Application Name Application Name

Patokan

Kategori 9

Argentina — Praktik Feodalisme Cengkeram Kepemimpinan Perguruan Tinggi Negeri

Di balik kemegahan arsitektur dan reputasi intelektual perguruan tinggi di Argentina, tersimpan dinamika kekuasaan yang kian menjauh dari cita-cita kebebas

Argentina — Praktik Feodalisme Cengkeram Kepemimpinan Perguruan Tinggi Negeri

Di balik kemegahan arsitektur dan reputasi intelektual perguruan tinggi di Argentina, tersimpan dinamika kekuasaan yang kian menjauh dari cita-cita kebebasan akademik. Dua institusi ternama, Universidad Nacional de Tucumán (UNT) dan Universidad Nacional de La Plata (UNLP), kini menjadi sorotan publik akibat mencoloknya praktik politik transaksional dan upaya mempertahankan kekuasaan tanpa batas. Fenomena ini memicu perdebatan sengit mengenai masa depan tata kelola pendidikan tinggi yang dinilai kian menyerupai sistem feodal masa lalu.

Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat lahirnya gagasan kritis dan etika kepemimpinan justru terjerat dalam oligarki internal. Ketika publik tidak mengawasi, ruang-ruang rapat senat universitas diubah menjadi arena tawar-menawar politik demi mengamankan kursi kekuasaan bagi kelompok elit kampus tertentu.

Manovre Kekuasaan dan Sengketa Hukum di Tucumán

Krisis kepemimpinan di Universidad Nacional de Tucumán (UNT)—yang pernah menjadi salah satu pusat intelektual dan sains paling disegani di wilayah utara Argentina—menjadi bukti nyata kerapuhan sistem tata kelola kampus. Rektor UNT, Sergio Pagani, berupaya keras mengamankan masa jabatan ketiga meskipun dibentengi oleh aturan batasan statuta universitas.

Ambisi re-reeleksi tersebut memicu penolakan keras dan berujung pada gugatan hukum yang berlarut-larut. Pertarungan di meja hijau sempat membuat iklim administrasi kampus berada dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan akibat rentetan putusan pengadilan yang saling bertolak belakang. Titik terang baru muncul setelah Cámara Federal mengeluarkan keputusan tegas yang melarang Pagani untuk kembali mencalonkan diri.

Kendati demikian, kekuasaan tidak lantas berpindah secara murni. Rektor baru yang akhirnya terpilih justru meluncurkan langkah kontroversial pada awal kepemimpinannya: membentuk posisi baru yang dilabeli sebagai jabatan "strategis" khusus untuk diduduki oleh Pagani. Langkah ini dipandang sebagai bentuk akomodasi politik demi memastikan lingkaran kekuasaan lama tetap memegang kendali kepemimpinan di balik layar.

Siasat Hukum dan Dinasti Kepemimpinan di La Plata

Jika di Tucumán perebutan kekuasaan memicu krisis hukum terbuka, Universidad Nacional de La Plata (UNLP) menunjukkan pola yang lebih terstruktur namun tak kalah problematis. UNLP berhasil memanfaatkan celah hukum untuk melanggengkan dominasi kelompok yang sama selama hampir 20 tahun.

Mekanisme yang digunakan adalah pertukaran posisi secara berkala antara jabatan presiden dan wakil presiden universitas. Dalam praktiknya, terdapat periode tertentu di mana posisi utama diserahkan kepada sosok perantara (testaferro). Langkah formalitas ini diambil semata-mata untuk menyiasati batasan masa jabatan yang diatur dalam aturan internal, sebelum akhirnya kekuasaan dikembalikan kepada figur sentral yang sama.

Perguruan Tinggi Modus Operandi Kekuasaan Dampak terhadap Institusi
Universidad Nacional de Tucumán (UNT) Upaya re-reeleksi berulang dan penciptaan posisi strategis baru bagi mantan rektor. Krisis legitimasi, konflik hukum berlarut-larut, dan erosi independensi kepemimpinan.
Universidad Nacional de La Plata (UNLP) Pertukaran rotasi posisi presiden/wakil presiden menggunakan figur perantara. Langgengnya kekuasaan oligarki hingga dua dekade dan matinya pergantian generasi.

Analisis Pergeseran Birokrasi dan Feodalisme Kampus

Dinamika yang terjadi di UNT dan UNLP mencerminkan penyakit struktural yang menjangkiti sebagian besar sistem pendidikan tinggi publik di Argentina. Kehormatan untuk memimpin fakultas atau universitas—yang dahulu diraih atas dasar pencapaian akademis, integritas, dan reputasi ilmiah—kini bergeser menjadi ajang perebutan birokrasi politik yang pragmatis.

Seorang pengamat tata kelola pendidikan tinggi menggarisbawahi kerapuhan sistem ini dengan nada prihatin atas hilangnya etika kepemimpinan di lingkungan akademis.

"Jabatan kepemimpinan kampus telah terdegradasi dari sebuah amanah akademis menjadi sekadar feudo atau wilayah kekuasaan pribadi. Ketika birokrasi terpolitisasi mengambil alih, universitas dikelola dengan logika politik praktis yang mengabaikan esensi transparansi," tegasnya.

Dampak dari pelanggengan kekuasaan ini sangat merugikan ekosistem perguruan tinggi secara keseluruhan. Regenerasi akademisi muda terhambat, transparansi pengelolaan anggaran menjadi kabur, dan kebijakan strategis universitas lebih banyak didikte oleh kepentingan politik internal ketimbang pengembangan riset dan ilmu pengetahuan. Kasus Tucumán dan La Plata menjadi sinyal peringatan keras bahwa reformasi tata kelola universitas di Argentina tidak bisa lagi ditunda demi menyelamatkan integritas dunia pendidikan.

Dua universitas terkemuka di Argentina, UNT dan UNLP, menjadi sorotan akibat maraknya siasat politik internal demi melanggengkan kekuasaan rektor. Mulai dari pelanggaran statuta hingga rotasi jabatan formalitas selama 20 tahun, transparansi tata kelola kampus kini berada di titik nadir. Baca analisis selengkapnya di Patokan.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer2
TENTANG PENULIS writer2

Bacaan Terkait

Comments (0)

User