Api Bawah Permukaan Jadi Biang Keladi Kebakaran TPA Jatiwaringin Tak Kunjung Padam

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin yang terus menyala hingga kini ternyata bukan sekadar kebakaran biasa. Tim pemadam kebakaran yang dikerahkan ke lokasi menghadapi kendala besar ...

Jul 19, 2026 - 19:35
0 0
Api Bawah Permukaan Jadi Biang Keladi Kebakaran TPA Jatiwaringin Tak Kunjung Padam

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin yang terus menyala hingga kini ternyata bukan sekadar kebakaran biasa. Tim pemadam kebakaran yang dikerahkan ke lokasi menghadapi kendala besar karena sumber api tidak hanya berada di permukaan tumpukan sampah, melainkan juga merambat jauh di bawah timbunan. Fenomena ini menyebabkan api sulit dijangkau dengan metode pemadaman konvensional, sehingga operasi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Penyebab Tersembunyi di Bawah Timbunan Sampah

Menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), api bawah permukaan (subsurface fire) menjadi faktor kunci yang membuat kebakaran TPA Jatiwaringin sangat sulit dipadamkan. Tumpukan sampah organik yang terus membusuk selama bertahun-tahun menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Gas tersebut terperangkap di celah-celah timbunan sampah dan menciptakan kantong-kantong gas yang mudah terbakar.

Ketika suhu di dalam gundukan sampah meningkat akibat proses dekomposisi dan tekanan gas, titik nyala dapat tercapai secara spontan. Api yang muncul dari pembakaran metana ini lalu menjalar secara perlahan di lapisan dalam, menciptakan bara yang tidak terlihat dari luar. Inilah yang disebut sebagai api bawah permukaan, yang membedakan kebakaran di TPA dengan kebakaran pada umumnya.

Tim peneliti BRIN menjelaskan bahwa api jenis ini bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan jika tidak ditangani dengan teknik khusus. Biang keladinya adalah kombinasi material organik yang masih terus terurai, konsentrasi gas yang tinggi, serta akses oksigen yang terbatas sehingga pembakaran berlangsung lambat namun terus-menerus. “Fenomena ini mirip seperti bara api di dalam tungku yang tertutup rapat; Anda bisa memercikkan air dari atas, tapi api di lapisan bawah tetap menyala,” ungkap seorang peneliti yang enggan disebutkan namanya.

Mengapa Pemadaman Konvensional Tidak Mempan

Metode pemadaman yang mengandalkan penyemprotan air dari atas tumpukan sampah terbukti kurang efektif. Air hanya mampu membasahi bagian permukaan, sementara bara di kedalaman beberapa meter tetap terlindungi oleh lapisan sampah yang padat dan kering. Alhasil, meski semburan api di permukaan berhasil diredupkan, api kerap muncul kembali dalam hitungan jam karena pasokan gas metana dan panas dari bawah masih bertahan.

Selain itu, struktur tumpukan sampah yang tidak stabil menambah tingkat kesulitan. Petugas pemadam tidak dapat dengan leluasa berjalan di atas gundukan karena risiko longsor atau jebakan rongga gas. Beberapa titik bahkan mengeluarkan asap tebal yang mengandung senyawa beracun seperti karbon monoksida dan hidrogen sulfida, sehingga membahayakan siapa pun yang berada di area inti kebakaran.

Api bawah permukaan ini juga memicu efek domino. Gas metana yang terperangkap di rongga lain dapat ikut tersulut, sehingga area kebakaran meluas secara horizontal dan vertikal. Dengan demikian, yang terlihat dari luar hanya asap tipis, padahal di bagian dalam terjadi pembakaran yang lebih besar. Kondisi ini sering kali mengecoh, karena warga mengira api sudah padam, sementara proses pembakaran masih berlangsung di dalam timbunan.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Kebakaran TPA Jatiwaringin bukan hanya soal pemadaman, tetapi juga ancaman bagi warga sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah campuran mengandung dioksin, furan, dan partikel halus (PM2.5) yang berbahaya bagi saluran pernapasan. Dalam jangka pendek, paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Risiko lebih tinggi dialami anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.

Dari sisi lingkungan, api bawah permukaan dapat mengontaminasi air tanah. Panas yang tinggi mengubah struktur kimia limbah dan memudahkan zat berbahaya meresap ke dalam tanah. Jika tidak segera ditangani, kebakaran seperti ini berpotensi menjadi bencana ekologis yang dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Strategi Penanganan dan Jalan Keluar

BRIN merekomendasikan agar penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak hanya bertumpu pada penyemprotan air. Langkah pertama yang paling krusial adalah membongkar lapisan sampah di titik api dengan alat berat, sehingga bara di bagian dalam dapat terpapar langsung. Setelah lapisan terbuka, injeksi campuran air dan bahan penghambat api (retardan) dapat dilakukan untuk memadamkan sumber panas secara tuntas.

Alternatif lain adalah membuat sekat atau parit isolasi di sekeliling area yang terbakar agar api tidak merembet ke zona lain. Selain itu, perlu segera dipasang sumur ventilasi gas untuk melepaskan metana yang masih terperangkap sehingga tekanan berkurang dan potensi ledakan menurun.

Para pakar juga mengingatkan bahwa kebakaran TPA adalah cermin dari tata kelola sampah yang belum optimal. Praktik open dumping yang menumpuk sampah begitu saja tanpa pengolahan akan terus memproduksi gas metana dalam jumlah besar. Tanpa sistem penangkapan gas dan lapisan penutup yang memadai, risiko kebakaran bawah permukaan akan selalu menghantui.

Kebakaran yang terjadi di Jatiwaringin seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menerapkan standar pengelolaan TPA yang lebih modern, seperti sanitary landfill atau controlled landfill, lengkap dengan instalasi pengelolaan gas. Dengan demikian, kejadian serupa dapat dicegah dan warga tidak lagi terpapar ancaman kebakaran abadi yang tersembunyi di bawah tumpukan sampah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User