Asap Karhutla Selimuti Palangka Raya, Kualitas Udara Masuk Kategori Bahaya
Jumat pagi (21/8), langit di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali tertutup kabut pekat. Yang menyelimuti ibu kota provinsi itu bukanlah awan mendung, melainkan asap tebal kiriman kebakaran hutan ...
Jumat pagi (21/8), langit di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali tertutup kabut pekat. Yang menyelimuti ibu kota provinsi itu bukanlah awan mendung, melainkan asap tebal kiriman kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas di Pulau Kalimantan. Kawasan permukiman warga yang membentang di sepanjang bantaran Sungai Kahayan menjadi salah satu titik yang paling terpapar gumpalan asap tersebut.
Bau menyengat khas kebakaran sudah tercium sejak dini hari. Warga yang beraktivitas di tepi sungai mengaku jarak pandang mereka menurun drastis, bahkan sebagian ruas jalan utama di sekitar aliran Kahayan tampak diselimuti kabut putih. Situasi ini membuat banyak warga memilih mengenakan masker saat keluar rumah, sementara sebagian lainnya memutuskan mengurangi aktivitas di luar ruangan hingga kondisi membaik.
Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
Pemantauan di sejumlah titik menunjukkan kualitas udara di Palangka Raya sudah berada pada level yang tidak sehat hingga berbahaya. Partikel halus hasil pembakaran, atau yang dikenal sebagai PM2,5, tercatat berada pada konsentrasi tinggi dan berisiko mengganggu kesehatan apabila terhirup dalam waktu lama. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru menjadi yang paling disarankan untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih pekat.
Selain mengganggu pernapasan, paparan asap juga dapat memicu iritasi mata, tenggorokan kering, batuk berkepanjangan, hingga komplikasi pada jantung bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Tenaga kesehatan di sejumlah fasilitas layanan setempat mencatat adanya peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut selama musim kebakaran berlangsung. Warga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang semakin berat, seperti sesak napas atau demam tinggi.
Karhutla Meluas di Pulau Kalimantan
Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan dilaporkan menyebar di sejumlah provinsi di Pulau Kalimantan seiring kemarau panjang yang membuat tanah dan lapisan gambut menjadi sangat kering serta mudah terbakar. Titik panas terus bermunculan dan kerap sulit dipadamkan, terutama di kawasan gambut yang apinya dapat membara di bawah permukaan tanah lalu menyala kembali kapan saja ketika angin bertiup kencang.
Kebakaran di lahan gambut menjadi perhatian utama karena menghasilkan asap yang jauh lebih tebal dan pekat dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Asap dari gambut juga membawa polutan yang lebih berbahaya bagi kesehatan, sehingga dampaknya terhadap warga semakin besar. Di sisi lain, kerugian ekologis yang ditimbulkan tidak kalah serius, mulai dari hilangnya habitat satwa hingga pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer yang memperburuk perubahan iklim.
Upaya Penanganan di Lapangan
Petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan bersama unsur TNI, Polri, relawan, serta masyarakat dikerahkan untuk menjinakkan api di sejumlah lokasi. Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana dan dibantu patroli udara untuk memantau penyebaran titik api. Operasi pengeboman air juga digelar di area yang sulit dijangkau, sementara modifikasi cuaca dipertimbangkan untuk memicu hujan buatan guna meredakan kebakaran sekaligus membersihkan udara dari partikel asap.
Pemerintah daerah menegaskan akan menindak tegas pihak yang sengaja membuka lahan dengan cara membakar. Pengawasan di tingkat desa dan kecamatan diperketat, terutama menjelang akhir pekan ketika aktivitas pembakaran lahan kerap meningkat. Masyarakat diimbau melaporkan segera kepada petugas apabila menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas dan menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda.
Imbauan bagi Masyarakat
Warga yang berada di wilayah terdampak disarankan memakai masker ketika beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta menutup jendela rumah pada pagi hari ketika konsentrasi asap sedang tinggi. Sekolah dan perkantoran diimbau menyesuaikan kegiatan belajar dan bekerja dengan kondisi udara, termasuk mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh apabila kabut asap semakin pekat dan mengganggu kesehatan siswa.
Hingga berita ini ditulis, upaya pemadaman dan pendinginan lahan masih terus dilakukan secara bergantian oleh tim gabungan. Masyarakat berharap musim hujan segera tiba agar kebakaran dapat berhenti total dan udara di Palangka Raya kembali bersih. Namun selama titik api masih ada, kewaspadaan dan kerja sama semua pihak menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana asap tahun ini.




Comments (0)