Bendung Katulampa Kering Kerontang, Debit Ciliwung Sentuh Titik Nol
BOGOR – Kondisi memprihatinkan terlihat di salah satu pos pemantauan vital Sungai Ciliwung, Bendung Katulampa. Selama sepekan terakhir, permukaan air di bendung yang terletak di Kota Bogor, Jawa Bar...
BOGOR – Kondisi memprihatinkan terlihat di salah satu pos pemantauan vital Sungai Ciliwung, Bendung Katulampa. Selama sepekan terakhir, permukaan air di bendung yang terletak di Kota Bogor, Jawa Barat, itu terus menyusut hingga akhirnya menyentuh angka 0 sentimeter. Tidak ada aliran air yang terdeteksi di pintu air, menandakan bahwa debit sungai benar-benar terhenti.
Fenomena ini bukan sekadar anomali cuaca, melainkan puncak dari musim kemarau panjang yang melanda kawasan hulu dan tengah DAS Ciliwung. Minimnya curah hujan selama beberapa bulan terakhir membuat pasokan air dari Gunung Pangrango dan sekitarnya tidak mampu mengisi aliran sungai secara normal. Petugas pos pemantauan Katulampa membenarkan bahwa pengukuran tinggi muka air (TMA) secara manual dan otomatis menunjukkan angka kosong, sehingga peringatan dini banjir yang biasa dikirim ke Jakarta kini berganti menjadi peringatan kekeringan.
Peran Vital Bendung Katulampa
Bendung Katulampa selama ini dikenal sebagai barometer utama potensi banjir di Ibu Kota. Setiap kali hujan deras mengguyur Puncak dan sekitarnya, kenaikan TMA di bendung ini langsung dikabarkan ke Jakarta untuk mengantisipasi limpasan air yang akan tiba 9–12 jam kemudian. Namun, fungsi itu kini lumpuh total. Tidak ada sinyal bahaya banjir, tetapi lahir sinyal bahaya baru: ancaman krisis air bersih dan kerusakan ekosistem sungai.
Ketiadaan aliran di Katulampa bukan berarti air di Ciliwung benar-benar lenyap. Di bagian hilir, aliran masih ada karena sumbangan dari anak sungai dan mata air lokal, tetapi volumenya jauh di bawah normal. Debit yang biasanya mencapai puluhan meter kubik per detik saat musim hujan kini menyusut menjadi tetesan kecil yang nyaris tak terukur. Bahkan, di beberapa bagian sungai di kawasan Bogor, dasar sungai yang berbatu-batu terlihat jelas dan menyisakan genangan-genangan terisolasi.
Dampak Meluas ke Sektor Air Minum
Kekeringan di Bendung Katulampa berimbas langsung pada pasokan air baku bagi perusahaan daerah air minum (PDAM) yang mengandalkan Sungai Ciliwung. Instalasi pengolahan air di kawasan Depok dan Jakarta Selatan mulai melaporkan penurunan kapasitas produksi karena intake air tidak terpenuhi. Warga di beberapa kelurahan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur mengeluhkan aliran PDAM yang mengecil atau bahkan mati pada jam-jam tertentu. Antrean jeriken di permukiman padat penduduk pun kembali muncul, mengingatkan pada krisis air tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, petani di sepanjang aliran Ciliwung, khususnya di wilayah Bogor dan Depok, mulai menjerit. Tanaman sayuran dan palawija yang selama ini bergantung pada irigasi dari sungai terancam gagal panen. Saluran irigasi primer yang bercabang dari bendung kini kosong melompong. Beberapa petani terpaksa menyedot air dari sumur dangkal yang juga mulai surut, atau bahkan membiarkan lahannya mengering sambil berharap hujan segera datang.
Penyebab dan Perubahan Pola Iklim
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa tahun ini Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya akibat kombinasi El Niño lemah hingga moderat dan fenomena Dipole Mode Positif di Samudra Hindia. Dampaknya, curah hujan di sebagian besar Jawa, termasuk Bogor, turun drastis hingga kurang dari 50 milimeter per bulan, jauh di bawah ambang normal yang mencapai 200–300 milimeter.
Hulu Ciliwung yang biasanya menjadi daerah tangkapan air andalan kini kehilangan fungsinya. Kerusakan hutan di kawasan Puncak dan alih fungsi lahan menjadi vila serta hotel telah menurunkan daya serap tanah. Saat hujan turun, air langsung mengalir deras sebagai banjir; saat kemarau, tanah tidak menyimpan cukup air untuk melepaskan secara perlahan ke sungai. Akibatnya, ekstrem hidrologi antara banjir dan kekeringan semakin tajam. Bendung Katulampa menjadi saksi bisu perubahan fungsi daerah aliran sungai yang kian tidak sehat.
Upaya Darurat dan Antisipasi
Pemerintah Kota Bogor bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane telah menggelar rapat darurat. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah mengoperasikan pompa-pompa dari sumber air tanah untuk menyuplai warga terdekat, serta mendistribusikan tangki-tangki air bersih gratis ke permukiman yang paling terdampak. Namun, solusi semacam itu hanya bersifat jangka pendek dan membutuhkan biaya besar.
Untuk jangka menengah, BBWS berencana mempercepat pembangunan embung-embung kecil di sekitar hulu dan tengah Ciliwung yang akan berfungsi sebagai penampung air saat hujan dan pelepas lambat saat kemarau. Rehabilitasi kawasan hutan dan pembatasan bangunan di zona sempadan sungai juga digaungkan kembali oleh para pegiat lingkungan. “Kalau kita tidak segera memperbaiki tutupan hutan di Puncak, Katulampa akan semakin sering kering di musim kemarau dan semakin brutal banjirnya di musim hujan,” ujar seorang pengamat tata ruang dalam diskusi daring.
Kondisi Serupa di Musim Kemarau Sebelumnya
Kejadian bendung mengering sebenarnya bukan kali ini saja. Pada 2018 dan 2019, Katulampa juga pernah menyentuh nol sentimeter. Namun, durasi kekeringan tahun ini diperkirakan akan lebih panjang karena prediksi awal musim hujan mundur hingga November. Jika benar demikian, maka Jakarta dan sekitarnya harus bersiap menghadapi defisit air bersih yang lebih serius. Gubernur DKI Jakarta telah mengimbau warganya untuk menghemat penggunaan air dan melaporkan kebocoran pipa secepatnya.
Sementara itu, rasa was-was mulai menghinggapi warga yang tinggal di bantaran Ciliwung. Biasanya, mereka lebih takut banjir. Kini, justru ketiadaan air yang membuat resah: sumur-sumur pompa mulai berbau dan berwarna keruh karena muka air tanah menurun. Beberapa titik di Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, sudah tercium bau lumpur terbuka dari dasar sungai yang mengering.
Dengan segala kerumitan ini, Bendung Katulampa yang membisu adalah cermin rapuhnya ketahanan air Jabodetabek. Tanda bahaya krisis air telah berbunyi, dan kini tinggal ditunggu, apakah akan dijawab dengan tindakan nyata atau kembali menjadi rutinitas musiman yang cepat dilupakan begitu hujan tiba.
Comments (0)