Danantara Incar Bandara Madinah, Rosan Lapor ke Prabowo
Jakarta, Patokan – Langkah strategis Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk memperluas sayap investasi ke Timur Tengah mencuat ke publik. CEO Danantara, Rosan Roeslani, dikonfirmasi telah m...
Jakarta, Patokan – Langkah strategis Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk memperluas sayap investasi ke Timur Tengah mencuat ke publik. CEO Danantara, Rosan Roeslani, dikonfirmasi telah menyampaikan laporan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai peluang kepemilikan saham di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz di Madinah, Arab Saudi. Inisiatif ini menjadi sorotan karena menandai ambisi besar Indonesia dalam mengelola aset vital di luar negeri.
Menurut sumber internal yang dekat dengan isu tersebut, Rosan melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu sore. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, Rosan memaparkan secara rinci hasil kunjungan kerja yang dilakukannya ke Arab Saudi beberapa waktu lalu. Fokus utama pembahasan adalah tawaran yang diterima Danantara untuk menjadi salah satu pemilik saham bandara yang melayani jutaan jamaah haji dan umrah setiap tahunnya.
“Bapak Presiden sangat antusias dengan peluang ini. Beliau melihat ini sebagai langkah kongkret untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah investasi global, sekaligus membuka pintu bagi peningkatan kerja sama ekonomi bilateral dengan Arab Saudi,” ujar seorang pejabat tinggi yang enggan disebutkan namanya kepada Patokan, Kamis (12/10/2025).
Bandara Madinah bukanlah bandara biasa. Sebagai salah satu gerbang utama menuju Masjid Nabawi, bandara ini memiliki lalu lintas penumpang yang sangat tinggi, terutama selama musim haji dan umrah. Data menunjukkan bahwa lebih dari 8 juta penumpang melewati bandara ini setiap tahunnya, dengan proyeksi pertumbuhan yang terus meningkat seiring dengan visi Arab Saudi untuk menarik 30 juta jamaah umrah per tahun pada 2030.
Potensi keuntungan finansial dari kepemilikan saham di bandara ini sangat menggiurkan. Selain pendapatan dari biaya layanan bandara, Danantara juga akan mendapatkan keuntungan dari pengembangan komersial seperti retail, hotel, dan logistik. Lebih dari itu, keterlibatan Indonesia dalam pengelolaan bandara ini akan memperkuat diplomasi dan memberikan pengaruh strategis di kawasan.
Rosan Roeslani, yang dikenal sebagai sosok dengan jaringan internasional yang luas, sebelumnya telah melakukan serangkaian pertemuan dengan pejabat tinggi Arab Saudi, termasuk Menteri Investasi Khalid Al-Falih dan pimpinan otoritas penerbangan sipil Saudi. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, diskusi tidak hanya terbatas pada bandara, tetapi juga mencakup potensi investasi di sektor energi terbarukan, pertambangan, dan infrastruktur. Namun, tawaran kepemilikan bandara Madinah disebut-sebut sebagai yang paling konkret dan cepat untuk direalisasikan.
Jika kesepakatan ini terwujud, Danantara akan bergabung dengan konsorsium internasional yang sudah lebih dulu menanamkan modal di bandara tersebut. Sebelumnya, pada tahun 2022, konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan asal Tiongkok dan Singapura telah memenangkan tender untuk mengelola bandara Madinah dengan skema Public-Private Partnership (PPP). Kini, Danantara berpeluang masuk sebagai pemegang saham baru melalui skema right issue atau pembelian saham dari pemegang saham yang ada.
Langkah Berani di Tengah Normalisasi Ekonomi
Langkah ini dinilai berani oleh sejumlah pengamat ekonomi. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekspansi aset ke luar negeri sering kali dianggap berisiko. Namun, pemerintah memiliki pandangan berbeda. Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang agresif dan diversifikasi investasi. Danantara, sebagai sovereign wealth fund yang baru dibentuk, memiliki mandat untuk mencari peluang investasi yang memberikan nilai tambah jangka panjang bagi negara.
“Ini bukan sekadar membeli aset, tapi membangun kehadiran. Dengan memiliki saham di bandara yang menjadi pintu masuk jutaan umat Islam dari seluruh dunia, Indonesia bisa memanfaatkan posisi tersebut untuk mendorong ekspor produk halal, pariwisata, dan investasi timbal balik,” jelas seorang analis kebijakan publik dari Universitas Indonesia.
Selain itu, langkah ini juga dilihat sebagai upaya untuk mengimbangi dominasi negara-negara Teluk dalam pengelolaan aset infrastruktur global. Dengan masuknya Danantara, Indonesia akan menjadi salah satu negara Asia Tenggara pertama yang memiliki saham di bandara internasional Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi sendiri menyambut baik minat Indonesia. Hubungan bilateral kedua negara yang sudah kuat di bidang keagamaan dan ketenagakerjaan diharapkan dapat diperluas ke bidang ekonomi dan investasi. Dalam kunjungan Rosan ke Riyadh, ia juga bertemu dengan pimpinan Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi untuk membahas potensi kerja sama investasi di berbagai sektor.
Langkah Selanjutnya
Meski peluangnya terbuka lebar, proses negosiasi masih panjang. Danantara perlu melakukan uji tuntas (due diligence) yang mendalam untuk memastikan nilai investasi yang wajar dan perlindungan hukum yang kuat. Selain itu, persetujuan dari berbagai otoritas, baik di Indonesia maupun Arab Saudi, juga diperlukan.
Rosan Roeslani dalam laporannya kepada Presiden Prabowo menyatakan bahwa target penyelesaian negosiasi awal ditargetkan pada kuartal pertama tahun 2026. “Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah untuk kepentingan terbaik negara. Kami akan bekerja dengan transparan dan profesional,” ujar Rosan dalam keterangan resmi yang dikeluarkan Danantara.
Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia. Keberhasilan Danantara mengamankan kepemilikan di Bandara Madinah tidak hanya akan memberikan dividen finansial, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi Indonesia di mata dunia. Dengan langkah ini, Indonesia menunjukkan bahwa ia siap bermain di liga besar investasi global.
Publik kini menanti realisasi dari rencana ambisius ini. Apakah Danantara akan berhasil menembus persaingan ketat dan mengamankan saham di salah satu bandara tersibuk di Timur Tengah? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, pemerintah dan Danantara telah menunjukkan keseriusan yang tinggi untuk membawa Indonesia ke panggung investasi dunia.
Comments (0)