11 Saksi Diperiksa Terkait Kematian Satpam Ditemukan Terborgol di Waduk Jatiluhur
Investigasi atas kematian seorang petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terus bergulir. Korban bernama Sumarna (45) ditemukan tewas mengapung di perairan waduk dalam kondi...
Investigasi atas kematian seorang petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terus bergulir. Korban bernama Sumarna (45) ditemukan tewas mengapung di perairan waduk dalam kondisi tangan diborgol, Rabu dini hari pekan lalu. Hingga kini, polisi telah memintai keterangan 11 orang saksi untuk mengungkap tabir misteri di balik insiden tragis tersebut.
Penemuan jasad Sumarna sontak menggegerkan warga sekitar yang kesehariannya bergantung pada aktivitas waduk terbesar di Jawa Barat itu. Sejumlah saksi yang dimintai keterangan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari rekan kerja korban sesama satpam, keluarga dekat, hingga warga yang pertama kali menyaksikan jasad tersebut muncul di permukaan air.
Kronologi Penemuan Mayat
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, peristiwa bermula ketika seorang nelayan bernama Sutrisno (52) sedang menebar jala di dekat pintu air sisi timur waduk. Sekitar pukul 03.30 WIB, ia melihat bayangan benda besar mengambang. Setelah didekati, Sutrisno kaget bukan kepalang saat menyadari itu adalah tubuh manusia. Ia segera memanggil rekannya dan melapor ke pos keamanan setempat.
Petugas dari Polsek Jatiluhur yang tiba di lokasi langsung melakukan evakuasi. Saat diangkat, kondisi jenazah sudah membengkak dan diperkirakan telah berada di dalam air setidaknya selama 8 hingga 12 jam. Yang paling mengkhawatirkan, kedua tangan korban terlihat terikat dengan borgol berwarna perak. Temuan ini langsung meningkatkan status penyelidikan ke arah dugaan tindak pidana.
Pemeriksaan 11 Saksi
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP Dedi Hartono, dalam konferensi persnya mengungkapkan bahwa pihaknya telah memeriksa seluruh saksi kunci. "Kami sudah memintai keterangan dari 11 orang saksi. Mereka terdiri dari empat rekan kerja korban, dua anggota keluarga, tiga warga yang pertama kali melihat, dan dua orang lain yang memiliki interaksi dengan korban di jam-jam terakhir sebelum hilang," ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui Sumarna terakhir kali terlihat oleh rekan kerjanya pada Selasa sore sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu ia sedang berjaga di pos pengamanan utama. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan, dan korban masih sempat berbincang ringan. Namun ketika rekannya yang bertugas malam datang untuk serah terima, Sumarna sudah tidak berada di pos. Ponselnya juga tidak aktif.
Polisi juga memeriksa dua orang yang diduga memiliki riwayat pertengkaran kecil dengan korban beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, AKP Dedi menegaskan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. "Kami masih mendalami dan mengumpulkan barang bukti tambahan. Semua keterangan saksi akan kami cocokkan dengan bukti forensik," tambahnya.
Kejanggalan di Balik Borgol
Keberadaan borgol di tangan korban menjadi teka-teki utama. Polisi masih menyelidiki asal-usul borgol tersebut. Menurut keterangan beberapa saksi, borgol itu bukanlah perlengkapan standar satpam waduk. Pihak manajemen pengelola waduk menyatakan bahwa petugas keamanan hanya dibekali tongkat dan senter, tanpa borgol. Hal ini memunculkan dugaan bahwa borgol tersebut dibawa oleh pelaku atau berasal dari pihak lain.
Tim forensik telah mengambil sampel sidik jari dari borgol, tetapi hasilnya belum diumumkan. Polisi juga mendalami kemungkinan bahwa borgol itu adalah borgol palsu yang mudah dibeli secara bebas. "Kami sedang menelusuri toko-toko perlengkapan keamanan di sekitar Purwakarta dan Cikampek untuk mencocokkan jenis borgol," kata Dedi.
Kondisi Korban dan Dugaan Penyebab Kematian
Hasil autopsi sementara dari RSUD Bayu Asih menunjukkan bahwa korban mengalami luka lebam di bagian kepala dan leher, yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Selain itu, paru-paru korban mengandung air, mengindikasikan bahwa ia masih bernapas saat masuk ke dalam air. Hal ini mengarah pada dugaan bahwa Sumarna tenggelam dalam keadaan hidup setelah mengalami penganiayaan.
Namun, polisi belum bisa memastikan apakah luka di kepala menjadi penyebab utama kematian atau hanya bagian dari serangkaian kekerasan. Sampel jaringan telah dikirim ke laboratorium forensik Polda Jawa Barat untuk analisis lebih lanjut, termasuk tes toksikologi.
Duka Keluarga dan Tuntutan Keadilan
Sementara itu, keluarga korban di Kampung Cilangkap, Desa Jatimekar, masih diliputi duka mendalam. Istri korban, Neneng (40), tak kuasa menahan tangis saat ditemui di rumahnya. "Suami saya orang baik, tidak pernah punya musuh. Saya tidak habis pikir kenapa harus seperti ini," ucapnya terbata-bata. Ia berharap polisi segera menangkap pelaku dan mengusut tuntas kasus ini.
Sumarna meninggalkan dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah. Warga sekitar pun menggelar doa bersama dan menuntut agar keamanan di sekitar waduk ditingkatkan. Mereka menilai, selama ini area waduk yang luas dan minim penerangan rawan tindak kejahatan.
Langkah Polisi Selanjutnya
Polres Purwakarta berjanji akan terus bekerja keras mengungkap kasus ini. AKP Dedi menyebut pihaknya akan melakukan rekonstruksi kejadian dengan melibatkan para saksi, serta memeriksa rekaman CCTV dari beberapa titik di sekitar waduk, meski ketersediaan kamera di sana sangat terbatas. Polisi juga membuka hotline pengaduan bagi warga yang memiliki informasi relevan.
Kasus kematian satpam Waduk Jatiluhur ini menjadi perhatian publik dan media. Banyak pihak mendesak agar polisi transparan dan cepat dalam mengungkap fakta. "Kami berkomitmen bahwa kasus ini akan kami ungkap secara profesional. Tidak ada yang ditutup-tutupi," pungkas Dedi. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung, dan aparat berharap dalam waktu dekat akan ada titik terang.
Comments (0)