Calon Taruna Kalteng Cetak Skor Lari Tertinggi Seleksi Akpol 2026

Lari 12 Menit yang Memecahkan Rekor Seleksi masuk Akademi Kepolisian Republik Indonesia selalu menjadi ajang kompetisi yang ketat. Ribuan pemuda dan pemudi dari seluruh pelosok negeri berlomba menunju...

Jul 28, 2026 - 01:58
0 0
Calon Taruna Kalteng Cetak Skor Lari Tertinggi Seleksi Akpol 2026

Lari 12 Menit yang Memecahkan Rekor

Seleksi masuk Akademi Kepolisian Republik Indonesia selalu menjadi ajang kompetisi yang ketat. Ribuan pemuda dan pemudi dari seluruh pelosok negeri berlomba menunjukkan kemampuan terbaik mereka, baik dari sisi akademik, psikologi, maupun jasmani. Namun, pada gelombang seleksi tahun 2026, satu nama muncul dan langsung mencuri perhatian. Jonathan Putra Siregar, pemuda asal Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah, sukses menorehkan catatan fenomenal dalam uji fisik, tepatnya pada tes lari jarak 12 menit. Ia mencatatkan jarak tempuh 3.575 meter, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir di tingkat seleksi Akpol. Angka itu jauh melampaui standar minimal kelulusan, bahkan diberitakan sebagai yang tertinggi dibandingkan seluruh peserta se-Indonesia.

Menurut informasi yang dihimpun, tes lari 12 menit merupakan bagian dari rangkaian pengujian kesamaptaan jasmani yang wajib diikuti seluruh calon taruna. Tes ini dirancang untuk mengukur daya tahan jantung dan paru-paru (kardiorespirasi) serta ketahanan otot kaki. Peserta diminta berlari sekencang mungkin di lintasan atletik standar dalam waktu yang telah ditentukan, dan jarak jangkauan menjadi indikator penilaian. Panitia seleksi biasanya menetapkan nilai maksimal apabila peserta mampu menempuh jarak 3.200 meter atau lebih untuk kategori putra. Namun, capaian Jonathan yang menembus angka 3.575 meter jelas berada di level yang sangat superior, sehingga ia otomatis memperoleh skor sempurna plus rekor tak tertulis di tingkat panitia daerah maupun pusat.

Seorang sumber dari tim seleksi, yang enggan disebutkan namanya, mengaku takjub saat melihat hasil pencatatan waktu dan jarak yang dicapai Jonathan. "Biasanya peserta yang sangat fit sekalipun hanya mampu menyentuh 3.300 hingga 3.400 meter. Melewati 3.500 meter itu jarang sekali. Ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki mesin tubuh yang luar biasa," ujarnya. Kekaguman itu semakin beralasan mengingat tes ini dilakukan setelah serangkaian uji fisik lain seperti pull-up, sit-up, push-up, dan shuttle run, yang pastinya sudah menguras energi.

Lebih dari Sekadar Bakat Alamiah

Keberhasilan Jonathan bukanlah sesuatu yang instan. Berdasarkan penuturan rekan-rekannya, pemuda kelahiran 2005 itu telah mempersiapkan diri selama hampir dua tahun. Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, ia sudah menunjukkan minat besar pada olahraga atletik, khususnya lari jarak menengah. Ia bahkan tergabung dalam klub lari lokal di Palangka Raya dan rutin mengikuti kejuaraan antarpelajar. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia menyempatkan diri berlari 5 hingga 10 kilometer di sepanjang tepian Sungai Kahayan, membangun fondasi endurance yang kuat. Kedisiplinan itu pula yang membuatnya tetap tenang saat menghadapi tahapan seleksi yang melelahkan.

Tidak hanya mengandalkan latihan fisik, Jonathan juga menjaga pola makan dan istirahat dengan ketat. Ia menghindari makanan olahan dan minuman bersoda, menggantinya dengan asupan tinggi protein serta karbohidrat kompleks. Bahkan, menjelang hari uji fisik, ia melakukan tapering—mengurangi volume latihan agar otot-ototnya dalam kondisi segar. Strategi tersebut terbukti efektif. "Saya hanya fokus pada teknik pernapasan dan ritme langkah. Saya tidak mau terlalu cepat di awal, tapi saya juga tidak mau meninggalkan sisa tenaga di akhir," tuturnya kepada media setempat seusai menjalani tes. Pernyataan itu menggambarkan kedewasaan dan pemahamannya akan manajemen energi, sesuatu yang kerap luput dari calon peserta lain yang terpacu ego untuk sprint sejak awal.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Capaian Jonathan Putra Siregar memunculkan optimisme baru di kalangan pembina calon taruna, terutama di daerah-daerah yang selama ini minim terwakili di Akpol. Kalimantan Tengah sendiri bukanlah daerah yang setiap tahun mengirimkan banyak taruna ke Akpol, sehingga prestasi ini dianggap mampu mematahkan stigma bahwa hanya wilayah tertentu yang bisa melahirkan bibit unggul polisi. "Ini bukti bahwa dengan kemauan keras dan latihan terstruktur, anak daerah juga bisa bersaing di level nasional," ujar seorang pemerhati pendidikan kepolisian. Pihak kepolisian daerah setempat pun dikabarkan akan memberikan apresiasi khusus kepada Jonathan sebagai bentuk motivasi bagi pemuda lainnya.

Lebih jauh, rekor lari ini menyoroti kembali pentingnya aspek kebugaran dalam profesi kepolisian. Seorang polisi, terutama taruna Akpol yang nantinya akan menjadi perwira, dituntut memiliki fisik prima—bukan hanya untuk keperluan operasional, tetapi juga untuk membangun ketahanan mental. Tes Cooper 12 menit yang dijalani Jonathan sejatinya diadopsi dari paradigma militer modern, dan hasilnya sering dijadikan tolok ukur potensi seseorang dalam menghadapi tekanan fisik di lapangan. Dengan mengantongi skor sempurna, Jonathan menunjukkan bahwa ia siap menempuh pendidikan dasar kepolisian yang terkenal keras.

Meski demikian, perjalanan Jonathan belum sepenuhnya selesai. Ia masih harus melalui tahap akhir seleksi, termasuk tes kesehatan jiwa dan pemeriksaan administrasi. Apabila seluruh tahapan itu lolos, ia akan resmi menyandang status sebagai calon taruna Akpol dan mulai mengikuti pendidikan di Kampus Akpol, Semarang. Namun, prestasi di tes fisik ini sudah cukup membuat namanya harum dan membuktikan bahwa impian boleh tinggi, asalkan diiringi usaha yang tak kenal lelah.

Masyarakat Kalimantan Tengah pun menyambut gembira kabar ini. Banyak ucapan selamat dan dukungan membanjiri media sosial, menandakan bahwa publik merindukan sosok pemuda yang tidak hanya pintar, tetapi juga kuat secara fisik. Jonathan Putra Siregar, dengan langkah kakinya yang memesona pada 12 menit penuh keringat itu, telah menulis ulang standar fisik seleksi Akpol. Kini, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan momentum itu selama empat tahun pendidikan, dan semoga kelak ia menjadi perwira polisi yang bisa diandalkan bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User