Bapanas Libatkan Importir demi Stabilisasi Harga Bawang Putih

Jakarta – Upaya menjaga ketersediaan sekaligus menekan gejolak harga bawang putih di Indonesia, khususnya di wilayah timur, terus digenjot. Badan Pangan Nasional (Bapanas) kini resmi merangkul para ...

Jul 28, 2026 - 04:58
0 0
Bapanas Libatkan Importir demi Stabilisasi Harga Bawang Putih

Jakarta – Upaya menjaga ketersediaan sekaligus menekan gejolak harga bawang putih di Indonesia, khususnya di wilayah timur, terus digenjot. Badan Pangan Nasional (Bapanas) kini resmi merangkul para pelaku usaha, termasuk distributor dan importir, untuk memperkokoh rantai pasok komoditas strategis tersebut. Langkah kolaboratif ini diproyeksikan akan mengurai hambatan distribusi yang kerap menjadi biang keladi lonjakan harga.

Selama ini, disparitas harga bawang putih antara Pulau Jawa dan kawasan timur Indonesia masih cukup tinggi. Tingginya ongkos angkut, terbatasnya infrastruktur pelabuhan, serta minimnya armada pengiriman langsung menjadi penyebab utama. Akibatnya, masyarakat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi bagian tengah kerap harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan bumbu dapur yang satu ini.

Bapanas menilai bahwa ketergantungan pada mekanisme pasar semata tidak cukup. Diperlukan intervensi terencana dengan melibatkan pihak-pihak yang menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir. “Kami sudah mengadakan pertemuan intensif dengan sejumlah importir besar dan distributor nasional. Intinya, mereka siap memperluas jaringan pengiriman hingga ke pelosok timur,” ujar Kepala Bapanas melalui keterangan tertulis, Kamis (1/5/2025).

Menjangkau Wilayah yang Terabaikan

Selama ini, sebagian besar impor bawang putih yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak atau Tanjung Priok langsung didistribusikan ke pasar induk di Jawa dan Sumatera. Hanya sebagian kecil yang diteruskan ke Indonesia timur, itupun dengan biaya tambahan yang membuat harga eceran membengkak. Kemitraan baru ini diharapkan menciptakan jalur distribusi khusus yang lebih efisien, memangkas mata rantai tengkulak yang kerap mempermainkan harga.

Importir yang digandeng akan diberi insentif berupa kemudahan perizinan serta dukungan logistik dari pemerintah daerah. Sebagai imbal balik, mereka wajib memenuhi kuota pasokan minimum ke sejumlah kota timur secara rutin. Pola ini sebenarnya bukan hal baru, namun kali ini pengawasannya diperketat dengan sistem pelaporan digital yang terintegrasi dengan dashboard Bapanas. Setiap pengiriman wajib dilaporkan secara real-time, mencakup volume, rute, dan estimasi tiba di pasar tujuan.

Beberapa distributor nasional yang telah menyatakan komitmennya antara lain perusahaan-perusahaan yang selama ini fokus pada komoditas hortikultura. Mereka akan memanfaatkan jaringan gudang yang tersebar di Makassar, Manado, Ambon, dan Jayapura untuk mempercepat penetrasi. “Kami menyambut baik inisiatif Bapanas. Dengan adanya kepastian volume dan dukungan pemda, kami bisa merencanakan pengiriman lebih terukur. Selama ini kendala terbesar adalah ketidakpastian serapan pasar di daerah,” ungkap Hendra, perwakilan salah satu importir yang hadir dalam forum koordinasi.

Harga Pantas, Pasokan Aman

Data Badan Pusat Statistik mencatat, pada triwulan pertama 2025, harga bawang putih di Kota Jayapura sempat menembus Rp65.000 per kilogram, sementara di Jakarta stabil di kisaran Rp38.000. Selisih yang mencapai hampir dua kali lipat ini dinilai tidak wajar oleh pengamat pertanian. Bapanas sendiri telah menetapkan ambang batas harga acuan pembelian di tingkat konsumen sebesar Rp40.000 per kilogram, namun angka tersebut masih sulit diterapkan di banyak daerah timur.

Kemitraan ini juga dirancang sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Bapanas tidak hanya mengejar pemerataan harga, tetapi juga ingin membangun ekosistem distribusi yang mandiri dan berkelanjutan. Pelan-pelan, diharapkan para pelaku usaha lokal di daerah timur terdorong untuk menjadi bagian dari rantai pasok, baik sebagai sub-distributor, penyedia gudang pendingin, maupun penyedia jasa transportasi. Dengan begitu, nilai ekonomi dari aktivitas distribusi bawang putih ikut berputar di wilayah setempat.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Perhubungan dilibatkan dalam menyederhanakan trayek pelayaran. Beberapa rute tol laut yang sudah eksis akan dioptimalkan untuk mengangkut bawang putih dengan tarif subsidi. Kapal-kapal perintis juga akan disisipkan komoditas ini pada pelayaran balik yang selama ini kerap kosong muatan. “Integrasi moda transportasi menjadi kunci. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi daerah yang kekurangan pasokan hanya karena kendala geografis,” jelas Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas.

Menyasar Konsumen Akhir melalui Pasar Rakyat

Tidak hanya mengandalkan jalur grosir, Bapanas juga akan menggandeng PD Pasar dan koperasi pedagang untuk memperluas titik penjualan langsung ke konsumen. Melalui program Pasar Murah yang diperkuat, masyarakat di pelosok dapat membeli bawang putih dengan harga mendekati acuan nasional. Beberapa pemerintah provinsi telah menyiapkan dana alokasi khusus untuk mensubsidi selisih harga pada operasi pasar tersebut.

Di sisi lain, pengawasan terhadap praktik spekulasi juga diperketat. Satgas Pangan akan dikerahkan untuk memantau gudang-gudang importir dan distributor. Mereka yang kedapatan menimbun pasokan atau sengaja mempermainkan distribusi terancam sanksi tegas, mulai dari pencabutan izin impor hingga pidana. “Kolaborasi ini harus berjalan dengan itikad baik dari semua pihak. Pemerintah tidak akan segan menindak tegas jika ada yang bermain-main dengan kebutuhan pokok rakyat,” tegas Kepala Bapanas.

Bapanas menargetkan, dalam enam bulan ke depan, kesenjangan harga antara Jawa dan timur dapat menyempit hingga 15–20 persen. Target ini dianggap realistis mengingat musim panen bawang putih domestik masih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan nasional. Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih dari Tiongkok, India, dan beberapa negara lain. Karena itu, peran importir dalam menjaga kontinuitas pasokan sangat vital.

Langkah Bapanas ini mendapat apresiasi dari Asosasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Ketua Umum APPSI, Suharno, menyatakan bahwa pedagang pasar kerap menjadi pihak yang paling dirugikan saat harga tidak stabil. “Jika pasokan lancar dan harga di tingkat grosir wajar, kami bisa menjual dengan margin normal. Selama ini, pasokan yang seret membuat kami harus berebut stok sehingga harga ke konsumen ikut terdongkrak,” ujarnya.

Ke depan, Bapanas berencana memperluas pola kemitraan ini ke komoditas pangan lainnya, seperti kedelai dan gula pasir, yang juga mengalami persoalan distribusi serupa. Namun, fokus utama tetap pada bawang putih mengingat komoditas ini memiliki tingkat konsumsi tinggi dan rentan terhadap fluktuasi harga global. Dengan kolaborasi terstruktur antara pemerintah, importir, dan distributor, diharapkan tidak ada lagi keluhan ibu rumah tangga di pelosok negeri yang harus membeli bawang putih dengan harga selangit.

Program penguatan pasokan ini merupakan bagian dari strategi nasional pangan 2025–2030 yang menekankan pada ketahanan logistik dan pemerataan distribusi. Bapanas optimistis, sinergi yang terjalin dapat menjadi model penanganan komoditas impor yang lebih responsif terhadap kondisi geografis Indonesia yang luas dan beragam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User