihat Sinuhun naik kereta kencana dari selatan ke utara, tanpa ada saingan,” ungkap Lastri, warga Laweyan yang datang bersama tiga anaknya. Semoga suatu saat, Sekaten kembali menjadi harmoni yang tak terpecah.
Comments (0)