Debit Air Situ Gede Tasikmalaya Menyusut Drastis, Sektor Wisata dan Pertanian Lumpuh
Danau Ikonik di Ambang Kekeringan Pemandangan di kawasan Situ Gede, Tasikmalaya, kini jauh dari kata elok seperti biasanya. Hamparan air yang dulu membent
Danau Ikonik di Ambang Kekeringan
Pemandangan di kawasan Situ Gede, Tasikmalaya, kini jauh dari kata elok seperti biasanya. Hamparan air yang dulu membentang luas dan menjadi daya tarik utama wisatawan kini berubah menjadi dataran lumpur retak-retak. Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Priangan Timur telah menyebabkan debit air Situ Gede menyusut lebih dari 60 persen dalam dua bulan terakhir, meninggalkan jejak kekeringan yang mengancam sendi kehidupan masyarakat sekitar.
Permukaan air yang terus menjauh dari bibir danau tidak hanya mengubah lanskap visual kawasan ini, tetapi juga memukul telak dua sektor ekonomi andalan warga: pariwisata dan pertanian. Para pedagang yang biasa menggelar lapak di sekitar area wisata kini lebih sering menganggur, sementara para petani mulai menghitung hari menuju gagal panen jika hujan tak kunjung turun.
Wisata Sepi, Pendapatan Warga Anjlok
Biasanya, akhir pekan adalah masa panen rezeki bagi warga di sekitar Situ Gede. Perahu-perahu bebek warna-warni hilir mudik mengantar pengunjung, warung-warung makan penuh sesak, dan area parkir tak pernah sepi dari kendaraan. Namun situasi berbalik drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Junaedi (47), seorang penyedia jasa perahu wisata yang telah menggeluti usahanya selama lebih dari satu dekade, mengaku belum pernah melihat kondisi seburuk ini. Suaranya bergetar saat menceritakan keterpurukan yang ia alami.
"Biasanya sehari bisa dapat Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, sekarang paling banter cuma Rp 30 ribu. Itu pun kadang nihil. Pengunjung lihat airnya surut, mereka langsung putar balik," ujar Junaedi dengan nada getir.
Tidak hanya operator perahu, puluhan pedagang makanan dan suvenir di sekitar area wisata juga merasakan dampak yang sama. Rata-rata penurunan pendapatan mencapai 70 hingga 80 persen dibandingkan kondisi normal. Beberapa di antaranya bahkan memilih tutup sementara karena tidak mampu menutup biaya operasional harian.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Situ Gede, Ahmad Sudrajat, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang kian parah. Menurut catatannya, tingkat kunjungan wisatawan turun hingga 85 persen pada puncak musim kemarau kali ini, angka terburuk dalam lima tahun terakhir.
"Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi jangka panjang. Ini bukan cuma soal wisata, tapi menyangkut hajat hidup orang banyak," tegas Sudrajat.
Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Ujung Tanduk
Di luar dampak pariwisata, ancaman yang lebih serius mengintai sektor pertanian. Situ Gede selama ini berfungsi ganda: sebagai destinasi rekreasi sekaligus sumber irigasi vital bagi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Mangkubumi dan sekitarnya. Saat air danau menyusut, sistem pengairan otomatis terganggu.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, sedikitnya 350 hektare lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air dari Situ Gede terancam kekeringan. Lahan tersebut mencakup areal persawahan dan perkebunan palawija yang menjadi tumpuan hidup ribuan keluarga petani.
Karsim (52), seorang petani di Desa Cikunir yang lahannya berjarak sekitar dua kilometer dari Situ Gede, mengungkapkan kecemasannya. Tanaman padi miliknya yang baru berusia 40 hari sudah mulai menunjukkan gejala kekurangan air.
"Daun padi sudah mulai menguning. Kalau seminggu lagi tidak dapat air, saya harus rela gagal panen. Modal sudah habis untuk beli bibit dan pupuk, sekarang tinggal pasrah," katanya lirih.
Ia menambahkan, puluhan petani di desanya kini bergiliran mengambil air menggunakan pompa diesel dari sisa-sisa genangan di dasar danau. Namun metode darurat ini tidak bisa bertahan lama karena debit air terus berkurang drastis setiap harinya.
Fenomena El Nino dan Minimnya Infrastruktur
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung telah mengeluarkan peringatan dini terkait fenomena El Nino moderat yang berdampak signifikan terhadap curah hujan di wilayah Jawa Barat, termasuk Tasikmalaya. Curah hujan di wilayah ini tercatat lebih rendah 40 persen dibandingkan rata-rata tahunan pada periode yang sama.
Namun, faktor alam bukanlah satu-satunya penyebab krisis ini. Pengamat lingkungan dari Universitas Siliwangi, Dr. Ir. Maman Suherman, menyoroti minimnya upaya konservasi dan pendangkalan danau sebagai faktor yang memperparah kondisi.
"Sedimentasi di Situ Gede sudah berlangsung puluhan tahun tanpa penanganan serius. Kapasitas tampung danau terus menurun. Ditambah dengan berkurangnya daerah tangkapan air di hulu akibat alih fungsi lahan, ini menjadi bom waktu yang akhirnya meledak saat kemarau panjang melanda," papar Suherman.
Data dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) menunjukkan bahwa kedalaman Situ Gede telah berkurang hingga 2,5 meter dalam dua dekade terakhir akibat sedimentasi. Tanpa upaya pengerukan dan rehabilitasi yang serius, para ahli memperingatkan bahwa danau ini bisa kehilangan fungsinya secara permanen dalam beberapa tahun ke depan.
Upaya Penanganan dan Harapan ke Depan
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mulai mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak menggunakan truk tangki. Namun bantuan ini dinilai masih jauh dari cukup mengingat luasnya area yang terkena dampak.
Sekretaris BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Dede Suhendra, menyatakan pihaknya sedang mengupayakan koordinasi lintas sektoral untuk penanganan jangka menengah. Rencana pengerukan dasar danau dan normalisasi saluran irigasi menjadi prioritas yang diusulkan dalam anggaran perubahan tahun ini.
Sementara itu, warga berharap hujan segera turun dan pemerintah bergerak lebih cepat. Di tengah ketidakpastian iklim dan minimnya infrastruktur, Situ Gede yang dulu menjadi kebanggaan Tasikmalaya kini menjelma menjadi cermin rapuhnya ketahanan ekologi dan ekonomi masyarakat.
[SOCIAL_TWEET]: Situ Gede Tasikmalaya menyusut drastis! 60% debit air hilang, wisata anjlok 85%, dan 350 hektare lahan pertanian terancam gagal panen. Fenomena El Nino dan pendangkalan danau jadi ancaman serius. Warga dan petani menjerit minta solusi cepat. #SituGede #Tasikmalaya #Kekeringan[SOCIAL_TG]: 🏞️ Situ Gede Tasikmalaya mengering! Debit air anjlok 60 persen, wisatawan kabur, dan 350 hektare sawah petani terancam. Pendangkalan sejak puluhan tahun tak tertangani, kini bencananya terasa.💧
Comments (0)