59 Tahun Beroperasi, Begini Kontribusi Freeport ke Kas Negara
Perjalanan PT Freeport Indonesia (PTFI) di dalam negeri kini telah memasuki tahun ke-59. Hampir enam dekade perusahaan tambang itu menambang di Tanah Air, sebuah rentang waktu yang jarang dimiliki kor...
Perjalanan PT Freeport Indonesia (PTFI) di dalam negeri kini telah memasuki tahun ke-59. Hampir enam dekade perusahaan tambang itu menambang di Tanah Air, sebuah rentang waktu yang jarang dimiliki korporasi mana pun di sektor sumber daya alam Indonesia. Namun, angka tersebut lebih dari sekadar penanda usia; ia merekam sejarah panjang penerimaan negara, perdebatan politik, dan transformasi industri pertambangan nasional.
Dari Kontrak Karya hingga Tambang Bawah Tanah
Pintu masuk Freeport ke Indonesia terbuka pada 1967, saat pemerintah kala itu menerbitkan kontrak karya bagi perusahaan tersebut untuk mengeksplorasi wilayah Pegunungan Sudirman di Papua. Empat tahun kemudian, tambang Ertsberg mulai berproduksi dan menjadi pertanda awal dari apa yang kelak dikenal sebagai salah satu cadangan emas dan tembaga terbesar di dunia, yaitu Grasberg. Sejak 1990, Grasberg dioperasikan sebagai tambang terbuka raksasa, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi operasi bawah tanah dengan metode block caving pada era 2010-an.
Umur tambang yang panjang membawa konsekuensi tersendiri. Cadangan bijih terus terkikis dan kadar mineral semakin menurun. Meski demikian, PTFI tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen tembaga dan emas terbesar di dunia, sekaligus penyumbang pendapatan negara yang signifikan dari sektor mineral dan batu bara.
Kanal Setoran ke Kas Negara
Jika ditanya seberapa besar setoran Freeport ke negara, jawabannya tidak pernah tunggal. Penerimaan itu mengalir melalui banyak kanal: pajak penghasilan badan, royalti atas penjualan mineral, dividen, serta penerimaan negara bukan pajak lainnya. Besarannya bergerak mengikuti harga komoditas dunia dan volume produksi tahunan, sehingga angka setoran selalu berubah dari satu periode ke periode berikutnya. Yang jelas, sejak kontrak karya ditandatangani hingga kini, akumulasi kontribusi langsung perusahaan ke kas negara telah mencapai puluhan miliar dolar AS, belum termasuk dampak ekonomi tidak langsung yang dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Kontribusi tersebut juga hadir dalam bentuk yang tidak terlihat di neraca kas negara. PTFI selama bertahun-tahun menjadi salah satu wajib pajak terbesar di Indonesia, menyerap ribuan tenaga kerja, memesan barang dan jasa dari perusahaan lokal, serta mengucurkan dana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi komunitas di Papua yang tinggal di sekitar tambang.
Babak Baru Kepemilikan Nasional
Babak terpenting dalam sejarah 59 tahun Freeport di Indonesia mungkin terjadi pada 2018. Saat itu, saham mayoritas PTFI sebesar 51,23 persen resmi beralih ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), yang kemudian menjadi bagian dari holding BUMN pertambangan MIND ID. Langkah tersebut mengakhiri dominasi asing atas tambang Grasberg setelah lebih dari setengah abad. Seiring peralihan kepemilikan, status perusahaan pun berubah dari kontrak karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus, dengan perpanjangan operasi hingga 2041 dan opsi perpanjangan dua dekade berikutnya.
Divestasi itu bukan sekadar perubahan struktur saham. Pemerintah memperoleh kendali strategis atas salah satu aset tambang emas terbesar di dunia, sementara keuntungan dari operasi Grasberg kini turut dinikmati langsung sebagai dividen oleh negara selaku pemegang saham pengendali.
Hilirisasi dan Tantangan Masa Depan
Memasuki dekade ketujuh operasinya, PTFI dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah. Salah satunya adalah kewajiban hilirisasi, yang dijawab perusahaan dengan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga di Gresik, Jawa Timur. Smelter tersebut dirancang untuk mengolah produksi konsentrat di dalam negeri, menghentikan praktik ekspor bijih mentah yang selama puluhan tahun menjadi titik kritik publik.
Di sisi lain, transisi energi global justru membuka peluang baru. Permintaan tembaga diproyeksikan melonjak seiring pertumbuhan kendaraan listrik, jaringan listrik, dan infrastruktur energi terbarukan. Dengan cadangan yang masih tersisa dan dukungan teknologi penambangan bawah tanah, Grasberg dinilai masih relevan untuk memenuhi kebutuhan mineral kritis dunia.
Enam dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah perusahaan tambang. Bagi Freeport, 59 tahun di Indonesia adalah catatan panjang tentang bagaimana sumber daya alam diubah menjadi penerimaan negara, lapangan kerja, dan pembangunan. Pertanyaannya kini bukan lagi berapa lama perusahaan itu bertahan, melainkan bagaimana warisan tambang raksasa ini dikelola agar tetap memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Comments (0)