162 Keluarga di Keranggan Tangsel Krisis Air Akibat Kemarau Panjang
Krisis Melanda PerkampunganKemarau berkepanjangan yang menerjang sebagian wilayah Banten telah mendorong warga Kelurahan Keranggan, Tangerang Selatan, ke dalam situasi darurat. Badan Penanggulangan Be...
Krisis Melanda Perkampungan
Kemarau berkepanjangan yang menerjang sebagian wilayah Banten telah mendorong warga Kelurahan Keranggan, Tangerang Selatan, ke dalam situasi darurat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengonfirmasi bahwa sebanyak 162 kepala keluarga (KK) di kawasan tersebut kini sangat bergantung pada bantuan air bersih lantaran sumber air alami dan sumur-sumur dangkal milik warga telah mengering total. Angka ini diprediksi bisa terus meningkat seiring dengan belum adanya tanda-tanda hujan dalam beberapa pekan mendatang.
Tim pendataan BPBD yang menyisir langsung permukiman mencatat, mayoritas rumah tangga terdampak berada di area perbukitan kapur yang selama ini memang rentan terhadap fluktuasi ketersediaan air tanah. Namun, tahun ini situasi dinilai terburuk dalam satu dekade terakhir karena intensitas panas yang lebih tinggi dan durasi kemarau yang melebihi pola musiman biasa. Tanah-tanah retak terhampar di sekitar pemukiman, sementara bak-bak penampungan pribadi hanya menyisakan endapan lumpur di dasarnya.
Distribusi Darurat Digencarkan
Menanggapi laporan warganya yang kian mendesak, BPBD Kota Tangerang Selatan mengerahkan armada tangki air ke titik-titik prioritas. Rata-rata, setiap keluarga menerima jatah air bersih antara 40 hingga 60 liter per hari, jumlah yang hanya cukup untuk keperluan minum dan memasak, namun jauh dari ideal untuk sanitasi. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD setempat, melalui rilis resminya, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan sejumlah LSM lokal guna menambah kapasitas distribusi. "Kami berusaha agar tidak ada warga yang harus berjalan lebih dari 500 meter untuk mendapatkan air," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Selain pengiriman reguler, posko lapangan didirikan di balai kelurahan untuk memudahkan warga melaporkan perubahan kebutuhan. Relawan dari komunitas pemuda turut dilibatkan untuk membantu lansia dan keluarga dengan anggota difabel yang kesulitan mengangkut jeriken. Meskipun demikian, antrean panjang di titik-titik distribusi menjadi pemandangan rutin setiap pagi dan petang, menandakan betapa kronisnya masalah ini.
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Kelangkaan air tidak hanya mengganggu kebutuhan dasar, melainkan memicu gelombang persoalan turunan. Di bidang kesehatan, Puskesmas Keranggan melaporkan peningkatan kasus diare ringan dan gatal-gatal akibat konsumsi air tidak higienis. Sebagian warga yang terpaksa memanfaatkan sisa air dari sumber yang tidak terjamin kualitasnya berisiko terpapar bakteri E. coli dan patogen lain. Tenaga kesehatan setempat mengimbau agar air bantuan tetap dimasak hingga mendidih sebelum digunakan, sekalipun BPBD memastikan air yang disalurkan telah melalui proses klorinasi dasar.
Dari sisi ekonomi, para petani pekarangan yang menggantungkan hidup pada tanaman hortikultura musiman mulai merugi. Tanaman cabai, tomat, dan sayur mayur yang menjadi tambahan pendapatan ibu-ibu rumah tangga layu sebelum sempat dipanen. Sementara itu, pengeluaran rumah tangga membengkak karena sebagian keluarga terpaksa membeli air kemasan atau mengeluarkan biaya transportasi untuk mencari sumber alternatif di desa tetangga. Situasi ini memberatkan warga yang rata-rata bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tidak menentu.
Penyebab dan Konteks Lingkungan
Pengamat lingkungan dari universitas lokal menilai, fenomena ini bukan sekadar anomali iklim, melainkan diperparah oleh berkurangnya daerah resapan di sekitar Tangerang Selatan. Alih fungsi lahan menjadi perumahan dan kawasan niaga membuat air hujan tidak sempat meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir ke saluran drainase. Akibatnya, kawasan seperti Keranggan yang berada di topografi lebih tinggi kehilangan kemampuan aquifer dangkalnya untuk pulih. Kepadatan bangunan juga turut mempersempit ruang bagi sumur-sumur baru yang bisa menjangkau lapisan air lebih dalam.
Meski pemerintah kota telah memiliki program pipanisasi dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kerta Raharja, cakupan layanan di wilayah pinggiran seperti Keranggan masih terbatas. Banyak rumah yang belum tersambung jaringan akibat kendala teknis dan administratif. Kekeringan kali ini pun menjadi panggilan bagi pemangku kebijakan untuk mempercepat perluasan akses air bersih secara permanen.
Langkah Jangka Menengah dan Harapan
BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai menjajaki opsi pengeboran sumur dalam sebagai solusi jangka menengah. Dua titik telah diusulkan untuk dibangun sumur artesis yang mampu mencukupi kebutuhan hingga 300 KK. Jika studi geolistrik tidak menemukan kendala, proyek ini ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan. Selain itu, gerakan menampung air hujan dengan rainwater harvesting disosialisasikan melalui kelompok-kelompok dasawisma, dengan harapan warga bisa lebih mandiri ketika musim kemarau berikutnya tiba.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan peralihan musim baru akan terjadi pada awal November, sehingga Keranggan dan sekitarnya harus bersiap menghadapi setidaknya enam pekan lagi tanpa guyuran hujan yang berarti. Pemerintah kelurahan mengimbau warga untuk tetap tenang namun waspada, serta mengoptimalkan penggunaan air seefisien mungkin. Doa dan ikhtiar bersama menggema di setiap sudut kampung, berharap langit segera menurunkan berkahnya bagi 162 keluarga yang tengah berjuang melawan kemarau terberat ini.
Comments (0)