Dolar Perkasa, Harga Barang Impor Melonjak Hingga 10 Persen

Jakarta, Patokan – Tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai terasa nyata di sektor ritel. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Hippindo) mengungkapkan b...

Aug 07, 2026 - 17:03
0 1
Dolar Perkasa, Harga Barang Impor Melonjak Hingga 10 Persen

Jakarta, Patokan – Tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai terasa nyata di sektor ritel. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Hippindo) mengungkapkan bahwa harga sejumlah barang, terutama produk impor, telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini diperkirakan berkisar antara 5 hingga 10 persen, sebuah angka yang cukup memberatkan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/6/2024), membenarkan adanya penyesuaian harga di tingkat distributor dan gerai. Menurutnya, lonjakan biaya impor akibat penguatan dolar menjadi pemicu utama. “Kami mencatat secara riil di lapangan, harga barang-barang impor seperti elektronik, kosmetik, hingga bahan baku makanan sudah naik. Kenaikannya bervariasi, tapi rata-rata di kisaran 5-10%,” ujarnya.

Biaya Logistik dan Bahan Baku Ikut Terdongkrak

Budihardjo menjelaskan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada produk jadi yang langsung diimpor. Lebih jauh, produk lokal yang menggunakan bahan baku impor juga ikut merasakan dampaknya. Komponen seperti resin untuk plastik, suku cadang mesin, hingga bahan kimia untuk tekstil, semuanya dibeli dalam denominasi dolar. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi otomatis membengkak.

“Ini efek domino. Bahan baku naik, biaya logistik naik karena BBM dan kontainer juga terkait dolar. Akhirnya, harga jual di rak ritel pun harus disesuaikan. Tidak ada pilihan lain jika kami ingin tetap menjaga keberlangsungan usaha,” tambahnya. Ia mencontohkan, untuk kategori elektronik seperti smartphone dan peralatan rumah tangga, kenaikan sudah terlihat jelas di label harga. Sementara untuk produk makanan impor seperti cokelat, keju, dan daging olahan, kenaikan terjadi secara bertahap namun pasti.

Daya Beli Masyarakat Tertekan

Fenomena ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri. Di satu sisi, ritel harus menjaga margin. Di sisi lain, daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik sedang tidak dalam kondisi prima. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi inti masih terkendali, namun tekanan harga dari sisi impor berpotensi menggerus optimisme belanja.

Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan harga barang impor ini akan berdampak pada pola konsumsi. “Masyarakat akan cenderung menunda pembelian barang non-primer. Mereka akan lebih selektif dan mencari substitusi yang lebih murah. Ini bisa menekan pertumbuhan penjualan ritel pada kuartal-kuartal mendatang,” jelas Yusuf saat dihubungi terpisah.

Hippindo sendiri berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah stabilisasi nilai tukar. Beberapa kebijakan yang diusulkan antara lain insentif fiskal untuk barang modal impor yang digunakan untuk produksi, serta percepatan proses kepabeanan untuk mengurangi biaya penyimpanan di pelabuhan. “Kami tidak ingin harga terus merangkak naik. Kami ingin ada kepastian agar pelaku usaha bisa merencanakan stok dan harga dengan lebih baik,” tegas Budihardjo.

Prediksi Harga Belum Akan Turun

Meski demikian, para pelaku usaha pesimis harga akan turun dalam waktu dekat. Selama tekanan geopolitik global dan kebijakan suku bunga The Fed belum menunjukkan tanda pelonggaran, dolar diprediksi akan tetap perkasa. Para retailer pun mulai melakukan efisiensi internal, seperti menekan biaya operasional dan menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok.

“Kami juga berupaya mencari pemasok alternatif dari negara-negara yang mata uangnya tidak terlalu kuat terhadap rupiah, misalnya dari China atau Korea Selatan, meskipun tetap ada komponen dolar di dalamnya. Namun, ini hanya solusi sementara,” ungkap Budihardjo.

Konsumen pun diimbau untuk lebih bijak dalam berbelanja. Memanfaatkan promo dan program loyalitas menjadi salah satu cara untuk meringankan beban. Namun, jika pelemahan rupiah berlanjut, bukan tidak mungkin kenaikan harga akan kembali terjadi pada semester kedua tahun ini. Pemerintah diharapkan tidak tinggal diam, karena stabilitas harga menjadi kunci utama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan kondisi yang ada, para pengusaha ritel berharap adanya kolaborasi erat antara Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan untuk menciptakan skema yang dapat meredam gejolak harga. Pasalnya, sektor ritel merupakan salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap jutaan tenaga kerja. Jika sektor ini tertekan, dampaknya akan meluas ke seluruh rantai ekonomi, dari produsen hingga konsumen akhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User