AS Usulkan Biaya Visa H-1B Permanen Senilai 103.265 Dolar
WASHINGTON — Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat secara resmi mengajukan usulan peningkatan biaya visa H-1B secara permanen menjadi 103.
WASHINGTON — Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat secara resmi mengajukan usulan peningkatan biaya visa H-1B secara permanen menjadi 103.265 dolar AS per pemohon. Usulan tersebut diumumkan pada minggu ini, hanya berselang beberapa pekan sebelum kebijakan kenaikan biaya sementara yang dicanangkan Presiden Donald Trump berakhir pada bulan September.
Visa H-1B merupakan izin kerja yang memungkinkan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mempekerjakan tenaga kerja asing terampil, terutama di sektor teknologi, teknik, dan profesi profesional lainnya, untuk jangka waktu beberapa tahun. Selama bertahun-tahun, program ini menjadi tulang punggung bagi raksasa-raksasa teknologi Silicon Valley dalam merekrut insinyur dan ahli komputer dari luar negeri, terutama dari India dan Tiongkok.
Namun, sejak menjabat tahun lalu, Presiden Donald Trump telah keras mencela program ini. Dalam rangkaian kebijakan pengetatan imigrasi yang jauh lebih luas, Trump menuntut agar biaya visa yang semula berkisar antara 2.000 hingga 5.000 dolar AS dinaikkan secara permanen menjadi lebih dari 100.000 dolar AS. Langkah tersebut memicu gelombang kekecewaan dari kalangan dunia usaha serta serangkaian gugatan hukum di pengadilan federal.
Kronologi Kenaikan Biaya Visa H-1B
Untuk memahami dinamika kebijakan ini, berikut adalah urutan peristiwa penting yang telah berlangsung:
- 1990 — Kongres Amerika Serikat membentuk program visa H-1B sebagai mekanisme bagi pemberi kerja domestik untuk merekrut profesional asing dengan keahlian khusus.
- Tahun lalu — Presiden Donald Trump secara dramatis menaikkan biaya pengajuan visa H-1B menjadi 100.000 dolar AS, sebuah langkah yang langsung memicu kecaman dari kalangan bisnis dan beberapa gugatan hukum.
- Bulan-bulan berikutnya — Sejumlah perusahaan dan kelompok advokasi imigrasi mengajukan tantangan hukum terhadap legalitas kenaikan biaya tersebut di pengadilan.
- September 2026 — Kebijakan kenaikan biaya awal versi Trump dijadwalkan berakhir atau kedaluwarsa.
- Minggu ini — DHS mengajukan usulan regulasi baru untuk menjadikan kenaikan biaya tersebut bersifat permanen dengan nominal 103.265 dolar AS.
Langkah DHS ini dipandang para pengamat sebagai upaya administrasi Trump untuk mengunci kebijakan kontroversialnya ke dalam kerangka regulasi yang lebih kokoh, sehingga tidak mudah dibatalkan meskipun masa kepresidenan berganti. Proses penetapan aturan federal biasanya masih menyisakan periode komentar publik, yang berarti industri dan masyarakat sipil masih memiliki ruang untuk menentangnya sebelum aturan final ditetapkan.
Industri Teknologi India Gerak Cepat Merespons
Kabar usulan kenaikan biaya tersebut langsung menimbulkan gejolak di India, negara pengirim tenaga kerja H-1B terbesar ke Amerika Serikat. Sebuah kelompok yang mewakili industri teknologi India menyatakan tengah melakukan pendekatan aktif dengan berbagai pemangku kepentingan di Amerika Serikat terkait usulan kenaikan tersebut. Kelompok itu juga dikabarkan mendesak pemerintahan Trump untuk mempertimbangkan ulang dampak kebijakan terhadap rantai pasok talenta teknologi global.
Industri teknologi India selama puluhan tahun menjadi penyumbang talenta terbesar bagi ekosistem teknologi Amerika Serikat melalui skema visa H-1B, sehingga setiap perubahan biaya berdampak langsung pada model bisnis perusahaan konsultansi dan outsourcing asal India.
Perusahaan konsultan dan outsourcing India seperti Tata Consultancy Services (TCS), Infosys, HCL Tech, dan LTIMindtree tercatat sebagai salah satu sponsor visa H-1B terbesar. Mereka rutin menempatkan ribuan insinyurnya di proyek-proyek klien di Amerika Serikat. Kenaikan biaya hingga lebih dari 100.000 dolar per pemohon diperkirakan akan membebani anggaran rekrutmen mereka secara masif, bahkan berpotensi memaksa relokasi pekerjaan ke negara lain seperti Kanada atau Meksiko.
Pengguna Visa H-1B Bukan Hanya Perusahaan Teknologi
Meskipun identik dengan raksasa teknologi seperti Google, Meta, atau Amazon, daftar sponsor visa H-1B ternyata juga didominasi oleh firma konsultansi global. Perusahaan seperti Deloitte, PwC, dan Ernst & Young termasuk dalam jajaran penyponsor teratas. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada tenaga kerja asing terampil di Amerika Serikat meluas hingga sektor konsultan manajemen, akuntansi, dan jasa profesional lainnya.
- Perusahaan teknologi besar mengandalkan H-1B untuk merekrut insinyur dari India dan Tiongkok.
- Firma konsultansi global seperti Deloitte dan PwC juga masuk daftar sponsor terbesar.
- Perusahaan outsourcing India seperti TCS dan Infosys menjadi penyumbang pemohon visa terbanyak.
- Sektor kesehatan, riset, dan pendidikan tinggi turut menggunakan program ini untuk merekrut spesialis.
Berpulirnya Debat antara Perlindungan Pekerja Lokal dan Kelangkaan Talenta
Kritikus program ini, termasuk para pendukung garis keras kebijakan imigrasi Trump, berpendapat bahwa sebagian perusahaan menyalahgunakan visa H-1B untuk mempekerjakan pekerja asing dengan upah lebih rendah, alih-alih memberikan kesempatan kepada warga Amerika Serikat. Mereka menilai skema tersebut merugikan pekerja lokal dan menekan standar upah di industri teknologi.
Di sisi lain, kelompok dunia usaha dan perusahaan-perusahaan pemberi kerja membela program ini dengan argumen bahwa visa H-1B justru menjadi sarana vital untuk merekrut profesional berkeahlian tinggi serta mengatasi kelangkaan pekerja Amerika yang memenuhi kualifikasi di sejumlah industri tertentu. Bagi mereka, tanpa aliran talenta asing, inovasi dan daya saing teknologi Amerika Serikat berisiko tertinggal dari pesaing global.
Dengan usulan biaya permanen 103.265 dolar AS kini berada di atas meja, pertarungan antara agenda proteksi pekerja lokal dan kebutuhan industri akan talenta global tampaknya akan berlanjut ke ruang pengadilan dan proses legislasi regulasi. Kalangan industri diprediksi tidak tinggal diam; gugatan-gugatan hukum baru berpotensi bermunculan begitu aturan final diumumkan, sementara para pencari kerja asing kini harus menimbang biaya yang jauh lebih mahal untuk merebut peluang berkarier di Negeri Paman Sam.
[SOCIAL_TWEET]: BREAKING: DHS AS usulkan biaya visa H-1B permanen jadi US$103.265 — naik drastis dari US$5.000. Industri teknologi India gerak cepat. Detail kronologinya di Patokan.com #VisaH1B #Trump #ImigrasiAS[SOCIAL_TG]: 📰 BIAYA VISA H-1B MAHKU US$103.265? DHS AS mengusulkan kenaikan permanen biaya visa kerja terampil menjadi US$103.265, dari sebelumnya hanya US$2.000–5.000. Industri teknologi India sudah mulai berdiplomasi. Baca kronologi lengkap kebijakan Trump di Patokan.com 🔗



Comments (0)