Amran Ungkap Sebab Harga Ayam Telur Anjlok, Pemerintah Turun Tangan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman akhirnya angkat bicara mengenai fenomena anjloknya harga ayam dan telur yang belakangan meresahkan peternak di berbagai daerah. Dalam keterangannya, ia menekankan agar...
Menteri Pertanian Amran Sulaiman akhirnya angkat bicara mengenai fenomena anjloknya harga ayam dan telur yang belakangan meresahkan peternak di berbagai daerah. Dalam keterangannya, ia menekankan agar semua pihak tidak keliru menafsirkan situasi ini, sebab pemerintah justru tengah mengambil langkah konkret melalui pembelian langsung ke peternak untuk menstabilkan harga. Pernyataan ini menjadi titik terang di tengah kekhawatiran para pelaku usaha peternakan unggas yang selama beberapa pekan terakhir harus menjual hasil produksinya di bawah biaya operasional.
Membedah Akar Masalah: Kenapa Harga Jatuh?
Amran menjelaskan bahwa penurunan harga yang signifikan bukan semata-mata disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari kelebihan pasokan (oversupply) dan melemahnya daya beli masyarakat pada periode tertentu. Produksi ayam broiler dan telur ayam ras memang mengalami peningkatan karena banyak peternak yang memperluas usaha setelah masa pemulihan pandemi, namun tidak diimbangi dengan serapan pasar yang sepadan. Selain itu, pola distribusi yang masih bergantung pada rantai pemasaran panjang turut memperparah tekanan harga di tingkat peternak.
"Kita harus melihat ini dari hulu ke hilir. Ketika produksi melimpah tetapi akses pasar terbatas, yang terjadi adalah harga jatuh di peternak sementara konsumen belum tentu menikmati harga yang murah," ujar Amran dalam sebuah rapat koordinasi di Jakarta. Ia menambahkan bahwa peran tengkulak dan spekulan kerap membuat disparitas harga semakin lebar, sehingga peternak menjadi pihak yang paling dirugikan.
Terobosan Pembelian Langsung ke Peternak
Untuk meredakan gejolak harga sekaligus melindungi peternak kecil dan menengah, pemerintah melalui Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) kini melakukan pembelian telur dan daging ayam secara langsung dari peternak. Langkah ini tidak hanya bertujuan menyerap kelebihan stok, tetapi juga memutus rantai distribusi yang tidak efisien. Dengan memotong mata rantai perantara, harga di tingkat produsen bisa dipertahankan agar tidak terus merosot.
Amran memastikan bahwa program pembelian langsung ini bukan intervensi pasar yang distorsif, melainkan bagian dari strategi stabilisasi yang terukur. "Kami tidak ingin ada yang salah paham. Pemerintah hadir untuk menjaga keseimbangan, bukan untuk menguasai mekanisme pasar. SPPG membeli telur dan ayam dari peternak dengan harga yang wajar, sehingga peternak bisa bernapas," tegasnya.
SPPG: Lebih dari Sekadar Penyerap Hasil Panen
Satuan Pelaksana Program Gizi sejatinya memiliki tugas utama dalam mendistribusikan bahan pangan bergizi kepada masyarakat rentan. Namun dalam kondisi darurat seperti sekarang, perannya diperluas menjadi buffer stock alias penyangga pasokan. Komoditas yang dibeli dari peternak akan digunakan untuk program bantuan pangan, dapur umum, serta stok cadangan nasional. Dengan demikian, tidak ada setetes pun produksi yang terbuang sia-sia.
Skema ini juga dirancang agar peternak tidak perlu berebut pembeli dengan harga yang saling menjatuhkan. Beberapa koperasi peternak di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan sudah mulai merasakan manfaatnya. Mereka melaporkan adanya kenaikan harga di tingkat peternak sekitar 5–10 persen sejak SPPG turun tangan, meskipun masih jauh dari titik impas yang ideal.
Diplomasi Data dan Koordinasi Antarlembaga
Amran mengungkapkan bahwa kementeriannya telah bersinergi dengan Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, serta pemerintah daerah untuk memantau pergerakan harga secara real-time. Data yang akurat menjadi kunci agar intervensi dilakukan tepat sasaran. "Kita tidak bisa asal beli tanpa tahu wilayah mana yang paling parah terkena dampak. Tim kami di daerah terus menerjunkan petugas untuk melihat kondisi kandang langsung," ucapnya.
Selain itu, Kemtan juga mempercepat program pengendalian produksi dengan mengimbau peternak agar melakukan pemotongan dini (early culling) pada ayam betina yang tidak produktif dan mengatur jadwal masuk bibit (DOC) agar tidak menumpuk di satu waktu. Ini adalah pendekatan jangka menengah untuk menekan oversupply yang kerap terjadi pada momen-momen tertentu, seperti usai panen raya jagung sebagai pakan.
Seruan untuk Tidak Panik
Menteri Amran berulang kali meminta para peternak untuk tidak panik dan menjual ternaknya dengan kerugian besar. Ia memahami bahwa tekanan ekonomi bisa membuat peternak mengambil keputusan jangka pendek, tetapi justru itu akan memperburuk siklus harga. "Bertahanlah, pemerintah sedang bekerja. Jangan sampai kita malah memberi ruang bagi spekulan untuk bermain di atas kesusahan peternak," katanya.
Untuk meringankan beban biaya produksi, Kementerian Pertanian juga tengah menyiapkan subsidi pakan alternatif dan mempermudah akses kredit usaha mikro bagi peternak mandiri. Langkah ini diharapkan bisa menjadi bantalan selama proses pemulihan harga berjalan.
Respon Peternak dan Harapan ke Depan
Sejumlah asosiasi peternak menyambut positif meskipun tetap mengingatkan bahwa solusi jangka panjang seperti hilirisasi produk unggas dan ekspansi pasar ekspor harus segera diwujudkan. Ketergantungan pada pasar domestik yang mudah jenuh membuat harga ayam dan telur selalu rentan terhadap fluktuasi. "Kami apresiasi SPPG membeli langsung, tapi kami juga butuh kepastian bahwa telur dan ayam kita bisa menembus pasar luar negeri. Kalau hanya mengandalkan dalam negeri, oversupply akan terus berulang," ujar salah satu perwakilan peternak di Blitar.
Amran mengakui bahwa pekerjaan rumah ini tidak akan selesai dalam semalam. Pemerintah, kata dia, sedang merancang peta jalan pengembangan industri unggas nasional yang lebih berdaya saing. Sambil menunggu realisasinya, pembelian langsung oleh SPPG akan terus dilakukan secara berkala hingga harga kembali normal. Masyarakat pun diimbau untuk tetap mengonsumsi telur dan ayam sebagai sumber protein hewani yang terjangkau, karena produksi dalam negeri melimpah dan kualitasnya terjamin.
Dengan transparansi dan kerja sama lintas sektor, Menteri Amran optimistis harga ayam dan telur akan kembali stabil dalam waktu dekat. "Ini ujian bagi ketahanan pangan kita. Jangan ada yang memelintir seolah pemerintah diam saja. Kami hadir, kami bekerja, dan kami pastikan peternak tidak sendirian," pungkasnya. Perkembangan situasi di lapangan akan terus dipantau, dan pemerintah berjanji akan mengevaluasi kebijakan setiap pekan untuk memastikan tidak ada lagi peternak yang gigit jari akibat harga yang anjlok.
Comments (0)