Anggota Knesset Israel Hancurkan Monumen Peringatan Palestina di Tepi Barat
RAMALLAH — Seorang anggota parlemen Israel dari kubu kanan-jauh tercatat melakukan aksi provokatif baru di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Zvi Sukkot, po
RAMALLAH — Seorang anggota parlemen Israel dari kubu kanan-jauh tercatat melakukan aksi provokatif baru di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Zvi Sukkot, politikus sekaligus pemukim (settler) yang dikenal vokal mendukung gerakan permukiman ilegal, terlihat menghancurkan sebuah monumen peringatan bagi warga Palestina menggunakan palu besi pada hari Selasa. Yang membuat insiden ini semakin memanas, aksi tersebut dilakukan ketika ia tengah dikawal oleh prajurit militer Israel.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Sukkot mengayunkan palu besar ke arah sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang para "martyr" atau syuhada di desa Madama, sebuah kampung kecil di bagian utara Tepi Barat. Dalam rekaman itu, sejumlah prajurit Tentara Israel (IDF) tampak berdiri tidak jauh dari lokasi kejadian, tanpa upaya berarti untuk menghentikan aksi sang anggota parlemen.
Aksi ini menjadi sorotan baru terhadap pola kekerasan yang semakin sering dilakukan oleh kelompok ekstremis pemukim di wilayah pendudukan, sekaligus memunculkan pertanyaan serius tentang netralitas aparat militer dalam melindungi warga sipil Palestina.
Kronologi Aksi Penghancuran di Desa Madama
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari lapangan, Sukkot sesungguhnya telah beberapa kali menuntut pihak militer membongkar monumen-monumen peringatan yang ia sebut sebagai penghormatan kepada pelaku serangan. Menurut dirinya, permintaan tersebut tidak kunjung ditindaklanjuti, sehingga ia memutuskan bertindak sendiri.
"Beberapa hari lalu, saya menuntut militer mengambil tindakan untuk mencabut monumen yang memperingati para teroris di desa pembunuh Madama dan Burin. Sayangnya, monumen itu tetap berdiri. Jadi, saya datang sendiri ke sana dan mengambil tindakan untuk melepasnya," tulis Sukkot dalam unggahan Facebook, disertai video aksi tersebut.
Pernyataan itu memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan, termasuk organisasi hak asasi manusia yang menilai aksi seorang legislator merusak warisan dan tempat peringatan warga sipil merupakan pelanggaran serius terhadap martabat kemanusiaan. Bagi warga Madama, monumen tersebut bukan sekadar bangunan batu, melainkan simbol duka bagi keluarga yang kehilangan anggotanya akibat konflik berkepanjangan.
Sementara itu, situasi di Tepi Barat sendiri memang sedang dalam titik rawan. Laporan dari lapangan menyebutkan dua perkembangan penting yang terjadi hampir bersamaan dengan insiden ini:
- Pemerintah Tel Aviv mulai melakukan proses pengusiran terhadap pusat pelatihan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melayani masyarakat Palestina.
- Kelompok pemukim menyerang jurnalis dan aktivis di wilayah dekat Bethlehem, menambah daftar panjang intimidasi terhadap pekerja pers di wilayah pendudukan.
Militer Israel Akui Prajurit Dialihkan dari Tugas Operasional
Tentara Israel memberikan konfirmasi resmi mengenai keberadaan Sukkot di lokasi. Dalam pernyataannya, militer mengakui bahwa sang anggota parlemen beserta ajudannya menjalankan sebuah "tur" ke wilayah tersebut, lengkap dengan pengamanan dari prajurit IDF yang dialihkan dari tugas operasional mereka semata-mata untuk keperluan itu.
Namun, militer juga secara eksplisit menyebut bahwa Sukkot dan rombongannya bertindak di luar koridor yang disepakati. Pernyataan tersebut menegaskan adanya penyimpangan dari kesepakatan koordinasi yang telah dibuat sebelumnya.
"Bertentangan dengan koordinasi yang disepakati, para peserta bertindak secara licik dan manipulatif, tanpa otorisasi, sepenuhnya keluar dari kerangka yang disetujui, dan mulai menghancurkan salah satu monumen di Madama," demikian bunyi pernyataan militer Israel.
Lebih lanjut, IDF mengungkapkan bahwa prajurit di lapangan kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada komandan mereka. Komandan langsung memerintahkan penghentian seluruh aktivitas, dan rombongan Sukkot "dengan cepat dikawal keluar dari desa". Penjelasan ini, meski mengonfirmasi adanya pelanggaran prosedur, tidak menyebutkan satupun konsekuensi hukum atau administratif bagi politikus yang bersangkutan.
Fenomena "tur" yang dipandu militer ini sendiri bukan hal baru di Tepi Barat. Para legislator, tokoh agama radikal, serta kelompok pemukim kerap menjadikan kunjungan semacam itu sebagai panggung politik untuk memprovokasi warga Palestina, dengan perlindungan penuh dari aparat negara.
Netanyahu Sorot, Istilah Alkitabiah Kembali Diangkat
Peristiwa tersebut hingga menarik perhatian Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah pernyataan, pria nomor satu di Israel itu menegaskan posisi pemerintahannya terkait otoritas di wilayah sengketa tersebut.
Netanyahu menyebut militer sebagai "otoritas berdaulat di Yudea dan Samaria" — istilah Alkitabiah yang lazim digunakan kalangan kanan Israel untuk menyebut Tepi Barat yang diduduki. Penyebutan istilah tersebut dinilai banyak pengamat sebagai sinyal konsolidasi klaim kedaulatan Israel atas wilayah yang menurut hukum internasional berstatus pendudukan.
Dalam pernyataannya, Netanyahu turut menyentuh persoalan pihak-pihak yang mengambil hukum ke tangan sendiri, isu yang menjadi inti kritik terhadap aksi Sukkot. Meski demikian, pernyataan perdana menteri itu belum menyinggung langkah konkret apa pun yang akan diambil terhadap anggota parlemen dari koalisi pemerintahnya sendiri tersebut.
Kritikus menilai sikap pemerintah yang cenderung berhati-hati terhadap figur-figur kanan-jauh justru memperbesar ruang impunity, yakni kondisi ketika pelaku pelanggaran dapat bertindak bebas tanpa rasa takut akan sanksi.
Implikasi bagi Warga Sipil dan Jurnalis di Tepi Barat
Insiden penghancuran monumen di Madama terjadi di tengah meningkatnya kekerasan kelompok pemukim di berbagai penjuru Tepi Barat. Serangan terhadap jurnalis dan aktivis dekat Bethlehem yang terjadi hampir bersamaan menunjukkan pola yang saling berkaitan: intimidasi terhadap siapa pun yang mencoba mendokumentasikan realitas di wilayah pendudukan.
Bagi masyarakat Palestina, dampaknya nyata. Akses menuju lahan pertanian menyempit, dokumentasi sejarah dan peringatan komunitas menjadi sasaran, serta lembaga-lembaga internasional seperti fasilitas pelatihan PBB ikut terancam oleh kebijakan pengusiran. Rangkaian peristiwa ini mempertegas bahwa tekanan tidak hanya datang dari ranah kebijakan, tetapi juga dari aksi fisik di lapangan yang dilakukan figur-figur negara itu sendiri.
Hingga kabar ini diturunkan, belum ada indikasi bahwa Sukkot akan dikenai sanksi apa pun, baik dari fraksinya di parlemen maupun dari aparat penegak hukum Israel. Sementara itu, warga Madama harus kembali merapikan pecahan batu dari monumen yang dibangun untuk mengenang orang-orang mereka — di bawah bayang-bayang senjata prajurit yang seharusnya menjaga keamanan seluruh warga di wilayah itu.
[SOCIAL_TWEET]: Anggota Knesset kanan-jauh Zvi Sukkot menghancurkan monumen peringatan Palestina di desa Madama, Tepi Barat, sambil dikawal prajurit IDF yang dialihkan dari tugas operasional. Militer menyebut aksinya "tanpa otorisasi". #TepiBarat #Palestina[SOCIAL_TG]: 📰 TEPİ BARAT — Anggota Knesset Zvi Sukkot menghancurkan monumen syuhada Palestina di desa Madama dengan palu besi, dikawal prajurit IDF. Militer Israel menyebut tindakan itu "licik, manipulatif, dan tanpa otorisasi", namun tak ada sanksi yang diumumkan. Aksi ini terjadi di tengah naiknya kekerasan pemukim: jurnalis dan aktivis diserang dekat Bethlehem, dan Tel Aviv mulai mengusir pusat pelatihan PBB untuk warga Palestina. Detail lengkap di Patokan.com.



Comments (0)