Adik Kim Jong Un Murka, Sebut Seruan ASEAN Bodoh

Pyongyang kembali melontarkan retorika keras ke panggung internasional. Kali ini, sasarannya adalah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Ki...

Jul 28, 2026 - 07:16
0 0
Adik Kim Jong Un Murka, Sebut Seruan ASEAN Bodoh

Pyongyang kembali melontarkan retorika keras ke panggung internasional. Kali ini, sasarannya adalah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan pejabat senior Partai Buruh, meluapkan kemarahannya secara terbuka. Ia mengecam blok regional tersebut karena menyerukan penghentian program persenjataan nuklir Korea Utara. Dengan nada menghina, ia menyebut desakan itu sebagai tindakan yang bodoh dan sekadar mimpi liar.

Serangan Verbal yang Mengejutkan

Pernyataan keras itu disampaikan melalui kantor berita resmi Korea Central News Agency (KCNA) pada Senin. Kim Yo Jong, yang menjabat sebagai Wakil Direktur Departemen Propaganda dan Agitasi, memang dikenal sebagai suara paling tajam di lingkaran kekuasaan Pyongyang. Tetapi serangan langsung terhadap ASEAN—sebuah organisasi yang selama ini berusaha menjaga keseimbangan dan netralitas—mengejutkan banyak pengamat. Ia menuduh ASEAN telah menjadi "anjing penjaga" kekuatan asing yang mencoba menghalangi hak sah Korea Utara untuk mempertahankan diri.

Menurut Kim, tuntutan denuklirisasi yang diulang-ulang oleh ASEAN merupakan pelanggaran kedaulatan. Ia mengatakan, "Mereka tidak paham realitas geopolitik di Semenanjung Korea. Kami tidak akan pernah menyerahkan pencegah nuklir kami. Itu adalah tumpuan eksistensi negara ini." Pernyataannya menyiratkan bahwa Korea Utara tidak akan pernah kembali ke meja perundingan yang mensyaratkan penghapusan senjata nuklir terlebih dahulu.

ASEAN dan Isu Semenanjung Korea

Seruan denuklirisasi dari ASEAN sebenarnya bukanlah hal baru. Blok sepuluh anggota itu secara rutin mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea. Tahun ini, dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN, isu Korea Utara kembali disinggung menyusul serangkaian uji coba rudal balistik yang intensif sepanjang 2025 dan awal 2026. ASEAN menyerukan agar Pyongyang mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB dan kembali ke dialog enam pihak tanpa prasyarat. Namun, bagi Kim Yo Jong, sikap ASEAN itu menunjukkan ketidaktahuan dan sikap "bodoh" yang tidak bisa diterima.

Para diplomat di kawasan mencermati bahwa kecaman ini menandai pergeseran sikap Korea Utara, yang sebelumnya cenderung mengabaikan ASEAN atau memberikan tanggapan diplomatik yang lunak. Kini, Pyongyang tampak semakin percaya diri dengan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir de facto dan tidak segan menyebut entitas multilateral mana pun dengan sebutan kasar.

Konteks Eskalasi Militer

Ledakan kemarahan Kim Yo Jong ini tidak bisa dilepaskan dari konteks eskalasi militer terkini. Korea Utara sepanjang 2026 telah menembakkan setidaknya 30 rudal, termasuk rudal balistik antarbenua (ICBM) yang berpotensi mencapai daratan Amerika Serikat. Uji coba yang sering itu adalah bagian dari modernisasi kekuatan nuklir sesuai instruksi langsung Kim Jong Un, yang dalam pidato tahun barunya menyebut "peningkatan kemampuan nuklir sebagai prioritas utama negara."

Di satu sisi, latihan militer gabungan antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang di perairan sekitar Semenanjung Korea terus menjadi alasan bagi Pyongyang untuk membenarkan pengembangannya. Kim Yo Jong secara khusus mengecam keterlibatan AS di balik layar, menuduh Washington memanipulasi ASEAN untuk menjalankan agenda isolasi terhadap Korea Utara. "ASEAN bertindak seolah-olah mereka peduli dengan perdamaian, tapi sebenarnya mereka menari mengikuti irama Amerika," ujarnya.

Reaksi Internasional

Kecaman pedas ini langsung menuai respons dari berbagai pihak. Korea Selatan melalui Kementerian Unifikasi menyayangkan retorika yang merendahkan itu dan menilai bahwa hal tersebut semakin mengisolasi Korea Utara dari komunitas internasional. Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi sekutu dan menyebut serangan verbal itu sebagai tanda putus asa rezim yang terisolasi. Di lain pihak, Tiongkok—satu-satunya sekutunya yang signifikan—bersikap hati-hati, mendesak semua pihak menahan diri dan menghindari saling memancing ketegangan.

Para analis menilai bahwa makian Kim Yo Jong bisa jadi merupakan bagian dari strategi politik dalam negeri. Menjelang peringatan hari jadi Partai Buruh yang ke-80 pada Oktober mendatang, rezim Kim mungkin sedang menciptakan narasi "pengepungan musuh" untuk memperkuat dukungan dari elit militer dan masyarakat. Serangan terhadap ASEAN, yang secara tradisional memiliki hubungan ekonomi terbatas dengan Korea Utara, dipandang sebagai sasaran empuk yang risiko diplomatiknya kecil.

Mimpi Liar atau Realitas Strategis?

Julukan "mimpi liar" yang dialamatkan oleh Kim Yo Jong merujuk pada keyakinan bahwa Korea Utara dapat didorong ke jalur disarmamen melalui tekanan multilateral. Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa sanksi dan kecaman tidak mampu menghentikan ambisi nuklir Pyongyang. Bahkan, di bawah rezim Kim Jong Un, program nuklir justru berkembang pesat, menguji coba senjata termonuklir dan rudal dengan teknologi manuver yang canggih.

Bagi Kim Yo Jong, konsep denuklirisasi Semenanjung Korea adalah konsep yang mati. Ia menekankan bahwa Korea Utara kini bukan lagi "pemohon" dalam diplomasi internasional, melainkan kekuatan yang harus diperhitungkan. "Mereka harus menerima kenyataan bahwa kami memiliki senjata yang tak bisa mereka abaikan," tegasnya. Pernyataan itu sekaligus menutup celah bagi negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, atau Singapura yang sebelumnya berharap dapat memainkan peran sebagai jembatan dialog.

Implikasi bagi Kawasan

Serangan verbal ini menambah daftar panjang provokasi retoris Korea Utara yang sering kali diikuti dengan aksi militer konkret. Para pakar keamanan khawatir bahwa sikap agresif terhadap ASEAN akan memperburuk isolasi Pyongyang dan mempersulit upaya mediasi. Negara-negara ASEAN yang selama ini menjadi mitra dagang Korea Utara dalam skala kecil, seperti Thailand dan Malaysia, mungkin akan semakin menjauh, sementara pengiriman uang dari pekerja Korea Utara di luar negeri yang melanggar sanksi juga bisa terancam.

Namun, bagi rezim Kim, konsekuensi semacam itu tampaknya bukan perhatian utama. Bertahan hidup (survival) dan pengakuan sebagai negara nuklir adalah target tertinggi. Kim Yo Jong, yang dipandang sebagai orang kedua paling berpengaruh di negara itu, menyampaikan pesan yang jelas: Lebanon, Irak, Libya—negara-negara yang menyerahkan program senjata pemusnah massal mereka—adalah contoh yang membuat Pyongyang tidak akan pernah menempuh jalan serupa. "Kami sudah mempelajari sejarah. Kami tak akan tertipu oleh iming-iming perdamaian palsu," katanya.

Dengan kemarahan yang terus membara, Kim Yo Jong menegaskan bahwa Korea Utara akan terus memperkuat pencegah nuklirnya, apa pun yang dikatakan ASEAN atau siapa pun. Stabilitas kawasan kembali berada di ujung tanduk, sementara mimpi denuklirisasi Semenanjung Korea semakin jauh dari kenyataan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User