Brussels, Uni Eropa — Uni Eropa resmi mengumumkan perombakan besar-besaran terhadap Sistem
Revisi ambisius ini diumumkan pada Jumat (17/7) oleh Komisi Eropa sebagai bagian dari strategi memperkuat mekanisme insentif ekonomi bagi pelaku usaha untu
Revisi ambisius ini diumumkan pada Jumat (17/7) oleh Komisi Eropa sebagai bagian dari strategi memperkuat mekanisme insentif ekonomi bagi pelaku usaha untuk mengurangi jejak karbon mereka. ETS sendiri merupakan instrumen utama blok 27 negara tersebut dalam menetapkan harga karbon dan mendorong dekarbonisasi lintas sektor.
“Aviasi adalah satu-satunya sektor utama yang emisinya justru meningkat, bukan menurun. Pada saat yang sama, UE menghadapi isu level playing field: saat ini ETS hanya mencakup Kawasan Ekonomi Eropa dan cukup banyak negara, khususnya di Teluk, memberikan subsidi kepada maskapai mereka,”
tegas Komisioner Iklim UE Wopke Hoekstra dalam konferensi pers.
Reformasi yang Dinanti Sejak 2005
Perubahan ini menandai salah satu reformasi paling fundamental terhadap ETS sejak diluncurkan pertama kali pada 2005. Fokus utama revisi kali ini adalah memperluas cakupan sektor yang terkena kewajiban, sekaligus memperketat mekanisme alokasi kuota gratis bagi industri manufaktur.
Dalam kerangka baru, perusahaan industri akan tetap menerima kuota emisi gratis setelah 2030, namun dengan syarat yang jauh lebih ketat. Mereka hanya akan memperoleh 80 persen dari alokasi gratis setelah mempublikasikan rencana investasi dekarbonisasi yang telah disetujui dewan direksi. Sisa 20 persen kuota hanya akan dicairkan setelah investasi tersebut benar-benar direalisasikan dan pengurangan emisi terbukti tercapai.
“Reformasi ini adalah tentang menyatukan aksi iklim yang ambisius dengan daya saing. Sistem baru akan lebih banyak memberikan penghargaan kepada perusahaan yang telah berinvestasi untuk menjadi hijau,”
tambah Hoekstra.
Mekanisme Baru yang Mengikat
Salah satu poin krusial dalam revisi ini adalah kewajiban baru bagi pemerintah negara anggota. Selama ini, dari total pendapatan ETS yang diterima negara anggota—sekitar 80 persen dari keseluruhan—hanya kurang dari 10 persen yang benar-benar diinvestasikan kembali untuk dekarbonisasi sektor industri. Melihat realita tersebut, Komisi Eropa kini mewajibkan setiap negara anggota untuk mengalokasikan 50 persen dari pendapatan nasional ETS mereka khusus untuk investasi dekarbonisasi di sektor-sektor yang tercakup dalam skema perdagangan emisi ini.
Kebijakan penerbangan internasional menjadi sorotan utama karena selama ini sektor aviasi mendapat pengecualian signifikan. Dengan cakupan baru hingga radius 5.000 kilometer, rute-rute dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Asia akan terkena dampak langsung. Ini merupakan respons terhadap tekanan kompetitif dari maskapai-maskapai yang mendapat subsidi besar dari negara asal mereka, terutama di kawasan Teluk.
Tantangan Politik dan Lobi Industri
Proposal ini dipastikan akan menghadapi medan lobi yang intensif di Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa. Sejumlah sektor industri telah menyuarakan kekhawatiran tentang beban tambahan yang dapat menggerus daya saing global mereka. Namun, Komisi Eropa berargumen bahwa reformasi ini justru dirancang untuk menciptakan kesetaraan kompetitif dan mendorong inovasi teknologi bersih.
Pengamat kebijakan iklim menilai bahwa langkah UE ini akan menjadi preseden global tentang bagaimana instrumen perdagangan karbon dapat berevolusi dari sekadar mekanisme pasar menjadi alat transformasi industri yang lebih terarah dan akuntabel. Dengan mengaitkan alokasi kuota gratis pada realisasi investasi nyata, UE berupaya menutup celah antara komitmen di atas kertas dan aksi di lapangan.
Proses legislasi diperkirakan akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, dengan potensi amendemen substansial sebelum akhirnya diadopsi menjadi regulasi yang mengikat seluruh 27 negara anggota Uni Eropa.
[SOCIAL_FB]: Uni Eropa resmi memperluas cakupan Sistem Perdagangan Emisi (ETS) ke sektor penerbangan internasional. Mulai 2029, semua penerbangan yang tiba dari destinasi dalam radius 5.000 km wajib membayar emisi karbon mereka. Reformasi ini juga memperketat alokasi kuota gratis bagi industri—20 persen kuota baru cair setelah investasi dekarbonisasi benar-benar terealisasi. Negara anggota pun kini diwajibkan mengalokasikan 50 persen pendapatan ETS untuk program dekarbonisasi. Ini adalah revisi terbesar sejak ETS diluncurkan tahun 2005. #EmisiKarbon #UniEropa #KebijakanIklim Komisi Eropa akhirnya mengumumkan perombakan Sistem Perdagangan Emisi (ETS) yang akan mewajibkan seluruh penerbangan internasional ke Eropa membayar emisi CO2—berlaku untuk rute dalam radius 5.000 km. Ini adalah revisi paling fundamental sejak 2005. Poin penting: 1) Industri tetap terima kuota gratis, tapi 20% baru cair setelah investasi hijau terbukti; 2) Negara anggota wajib alokasikan 50% pendapatan ETS untuk dekarbonisasi; 3) Aturan ini respons atas subsidi maskapai asing yang tak setara. Proposal kini masuk ke Parlemen dan Dewan UE untuk amendemen. #EmisiKarbon #UniEropa #KebijakanIklim [TAGS]: Emisi Karbon, Sistem Perdagangan Emisi, Uni Eropa, Kebijakan Iklim, Penerbangan Internasional
Comments (0)